Oleh: GERARD N. BIBANG

Ketika warta itu tiba bahwa ia akan merayakan 25 tahun imamatnya, saya seperti mendengar kembali sebuah melodi yang tiga dasawarsa lalu nyaring di telinga  tapi kini menjadi sayup-sayup sampai, bahkan hampir tidak terdengar lagi, karena dalam kurun waktu itu, saya sendiri sudah mulai pelan-pelan melupakannya.

Melodi itu terdiri dari dua ayat dan bermuara pada refrein tunggal yaitu keindahan sebagai puncak kebenaran dan kebaikan.  Bahwa apa yang disebut INDAH  itu tak lain adalah satunya kata dan tindak-laku dengan  berbagi, berbaik hati sambil saling memberi ruang kehidupan kepada siapa pun dia: manusia atau bukan manusia.

Ayat Pertama: Bukit Mentari

Di atas bukit ini, di era medio 80-an,  persahabatan kami dirajut selama enam tahun dan melanjutkan lima  tahun sebelumnya di Seminari Pius XII Kisol. Hanya satu hal yang permanen tinggal dalam ingatan saya tentang Frater Kletus.

Yang jelas bukan senyumnya yang selalu mengulum.  Bukan diam dan kurang bicaranya. Bukan kelincahan bek kanan ketika ia bermain sepak bola. Bukan juga khusuk berdoa dan brevirnya tiap hari.

Yang jelas bukan itu semua! Cara belajar Frater Kletus-lah yang saya ingat, yang pada akhirnya harus dikatakan bahwa cara belajar demikian hanya keluar dari sebuah batin yang memiliki  apa yang saya sebut:‘habit of understanding.’

Belajar filsafat bukan perkara mudah. Benar bahwa setiap pemula selalu diberitahu bagaimana mempelajarinya. Tapi yang terjadi, sebaliknya. Banyak dari kami lebih suka memilih jalan pintas:  menghafal dan memantulkan lurus-lurus apa yang sudah dibaca atau yang didengar. Hasilnya juga sulit diprediksi. Bisa lulus, bisa juga her berkali-kali. Untuk Frater Kletus, bukan  begitu  cara belajarnya.

Ia mendengar dan membaca. Lalu ia berusaha memahami dalam arti sekonkrit-konkritnya. Ia menulis tangan dengan kata-katanya sendiri apa yang ia paham. Formulasi tangkapannya itulah yang ia jawab dalam ujian. Alhasil, mulus dan sangat memuaskan.

Bukan sebatas itu. Hasil tangkapannya tidak ia jadikan sebagai properti eksklusif: ini punyaku dan bukan punyamu! Tidak! Ia inklusif. Maka, menjelang ujian, beredarlah formulasi versi Kletus. Sampai-sampai ada di kalangan kami yang bercanda: “Aeh teman, kenapa kau hafal itu barang, bikin pusing kepala saja. Kita tunggu versi Hekong  saja e.” Kami tahu istilah itu. Versi Hekong adalah catatan ringkasan kuliahnya. Yang memegang versi Hekong dijamin lulus.

Jadi, apa yang ada padanya, ia bagikan dengan enteng tanpa prasangka, tanpa arogansi, tanpa merasa lebih. Menurut saya, etos seperti ini hanya mengalir  dari sebuah “habit of understanding” yang ia sendiri latih melalui sikap selalu bersyukur, ikhlas dan tulus dan yang ia ramu menjadi sikap yang rendah hati.

Maka, di bawah  cahaya ‘habit of understanding,’ Frater Kletus lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.  Baginya  Ledalero yang dalam bahasa Sikka berarti Bukit Mentari, pasti indah.  Bukan terutama karena bukit itu selalu hijau. Bukan pula karena bukit itu selalu yang pertama disapa sinar mentari pagi. Melainkan karena ia meyakini konfrater dan penghuni bukit itu adalah pancaran keindahan paripurna dari Sang Sabda.

Begitulah kemudian saya tidak heran ketika ia memilih ‘Apakah engkau mengasihi AKU’ sebagai moto tahbisannya.  Sama sekali tidak heran!  Bagi Frater Kletus, ‘kasih’bukan barang asing. ‘Kasih” sudah lama menjadi darah dan dagingnya.  Maka tak usah heran jika dari tubuhnya mengalir bagai anak sungai watak berbagi dan berbaik hati.

Begitu juga ketika ia kembali studi Hukum Gereja dari Roma dan berprofesi sebagai hakim tribunal gerejani. Watak kasih amat kentara. Dalam banyak kesempatan bertemu di Jakarta, saya selalu mendengar dua terminologi ini dari mulutnya: “berguna untuk orang lain’ dan ‘membebaskan orang.’

Ternyata dua terminologi itu menjadi menjadi nyawa dalam tugas-tugasnya selaku rektor Seminari Tinggi Ledalero. Beberapa konfraternya yang disisihkan, ia ambil dan memberi mereka ruang pengabdian, dengan alasan yang sangat manusiawi, misalnya: “Ke sini saja, Ledalero butuh mereka.”

Contoh lain. Dua peristiwa besar: 75 tahun Seminari Tinggi Ledalero dan 100 tahun SVD di Indonesia. Dua peristiwa ini diakui semua orang sebagai perayaan terbesar sepanjang sejarah SVD di Indonesia, mulus terlaksana karena sentuhan prinsip-prinsip kasihnya.

Saya sendiri melihat belum pernah dalam pesta sebesar itu, awam-awam yang terlibat sungguh tak terkira dan dengan gembira menuntaskan dua peristiwa besar itu. SVD menjadi milik semua yang berkaul dan tidak berkaul.

Kasih juga menyata dalam bidang hukum yang menjadi ladang kompetensinya. Hukum di tangan Pater Kletus bukan lagi barang angker. Palu yang ia ketok di meja hijau bukan untuk mematikan. Pasal-pasal hukum gereja, ia tafsir dalam kebeningan‘habit of understanding’ sehingga hukum benar-benar menjadi sebuah pembebasan.

Ia membebaskan banyak konfrater yang meninggalkan imamat melalui urusan laisasi. Ia membebaskan puluhan bahkan ratusan pasangan perkawinan katolik melalui anulasi. Apa yang dulu mustahil, di tangannya, menjadi mungkin. Dalam dirinya:  hukum untuk manusia. Bukan manusia untuk hukum.

Ayat Kedua:  Motang Puar, Kode, Boncukode

Motang puar berarti  babi hutan. Kode berarti monyet. Boncukode secara harafiah berarti monyet melompat-lompat kegirangan.

Dalam narasi ini, Boncukode adalah nama kampung kelahiran Pater Kletus. Kampung mungil terpencil yang dijepit oleh dua kaki gunung: Watu Likang dan Watu Meca, terletak di Cibal, Manggarai.

Dari kaki dua gunung itu mengalir ke Boncukode bukan hanya air minum melalui Wae Langkok tetapi sebuah filsafat kehidupan: ‘ema  eta,  ende wa’ yang secara harafiah berarti ‘bapa di atas, mama di bawah.’

Dalam spiritualitas ‘ema ‘eta, ende wa,  manusia merupakan bagian integral dari alam. Manusia bertahan hanya karena benih-benih tanaman, tetumbuhan dan hutan. Maka, monyet, babi hutan, sapi, ayam, hewan serta pepohonan adalah saudara dan saudari di bawah kolong langit.

Maka, jangan heran bila kode berjingkrak krak-krak-krak kegirangan dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain hingga bahkan ke atap-atap rumah. Jangan heran pula bila motang puar mengaung-aung mencongkel umbi di lereng hutan  dan bahkan di halaman kampung. Semua itu dilakukan dalam sunyi dan kenyamanan prima. Hutan dirawat dengan tidak membabatnya serampangan. Hewan dan tetumbuhan diberikan ruang kehidupan.

Inilah darah yang mengalir ke dalam bayi Kletus sejak dari rahim ibu. Ia tumbuh dan dan besar dalam keindahan di mana manusia, hewan dan alam saling berbagi dan tidak pernah saling meniadakan, apalagi saling memusnahkan.

Maka, sukacita adalah hal paling kentara dari Boncukode. Sebuah sukacita yang datang dari ketulusan saling berbagi. Krak-krak monyet, aungan babi hutan, kicau burung serta riak Wae Langkok telah bersama-sama membentuk simphoni merdu tanpa akhir.

Hanya dalam sukacita seperti ini, bathin yang terbentuk akan menjadi luas seluas kaki langit. Dari dalam bathin seperti ini pula, berbagi dan berbaik hati persis seperti burung putih di salju. Semakin ia mengulurkan tangan untuk membantu, semakin ia tidak kelihatan.

Inilah oase yang mengalir dalam tubuh Pater Kletus hingga kini. Bathinnya yang seluas langit membuat setiap orang yang ia jumpai merasa yakin akan mendapat tempat di dalam relung-relung hatinya.

Salah Sangka

Begitulah melodi dua ayat yang dulu nyaring terdengar tapi akhir-akhir ini sayup-sayup sampai karena saya sendiri sudah mulai melupakannya.

Sejak 30 tahun meninggalkan Ledalero, saya terjebak dalam kurungan peradaban di mana manusia mengimani kehebatan, bertengkar memperebutkan kekuasaan dan uang, mempertahankan harta benda, bersimpuh pada kemenangan serta memompa-mompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang mereka sangka sebagai keunggulan.

Yah,  sebuah peradaban yang menjalankan salah sangka yang luar biasa terhadap keindahan yang adalah puncak kebenaran dan kebaikan. Dalam situasi keterjebakan itu datanglah khabar tentang perak imamatnya.

Syukur kepada Allah. Gaung melodi itu kini kembali terngiang. Bergaunglah terus melodimu, sahabatku dan imamku. Bergerola-lah  dalam imamat yang indah. Doa yang sama digelorakan kepada sahabat-sahabat biarawan SVD dari bumi Manggarai yang berperak imamat di bulan Juni-Juli ini: Fr Gregor Jehanus (Papua New Guinea), Fr Alo Nato (Australia), Fr Fredy Jehadin (Papua New Guinea), Fr Robert Mirsel (Vivat International, New York), Fr Karel Kelalu (Brazil).

Hidup ini memang hanya bersaksi tentang keindahan dengan berkata benar, berbagi dan berbaik hati. Inilah melodi yang sebenar-benarnya,  yang mengalun ke telinga semesta jagad hingga kita mati dan kembali ke pangkuan SANG Pemilik Melodi itu sendiri.

Penulis berasal dari Manggarai, pernah menjadi anggota SVD. Tulisan ini diolah dari “ Melodi Dua Ayat” dalam “Apakah engkau mengasihi AKU? Kenangan Perak Imamat P. Kletus Hekong SVD, “( Jakarta, Mei 2015, hlm 47-53).