Guru: Honor Bosda di Matim Hanya Dibagi ke Keluarga Dekat Kadis PPO dan Pejabat Pemda

1
1711
Ilustrasi
Ilustrasi

Borong, Floresa.co – Pembagian honor para guru komite dari dana Bos Daerah (Bosda) di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur diduga sarat nepotisme.

Pasalnya, Bosda yang diberikan melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) itu dilaporkan hanya diberikan ke keluarga kepala dinas dan pejabat di Pemda Matim.

Sebagian Guru mengeluh tidak mendapatkan dana yang bersumber dari APBD tahun 2015 tersebut.

Padahal, guru-guru komite tersebut sudah memenuhi standar kriteria penerimaan Bosda. Bahkan, pada tahun sebelumnya, mereka pernah menerima dana tersebut.

Dony Hasma, salah satu guru penerima Bosda mengatakan kepada Floresa.co melalui telepon, Senin (6/7/2015), dana yang seharusnya diberikan kepada guru-guru komite dengan total Rp. 400.000 per bulan hanya diberikan kepada keluarga terdekat Kadis PPO Frederika Soch dan pejabat di Pemda Matim.

Dony yang saat ini sedang mengajar di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Borong mengaku, dirinya sudah mengabdikan diri dan mengajar sejak tahun 2013 lalu. Namun, tahun 2015 namanya tidak masuk dalam daftar guru penerima dana Bosda.

Ia mengaku, beberapa kali dirinya menyampaikan hal itu kepada Dinas PPO, namun tidak ada jawaban resmi.

Staf di Dinas PPO, kata dia, hanya beralasan karena data dari sekolah tempat Dony mengajar tidak dimasukan ke dinas itu.

Padahal, setelah dicek, kata Dony, namanya sudah masuk dalam data penerimaan dana Bosda Tahun 2015 ini.

Menurut dia, ada guru komite di sekolah lain masih menerima lantaran ada orang dalam di Dinas PPO Matim.

“Saya sudah beberapa kali datang ke Dinas PPO. namun jawaban mereka, hanya tunggu saja, nanti akan diinformasikan,” aku Dony.

Dia menambahkan, data penerima dana Bosda di PPO Matim dinilai tebang pilih.

Sebab, banyak data yang sarat manipulasi dengan mengeluarkan nama guru yang sudah terdaftar sebelumnya, dan diganti dengan guru yang masih memiliki hubungan dengan Kadis PPO dan para pejabar.

Salah seorang guru komite di Matim yang enggan menyebutkan namanya mengatakan kepada Floresa.co beberapa waktu lalu, di sekolahnya penerima Bosda tahun ini adalah guru yang sudah lama meninggalkan sekolah.

Padahal, di sekolah tersebut masih banyak guru komite yang belum menerima Bosda.

Hingga berita ini diturunkan, Floresa.co belum bisa mendapat tanggapan dari Kadis PPO Matim, berhubung nomornya belum bisa dihubungi. (Ardy Abba/ARL/Floresa)

Advertisement

1 Komentar

  1. #save Pendidikan
    maraknya kasus-kasus yang terjadi belakangan ini khususnya diManggarai Timur,ini mengindikasikan bawasannya kabupaten ini maih berada dipusaran lingkaran mafia-mafia yang terstruktur dan trorganisir.sampai kapan semuanya ini berakir.usut tuntas kasus ini hingga pada pencopotan kepala dinas PPO Matim….

    #STOP MAFIA PENDIDIKAN
    WUJUDKAN PENDIDIKAN YANG DEMOKRATIS SESUAI AMANAH UUD 1945

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini