Gasa yang Juga Gagal, Namun Enggan Mengaku

3
928

Hironimus EdisonOleh: HIRONIMUS EDISON

Awal Juni lalu, tepatnya tanggal 4, Floresa.co melansir berita menarik terkait pernyataan Maksimus Gasa, Wakil Bupati Manggarai Barat (Mabar). Dalam berita itu, ia menyebut pembangunan parwisata sebagai leading sector untuk Mabar masih sebatas retorika.

Ia pun menyatakan dengan yakin bahwa situasi akan berubah bila Gasa yang kini menjadi salah satu calon bupati, terpilih pada Pilkada 9 Desember mendatang.

Pernyataan itu menarik, karena mengandung keanehan, sekaligus mengundang beragam pertanyaan.

Aneh bahwa pernyataan itu dikeluarkan dari mulut seseorang yang memiliki kekuasaan dan juga jabatan di Mabar, setidaknya selama lima tahun terakhir.

Saya tidak tahu apakah pernyataan itu diungkapkan Gasa dalam kapasitasnya sebagai orang nomor dua di Mabar ataukah sebagai pengamat yang akan maju dalam Pilkada Mabar nantinya.

Seandainya ia mengatakan hal itu dalam kapasitasnya sebagai orang nomor dua di Mabar maka secara tidak langsung ia mengakui dirinya sebagai seorang yang gagal dalam membangun Mabar selama ini.

Sebagai wakil bupati, Gasa sebenarnya bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya itu. Sayangnya, ia menjadikan kegagalan di masa lalunya itu sebagai proyek yang akan dan harus diwujudkan nantinya jika terpilih sebagai bupati.

Guna mendukung idenya itu, ia mengatakan, “Apabila saya terpilih menjadi bupati Mabar, saya berencana membenahi pariwisata sebagai leading sector dengan cara membangun infrastruktur yang berkualitas yang bisa membuat wisatawan betah dan ingin tinggal di Mabar.” (Floresa.co, Rabu [3/6/2015]).

Dari pernyataan demikian, dapat diajukan beberapa pertanyaan berikut: sebagai wakil bupati, apakah yang telah ia lakukan selama ini? Bukankah ia punya kekuasaan dan wewenang yang sangat besar untuk mewujudnyatakan pembangunan infrastruktur?

Fakta menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur seakan berjalan di tempat. Hal  itu juga menyentuh bidang pariwisata.

Andai saja ia beralasan bahwa dirinya hanya wakil bupati, namun, persoalannya bukan terletak pada keterbatasan kekuasaan sebab sebagai penguasa yang dipilih secara langsung oleh rakyat, Gasa dalam dirinya sendiri sudah memikul tanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan dalam segala dimensi pembangunan.

Tentu tidak mudah, tetapi yang utama ialah pembangunan infrastrukutur sebagaimana yang ia sendiri tekankan. Bersama Bupati Agustinus Ch. Dula, ia sudah semestinya mampu menjadikan Mabar sebagai daerah yang sejahtera.

Secara kasat mata kita bisa melihat betapa buruknya pelaksanaan pembangunan di Mabar, khususnya berkaitan dengan infrastruktur jalan ke daerah-daerah. Tidak sedikit keluhan yang dilontarkan oleh masyarakat tentang buruknya kinerja pemerintah.

Mesti Ada Perubahan

Karena itu, saya berharap, mereka yang akan bertarung pada Pilkada nanti bukanlah orang-orang yang hanya jado mengumbar janji-janji manis saat kampanye. Rakyat kini menjadi sangat selektif dalam menentukan siapa yang pantas menjadi pengampu pemerintahahan, bukan karena janji-janji yang bombastis tetapi lebih pada kesanggupan untuk membangun Mabar.

Prospek pembangunan untuk Mabar ke depan tentu tidak hanya dimiliki oleh salah satu bakal calon saja. Para bakal calon yang lain juga pasti memiliki proyek andalan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat di satu sisi, serta menjadikan Mabar sebagai daerah yang maju serta terkenal di sisi lain.

Amat disayangkan jika nantinya pembangunan di Mabar hanya sebatas retorika belaka tanpa adanya kerja nyata. Memilih yang gagal pastinya bukanlah hal yang baik demi pembangunan daerah. Sebab, berdiri di atas puing yang runtuh hanya menyisakan kekecewaan dan kegalauan.

Sebagai putera daerah Mabar, saya memiliki sekaligus menaruh harapan bagi mereka yang akan maju dalam Pilkada nanti. Saya berharap, mereka tidak akan lagi tampil sebagai lakon dalam drama ataupun sandiwara yang pandai berakting guna menarik perhatian para penonton.

Mereka hendaknya mengingat bahwa masa kampanye bukanlah ajang untuk bermain sandiwara dengan melemparkan cita-cita dan niat-niat yang bombastis guna membeli hati rakyat.

Sangat disayangkan pula jika nantinya hati rakyat dibeli dengan uang agar bisa memenangi Pilkada. Harapan itu mungkin juga dimiliki oleh rakyat Mabar seluruhnya sebab seluruh warga masyarakat telah lelah melihat sandiwara para pemimpin daerah yang hanya tahu berbicara dan berjanji tetapi tidak pernah mampu mewujudkan cita-cita pembangunan yang bisa membawa kesejahteraan.

Penulis adalah calon imam SMM, sekararang tinggal di Malang, Jawa Timur

Advertisement
BAGIKAN

3 Komentar

  1. Pak maksi mungkin tidak sempat berpikir sebelum bicara..
    Manggarai akan tetap menjadi negeri antah berantah, selama dipimpin oleh si tukang janji & dan yg dipimpinya gampang disumpal dgn uang…
    asa tawa keta kali ga..hahahahaha

  2. Bro Hiro..saya sepakat dgn substansi tulisan ini. Gasa adalah representasi politisi yang opurtunis. Dia sengaja menelanjangkan disparitas pembangunan di Mabar selama ini guna menggaet perhatian rakyat, tetapi tanpa berpikir bahwa pada saat yang sama, dia juga menelanjangkan kegagalannya sendiri..Gasa hanya sekadar mengobral kata rotoris, dan saya berpikir tipikal pemimpin seperti ini yang bisa menjual Mabar nantinya..

  3. kalau bicara soal leading sector yang pertama kita harus tau adalah seberapa banyak income yang msuk ke khas daerah dari sector ini,jujur pajak yang di dapat selama ini merupakan yg paling besar dari semua sector,tp tidak pernah di akui pemerintah,hotel dan resto,sumbangan pihak ke tiga,taman nasional,angkutan wisata bahari tapi di monopoli perhubungan laut yg selalu over target,dan ingat,ini pajak real daerah,tapi semua pihak mengatakan bahwa dari pariwisata pajak cuma no dua setelah pertanian,coba dong KPK turun tuk cari keabsahan berita ini

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini