Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan sedang memegang putak (Foto: Kompas.com)
Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan sedang memegang putak (Foto: Kompas.com)
Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan sedang memegang putak (Foto: Kompas.com)

Kupang, Floresa.co – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Kupang mengecam pemberitaan media yang menyebut warga Nusa Tenggara Rimur (NTT) makan pakan ternak akibat gagal panen.

Sebagaimana gencar diberitakan baru-baru ini, masyarakat di Kecamatan Kualin dan Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) terpaksa makan putak, yang oleh banyak media dianggap sebagai makanan ternak.

Menurut Ketua GMNI Cabang Kupang, Elvis Jehama, untuk konteks masyarakat NTT, putak tidak bisa disejajarkan dengan makanan ternak.

Putak, kata dia, merupakan salah satu makanan lokal NTT yang sejajar dengan ubi, keladi, sagu, jagung, petatas, sorgum dan umbi-umbian lainnya.

“Dengan menyebut putak sebagai makanan ternak, secara tidak langsung media sedang mereduksi makna hakiki putak sebagai makanan lokal dan mensejajarkan orang NTT dengan ternak,” katanya kepada Floresa.co, Kamis (2/7/2015).

Elvis menegaskan, kelaparan adalah realitas yang tidak terbantahkan di NTT dan mereka mengakui itu.

“Namun ketika menyebut masyarakat NTT makan putak yang adalah makanan ternak, bagi kami itu merupakan salah satu kejahatan media yang mengkerdilkan orang NTT dan makanan lokalnya,” katanya.

Ia mengatakan, sebelum beras menjadi makanan nasional dan lokal, putak adalah makanan wajib orang NTT seperti jagung dan umbi-umbian.

“Politik makanan yang dimulai dari pemerintahan orde baru sampai sekarang ini merupakan bentuk penyeragaman total makanan-makanan lokal menjadi satu jenis makanan wajib yakni beras,” jelas Elvis.

“Situasi yang terjadi sebenarnya adalah ketiadaan beras yang menimbulkan kelaparan, bukan ketiadaan makanan.”

Namun, menurut dia, menyebut bahwa warga NTT memakan makanan ternak berlebihan.

“Kami membayangkan bahwa kami yang di NTT sekarang ini sedang berada dalam situasi darurat dan kritis. Memakan makanan ternak bisa saja disejajarkan makan bersama ternak atau juga merebut makanan dari ternak,” katanya.

Disamping protes kepada media, GMNI Kupang juga mendesak  pemerintah di NTT agar kembali membudidayakan makanan lokal sebagai basis pertahanan pangan.

“Makanan lokal merupakan salah satu senis kearifan lokal yang bisa mengatasi kerawanan pangan di NTT,” kata ELvis.

Di daerah NTT, jelasnya, terdapat beragam jenis makanan, namun, karena tidak dibudidayakan akhirnya punah bahkan cenderung dilabelkan sebagai makanan tradisional, klasik, kuno dan  tidak bermartabat.

GMNI menilai, masalah gagal oanen yang terjadi baru-baru ini menjadi refleksi kritis bagi pemerintah lokal maupun nasional bahwa beras bukan satu-satunya makanan.

“Ketiadaan beras tidak berarti ketiadaan makanan. Dominasi serta ketergantungan terhadap beras membuat kita lupa untuk menghidupkan kembali makanan lokal yang justru telah melahirkan banyak orang cerdas dari NTT pada zaman dulu,” katanya. (Irvan/ARL/Floresa)