Warga NTT Disebut Makan Pakan Ternak, GMNI Kecam Media

4
621
Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan sedang memegang putak (Foto: Kompas.com)
Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan sedang memegang putak (Foto: Kompas.com)
Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan sedang memegang putak (Foto: Kompas.com)

Kupang, Floresa.co – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Kupang mengecam pemberitaan media yang menyebut warga Nusa Tenggara Rimur (NTT) makan pakan ternak akibat gagal panen.

Sebagaimana gencar diberitakan baru-baru ini, masyarakat di Kecamatan Kualin dan Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) terpaksa makan putak, yang oleh banyak media dianggap sebagai makanan ternak.

Menurut Ketua GMNI Cabang Kupang, Elvis Jehama, untuk konteks masyarakat NTT, putak tidak bisa disejajarkan dengan makanan ternak.

Putak, kata dia, merupakan salah satu makanan lokal NTT yang sejajar dengan ubi, keladi, sagu, jagung, petatas, sorgum dan umbi-umbian lainnya.

“Dengan menyebut putak sebagai makanan ternak, secara tidak langsung media sedang mereduksi makna hakiki putak sebagai makanan lokal dan mensejajarkan orang NTT dengan ternak,” katanya kepada Floresa.co, Kamis (2/7/2015).

Elvis menegaskan, kelaparan adalah realitas yang tidak terbantahkan di NTT dan mereka mengakui itu.

“Namun ketika menyebut masyarakat NTT makan putak yang adalah makanan ternak, bagi kami itu merupakan salah satu kejahatan media yang mengkerdilkan orang NTT dan makanan lokalnya,” katanya.

Ia mengatakan, sebelum beras menjadi makanan nasional dan lokal, putak adalah makanan wajib orang NTT seperti jagung dan umbi-umbian.

“Politik makanan yang dimulai dari pemerintahan orde baru sampai sekarang ini merupakan bentuk penyeragaman total makanan-makanan lokal menjadi satu jenis makanan wajib yakni beras,” jelas Elvis.

“Situasi yang terjadi sebenarnya adalah ketiadaan beras yang menimbulkan kelaparan, bukan ketiadaan makanan.”

Namun, menurut dia, menyebut bahwa warga NTT memakan makanan ternak berlebihan.

“Kami membayangkan bahwa kami yang di NTT sekarang ini sedang berada dalam situasi darurat dan kritis. Memakan makanan ternak bisa saja disejajarkan makan bersama ternak atau juga merebut makanan dari ternak,” katanya.

Disamping protes kepada media, GMNI Kupang juga mendesak  pemerintah di NTT agar kembali membudidayakan makanan lokal sebagai basis pertahanan pangan.

“Makanan lokal merupakan salah satu senis kearifan lokal yang bisa mengatasi kerawanan pangan di NTT,” kata ELvis.

Di daerah NTT, jelasnya, terdapat beragam jenis makanan, namun, karena tidak dibudidayakan akhirnya punah bahkan cenderung dilabelkan sebagai makanan tradisional, klasik, kuno dan  tidak bermartabat.

GMNI menilai, masalah gagal oanen yang terjadi baru-baru ini menjadi refleksi kritis bagi pemerintah lokal maupun nasional bahwa beras bukan satu-satunya makanan.

“Ketiadaan beras tidak berarti ketiadaan makanan. Dominasi serta ketergantungan terhadap beras membuat kita lupa untuk menghidupkan kembali makanan lokal yang justru telah melahirkan banyak orang cerdas dari NTT pada zaman dulu,” katanya. (Irvan/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

4 Komentar

  1. Klu ketua GMNi bilang itu bkan makanan ternak lantas makanan utk siapa….krena utk diketahui bahwa Putak itu sangat beracun bila tidak diolah secara hati2 dan butuh proses yg lama….anda mesti sadari bahwa Putak tidak pantas utk dimakan oleh manusia kecuali utk babi hutan….dan sejarah pangan lokal kita tdk tercantum salah satunya putak atau dlm bahasa manggarainya Raut….jman dahulu org manggarai berani makan putak atw Raut karena mmng makanan berupa umbi2an dan jagung aplg beras benar2 tidk ada…mkanya mau tdk mau makan putak tersebut…anda jgn mencela media yg memberitakan trsebut krena memang kenyataanya dmikian…bnyk rakyat kita yg kelaparan dan makan makanan babi hutan…masa anda katakan media berlebihan celakanya lagi anda seorang akademisi menggolongkan ubi hutan makanan babi hutan kedlam kelompok ubi tatas..ubi jalar..keladi yg slama ini dimakan manusia sbg panganan lokal…klu mmng anda merasa bhwa Putak atw Raut makanan lokal kita seperti ubi2 yg lain pertanyaanya apakah slma ini putak dihidangkan sperti umbi2 lain stiap hari dirumah kita masing2…kan tidak…bahkan anda yg mengkritik media pun tidak akan mau makan Putak atw Raut klu dihidangkan oleh org tua anda…jdi anda jgn sekedar berasumsi saja…yg anda wajib lakukan yaitu kritik pemetintah yg menutup matanya melihat rakyatnya yg makan makanan babi hutan tapi mereka bersuka ria diatas mobil mewah…bahkan utk makan n minum dirumah jabatan pun diambil dari saudara2 kita yg skrg makan putak pula….

  2. Putat iTu makanan local dan beda dgn raut yg di manggarai . Saya laHir Dan besar di tanah timor. berdasarkan pengakuan teman2 saya, putak itu makanan yg sering mereka makan tapi skrg bukan makanan utama lagi karena ada beras.Bahkan di beberapa tempat di daerah timor diolah jadi makanan ringan. Media terlalu melabuhkan masalah ini bahkan jauh dr realitas sbnarnya. Pemerintah juga tidak melihat makanan lokal sbg basis perjalanan rawan pangan. Keamanan pangan adalah bukti kegagalan pemerintah.

