Ini Penjelasan Uskup Ruteng Terkait Sikap Netral Gereja dalam Pilkada

0
791

 

Uskup Ruteng, Mgr Hubert Leteng Pr
Uskup Ruteng, Mgr Hubert Leteng Pr

Borong, Floresa.co – Dalam sejumlah kesempatan, Mgr Huber Leteng Pr menegaskan, Gereja Keuskupan Ruteng-Flores akan mengambil sikap netral dalam Pilkada tahun ini.

Dua kabupaten yang masuk dalam wilayah kegembalaanya, yaitu Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat (Mabar) akan menggelar Pilkada serentak pada 9 Desember mendatang.

Pilihan sikap Gereja itu mendapat beragam reaksi. Ada yang menganggap itu sebagai pilihan ideal, agar Gereja terhindar dari pergolakan sosial akibat persaingan dalam Pilkada. Namun, ada pula yang menyebut pilihan netral sebagai hal yang keliru.

Salah satu bakal calon bupati Manggarai Florianus Sp Sangsun misalnya mengatakan kepada Floresa.co Mei lalu, desakan untuk netral memang baik tetapi itu tidak cukup dan hanya tepat bila diarahkan untuk internal hierarki Gereja.

Melampaui pilihan sikap netral itu, Gereja, kata Flori, diharapkan untuk membuat kriteria calon bupati dan wakil bupati yang layak didukung dalam Pilkada 9 Desember mendatang.

BACA: Flori Sangsun: Hadapi Pilkada, Gereja Tak Bisa Netral

Lantas, apa sebenarnya maksud Leteng menyebut mengambil sikap netral.

Ketika Floresa.co menemui uskup kelahiran Ruteng ini di Mbeling, Kecamatan Borong pada akhir pekan lalu, ia mengatakan, sikap netral yang dimaksud adalah mendukung siapapun yang akan terpilih menjadi pemimpin.

“Netral dalam arti kita dukung siapa saja yang jadi pemimpin, kita dukung”, jelas Leteng usai Misa syukuran 25 tahun imamat Pater Goris Jehaus, SVD di Paroki St. Antonius Mbeling, pada Jumad, (3/7/2015).

Ia menjelaskan Gereja berupaya mengambil jarak dari upaya mengambil sikap dengan menyatakan bahwa calon tertentu yang layak dipilih, lalu calon lain tidak.

Meski mengambil jalan demikian, kata, dia, Gereja tetap akan menetapkan panduan yang menjadi pegangan dalam menentukan calon pemimpin di Pilkada mendatang.

Masyarakakat, kata dia, akan diarahkan untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan harapan masyarakat secara keseluruhan dan Gereja khususnya.

“Pasti ada panduan moral dan spiritual, tetapi tidak ekskusif,” katanya.

“Secara moral kita memberikan panduan-panduan supaya masyarakat memilih sesuai harapan masyarakat dan gereja”, tegas Leteng. (Yulianus Arrio/ARL/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini