Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawabgsa.

Soe, Floresa.co – Menteri Sosial, Khofifah Indarparawansa, dijadwalkan akan mengunjungi warga di tujuh desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terpaksa mengonsumsi makanan ternak akibat gagal panen.

Seperti yang dilansir Kompas.com, Selasa (16/6/2015), Asisten 1 Setda Kabupaten TTS, Epy Tahun, mengatakan, Menteri Khofifah akan tiba di TTS, Rabu (17/6/2015) pagi.

“Ibu Menteri Sosial akan ke Soe (ibu kota Kabupaten TTS) untuk melihat gudang Bulog sekaligus mengecek tentang kualitas dan kuantitas beras miskin (raskin). Selain itu, menteri juga akan ke wilayah selatan Kabupaten TTS (tujuh desa) yang mengalami kekurangan pangan,” kata Epy.

Epy melanjutkan, Pemerintah Daerah TTS sudah salurkan bantuan raskin sebanyak 50 ton untuk tahap pertama. Selain itu, sekitar 50 ton raskin sebagai cadangan dari Pemerintah TTS dan 200 ton lagi yang akan dikirim oleh Pemerintah Provinsi NTT. Hal ini, kata Epy, sebagai bentuk intervensi Pemerintah Daerah TTS atas kondisi yang dialami masyarakat di tujuh desa di dua Kecamatan tersebut.

Seperti yang diberitakan Kompas.com sebelumnya, ratusan warga di 2 Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yaitu di Kecamatan Kualin dan Kecamatan Amanuban Selatan terpaksa mengongsumsi putak (bagian tengah batang pohon lontar) yang sering digunakan warga untuk pakan ternak.

Di Kecamatan Kualin, warga yang mengonsumsi putak tersebut tersebar di lima Desa, yakni Desa Kuali, Toineke, Tuafanu, Tuapakas, dan Oni. Sedangkan di Kecamatan Amabuban Selatan, yakni Desa Oebelo dan Noemuk.

Pada masa reses bulan lalu, saat mengunjugi keluarga yang mengalami musibah tersebut, Jefry Unbanunaek, anggota DPRD NTT mengatakan, musibah yang menimpa masyarkat tersebut diakibatkan kondisi alam yang tidak memungkinkan, bukan karena kemalasan warga.

“Khusus bagi warga yang konsumsi putak, karena mereka sudah kehabisan stok pangan sejak akhir Januari 2015, sebab persediaan pangan yang ada, termasuk bibit lokal yang biasa mereka sisihkan untuk dijadikan sebagai bibit pada musim tanam berikutnya, juga telah dikonsumsi akibat gagal panen,” kata anggota DPRD NTT, Jefry Unbanunaek, kepada Kompas.com Mei lalu.

Sebagai wakil rakyat, Jefry sangat menyayangkan peristiwa ini. Warga, kata dia, sedang dalam ketidakberdayaan sehingga warga terpaksa menginisiasi sendiri, mengolah batang pohon gewang menjadi makanan alternatif.

Ironisnya, sesuai pengakuan warga, bahwa mereka sudah mengalami keadaan seperti ini sejak Januari 2015, namun pemerintah baru mau melakukan pendataan. Hingga awal Mei lalu, Camat Kualin belum bisa menyebutkan data aktualnya. Hal ini, kata Jefry, adalah bencana, sehingga Pemerintah Daerah TTS melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten TTS, bisa segera turun ke wilayah bencana. Kondisi ini juga menjadi catatan penting bagi Dinas Pertanian yang memiliki petugas lapangan, harusnya bisa mendeteksi dan segera memberi laporan terkini untuk tindakan antisipasi.

“Setelah melihat kondisi di lapangan, saya akan meminta Pemerintah Kabupaten TTS, maupun Pemerintah Provinsi NTT, untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif secara dini, mengingat apabila semakin lama warga mengkonsumsi putak, maka akan berdampak pada kesehatan warga, terutama pada anak-anak yang bisa berdampak pada tingginya angka gizi buruk,” pungkas Jefry. (Ario Jempau/ARJ/Floresa).