  3. Ibu Titin media tu memuat berita tujuanya utk membuka mata pemerintah akan kesusahan msyrakatnya…bkanya mau membela media tpi mmng kenyataanya bgt…pemerintah bgt buta dgn kelaparan di tngah2 msyarakatnya…saya 7 tahun jg di tanah timor ibu titin jadi saya tau jga apa itu putak…sama sperti raut di manggarai…skrg saya tnya ibu Titin urutan ke berapakah Putak tu dlm daftar pangan lokal NTT…apa ibu Titin pernah makan tu putak…atw ibu Titin prnh melihat proses pengolahan putak smpe siap disajikan….spy ibu tau Putak tu prosesnya sama sperti proses pengolahan raut di manggarai jdi bgt naif jg argument yg ibu kemukakan…klu ibu salah satu mahasiswa dan kebetulan aktifis jg yg harus ibu teriakan mngapa pemerintah membiarkan rakyatnya kelaparan dan makan ubi hutan alias putak utk mempertahankan hidup…kita fer saja ibu…knpa rakyat di Timor sana mkan Putak..krena mmng ubi2 yg lain..jagung aplg beras mmng sdah tdk ada lgi…mau tdk mau suka tdk suka ya mkan putak utk brthan hidup..apakah kondisi ini yg bukan kelaparan mnrut hemat ibu…mnurut saya hnya media alat kontrol sosial yg pling ampuh skrg buat pemerintah…krena pemerintah skrg sdah tidk peduli dgn rkyatnya lgi…pemerintah lbh berambisi bngun hotel di Pede ketimbang menoleh sdkit dgn rakyatnya yg mkan ubi hutan….

  4. Mmg betul bhw media alat kontrol sosial yg pling ampuh skrg utk pemerintah.Nmun pemberitaan ttg rawan pangan diTTS dan mengkonsumsi putak yg disebut sbg makanan ternak sgt tdk realistis. Putak dsbut
    sbg makanan ternak adlh sbuah missleading bsar dlm pmberitaan media yg hrs
    diluruskan. Media brkewajiban mminta maaf atas pmberitaan yg menyesatkan sprti itu. Putak
    mmang sring dberikn kpd ternak tp putak jg tlah dkonsumsi msyarakat sejak dhlu.. Putak jg adlh pangan lokal yg dlm kxtaanx hxa mnd pangan
    alternative. Wlaupun sdh dkonsumsi sjak lama,psisi putak dlm prioritas pangan mnjadi posi2 ksekian klw tdk mw dktkn dposi2 trakhir. Ini krn relative sulitx proses
    pmbuatan & lamax waktu utk mmproduksi putak mnjadi mkanan. Ksulitan ini mmbuat putak tdk dpoduksi scara
    massal/dlam jmlah yg bxk.. mmbuat putak brarti mnebang sbuah pohon gewang dwasa. Putak hx akan mnjd alternative dr pangan yg populer sprti jagung/beras,atw dproduksi sbgtambahan. Kalau masalah ini diddukkan scara benar, tdak akan ada hrga diri yg terkoyak
    krena merasa putak tlah dihinakan mnjdi mkanan ternak. Slain itu, tdak akan ada
    pngingkaran trhadap kxtaan bhw msyarakat mmang mngalami ksulitan pangan.pemberitaan media yg mnyesatkn bhw putak
    adlh makanan ternak tdk dgn sndirix mnghapuskan kextaan bhw masyarakat ksulitan pangan. Jgnlah prsoalan harga diri, prsoalan khilangan muka mnutupi substansi
    persoalan yg sebenarx…
    Pgingkaran trhadap kextaan ini bs dilakukan 2 pihak. Prtama2 oleh pnguasa yg tkut khilangan muka & yg kedua oleh msyrkt sndru msalx yg mrasa dhina krn alsn putak bkn makanan ternak.
    Bahkn ktika berita ini mrebak, Mentri Pertanian jg brusaha mluruskan bhw putak itu
    bukan makanan ternak. . Bgtupun netizen di dunia maya yg marah2 & sinis trhadap ksalahan pmberitaan ini. Sbstansi pnolakanx sama, tp prhatian yg dfokuskn pd ksalahan gramatikal ini mbuat
    prsoalan utma diabaikan.
    Tdk prlu mnjadi sarjana prtanian utk mngerti bhw dlm msyarakat subsisten,hmpr stiap tahun adlah klaparan. Jadi jgnlah menegasikan bahwa bxk petani di kampung tdk lpr.
    Kita sdiri yg marah/brkomentar,klw dsuruh makan putak stiap hr pasti tdak akan mw. Bukan krn putak krang brgizi/krang enak. Silakan kk bca hasil pnnelitian IPB, kandungan karbohidrat putak 84,63 gram, lbih dr beras yg cuma 76,9
    gram. Bahkan kmarin ketua DPR RI buka puasa dgan putak. Mmg makanan pokok kita stiap hr bkan putak krn kita terbiasa utk makan nasi/jagung. Jd
    mari kita sdikit ‘wise’ sj… Ada bxk org dibwah sana ksulitan mkan & mungkin trs
    bergumul dgn apa yg hrs mereka makan bsok pg. Prhatian mmg hrs dberikan. Jgan biarkn
    para politisi rebut panggung utk mencari popularitas. Mari kita tlg mrka yg membutuhkan tnpa hrd brdebat apakah
    mreka lapar/tidak…. sekian kk

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini