Oleh: HIRONIMUS EDISON

Tradisi tulisan umumnya terbentuk dari tradisi lisan. Tradisi tulisan sering disebut sebagai tradisi lisan yang dibekukan.  Itu bukanlah suatu hal yang mengherankan. Kemampuan manusia dalam berkomunikasi dan berbahasa lahir dari kesanggupannya untuk mengerti dan memahami tradisi lisan. Apa yang diterima dan diperoleh dari tradisi lisan itu umumnya dibekukan dalam tulisan guna mengingat dan melestarikannya.

Kita mestinya tidak boleh terjebak dalam persoalan tentang apakah yang lebih dahulu ada, bahasa ataukah manusia? Setiap manusia yang lahir selalu mewarisi bahasa dari orang tua, keluarga, masyarakat dan negara. Ia tidak akan menciptakan bahasa baru baginya. Ia hanya menerima dan meneruskan bahasa yang telah diwariskan baginya. Pewarisan bahasa itu umumnya dilakukan secara lisan. Komunikasi lisan antara orang-orang yang di sekitarnya turut membentuk kepribadian, pemahaman dan tingkah lakunya.

Bentuk komunikasi lisan dalam pewarisan bahasa juga menyentuh dunia sastra. Bagaimanapun juga, seni sastra tiap bangsa dibentuk dari tradisi lisan itu sendiri. Negara Indonesia yang terdiri dari beragam pulau, suku, bahasa, dan daerah pun tidak luput dari pengaruh tradisi lisan ini. Karya-karya sastra termasyur dan mencengangkan dari anak bangsa lahir dari pengaruh tradisi lisan ini. Puisi, prosa, dan drama tidak dengan sendirinya lahir begitu saja. Ketiganya dibentuk dari kearifan lokal yang sangat kaya dan beragam di bumi pertiwi ini.

Salah satu contoh yang hemat saya menjadi simbol dari pentingnya tradisi lisan untuk pembentukan seni sastra ialah go’et yang ada dalam budaya Manggarai. Go’et umumnya sering diartikan sebagai peribahasa. Namun, arti yang sesungguhnya lebih dari itu. Hal ini berkaitan dengan makna dan nilai pedagogis yang ada dalam go’et itu sendiri. Go’et dalam budaya Manggarai pun tidak digunakan secara bebas. Go’et sering digunakan dalam pembicaraan resmi (upacara adat) yang berorientasi untuk mendidik dan mengajar namun secara implisit. Artinya ialah, makna, maksud, dan nilai yang hendak diajarkan tidak disampaikan secara gamblang.

Struktur dan bentuk go’et umumnya tidak terlalu rumit dan sulit. Strukturnya hampir sama dengan gurindam. Go’et umumnya hanya terdiri dari dua baris dan bahkan ada yang terdiri dari satu baris. Tiap baris pun hanya berisi satu kalimat. Baris pertama umumnya memuat gambaran dan makna yang akan dipertegas dalam baris kedua. Baris kedua merupakan nilai, makna dan isi yang ingin diajarkan.

Isi dan pesan yang hendak disampaikan lewat go’et menyentuh berbagai dimensi kehidupan manusia pada umumnya dan masyarakat Manggarai pada khususnya. Setiap persolan yang sering timbul dalam masyarakat Manggarai pada umumnya dapat kita temukan dalam go’et. Hubungan keluarga, hubungan antar sesama dalam masyarakat, sikap orang tua terhadap anak, sikap anak terhadap orang tua serta berbagai bentuk tindak tanduk hidup manusia dalam masyarakat lainnya umumnya termuat dalam go’et. Oleh karena itu, go’et  yang ada dalam budaya Manggarai lahir dari situasi dan persoalan hidup masyarakat Manggarai sendiri dan disandingkan dengan realitas alam yang tampil memesona sebagai bentuk pengajarannya.

Kesatuan masyarakat Manggarai dengan alam tercermin dalam kata-kata yang ada dalam go’et. Nilai dan ajaran yang ada dalam go’et umumnya bersumber pada nilai dan ajaran yang diyakini orang Manggarai ada dalam alam. Orang Manggarai selalu memandang bahwa alam menjadi contoh harmonisasi kehidupan bagi manusia. Semua yang ada dalam alam berjalan secara harmonis tanpa adanya relasi saling menguasai dan menghilangkan satu sama lain. Itulah gambaran hidup yang harmonis yang sejatinya harus dihidupi oleh manusia. Oleh karena itu, masyarakat Manggarai berusaha agar menjalani hidup sesuai dengan apa yang diajarkan alam sehingga kehidupan bersama sungguh dijalankan dalam keadaan damai.

Cita-cita orang Manggarai untuk hidup selaras dengan alam tertuang dalam go’et. Melalui go’et itulah orang Manggarai berusaha untuk mengajar kepada generasi berikutnya betapa pentingnya membangun hidup bersama yang aman, harmonis dan damai. Salah satu contoh go’et yang menggambarkan betapa pentingnya hidup dalam persatuan yakni, neka behas neho kena. Secara harafiah diartikan sebagai “bersatulah seperti pagar”. Pagar dalam konteks ini tidaklah seperti pagar yang seperti kita liat di perumahan modern sekarang. Pagar dalam masyarakat Manggarai terbuat dari barisan batang kayu yang banyak yang diikat dengan tali. Pagar itu berfungsi selain untuk menjadi pembatas kebun juga untuk menjaga seluruh tanaman yang ada di dalam kebun dari serangan binatang dan manusia lain yang berusaha untuk mencurinya. Maka bisa dibayangkan bahwa jika salah satu dari kayu-kayu yang berderet itu tercabut (behas) maka binatang ataupun manusia dengan mudah bisa masuk ke dalam kebun itu untuk mencuri hasil-hasil kebun itu. Oleh karena itu, gambaran persatuan orang Manggarai digambarkan dengan pagar (kena).

Contoh di atas merupakan salah satu dari beragam seni go’et orang Manggarai dalam mengajarkan nilai kehidupan ke generasi berikutnya. Akan tetapi, kesenian itu telah tenggelam dimakan waktu. Generasi muda Manggarai kini telah lupa akan segala go’et yang menjadi ciri khas tradisi lisan orang Manggarai dalam mengajar dan mendidik. Sayangnya bahwa tidak banyak penulis Manggarai yang berusaha untuk melestarikan semua go’et itu yang merupakan salah satu bentuk seni sastra masyarakat Manggarai. Hal ini semakin didukung oleh tidak adanya minat dari generasi muda masyarakat Manggarai dalam mengingat go’et-go’et yang diajarkan oleh generasi terdahulu.

Adanya tradisi lisan yang menjadi asal dan sumber lahirnya karya sastra menunjukkan bahwa antara budaya dan karya sastra memiliki hubungan yang erat dan tak terpisahkan. Bahasa- baik verbal maupun tulisan- tidak boleh dilepaskan dari budaya. Ia merupakan bagian dari budaya. Budaya suatu masyarakat ditentukan pula oleh bahasa yang mereka gunakan. Oleh karena itu, melepaskan karya sastra dari budaya masyarakat mengakibatkan hilangnya makna dari karya sastra itu sendiri.

Kita harus mengakui bahwa pengaruh budaya terhadap lahirnya karya sastra sangatlah tinggi. Budaya masyarakatlah yang menjadi dasar pijakan bagi manusia untuk mengaktualisasi dan merealisasikan diri dan hidupnya. Wujud realisasi itu terungkap dalam dan melalui bahasa. Bahasa sebagai bagian dari budaya menjadi tempat bagi manusia pribadi dan masyarakat mengungkapkan peradaban mereka. Melalui bahasa pulalah kita akan mengenal betapa tinggi atau rendahnya peradaban suatu masyarakat.

Go’et yang merupakan tradisi lisan masyarakat Manggarai menjadi contoh pengaruh budaya terhadap lahirnya karya sastra. Seni puisi dan pendidikan orang Manggarai tidak akan bisa dipahami jika tidak mampu mengerti go’et yang ada dalam masyarakat Manggarai. Oleh karena itu, memahami betapa seninya suatu karya sastra tidak boleh dilepaskan dari budaya tempat sastra itu dilahirkan.

Mutu suatu karya seni akan dengan mudah dipahami jika budaya tempat karya seni itu dilahirkan dikenal dengan baik. Pemaknaan serta nilai yang ada dalam karya seni tidak mungkin tercipta tanpa ada kaitannya dengan budaya. Pengaruh budaya terhadap karya sastra mewujud dalam simbol-simbol yang digunakan oleh karya sastra. Simbol-simbol yang digunakan pastinya hanya akan dipahami lewat budaya yang menjadi asal dan sumber simbol-simbol itu. Dengan demikian, isi dan mutu karya sastra bisa dipahami dengan baik.

Pentingnya budaya bagi lahirnya karya sastra menyadarkan kita akan pentingnya melestarikan budaya. Budaya bukanlah barang kuno yang telah habis masa berlakunya. Ia merupakan nadi bagi perkembangan peradaban masyarakat. Tanpa budaya, suatu masyarakat akan berjalan tanpa arah. Masyarakat akan kehilangan seluruh identitasnya jika tidak menyandarkan diri pada budaya. Melestarikan budaya lewat karya sastra merupakan suatu langkah maju yang patut diapresiasi. Itulah langkah terbaik agar masyarakat tidak lupa akan peradabannya sendiri.

Pentingnya karya sastra dalam melestarikan budaya masyarakat merupakan suatu kebutuhan mendesak saat ini. Karya sastra sebagai bagian dari budaya haruslah menjadi pion yang mampu melestarikan budaya itu sendiri. Rendahnya minat generasi muda untuk mengenal, mempelajari serta menghidupkan budaya sendiri haruslah segera di atasi. Amnesia massal itulah yang menghantar masyarakat jauh dari peradabannya sendiri. Seni sastra yang lahir dari kebudayaan itu sendiri mau tidak mau harus memikul beban dan tugas yang berat itu. Sebab, relasi antara keduanya tidaklah saling menghilangkan. Keduanya saling membangun dan melestarikan satu sama lain.

Penulis adalah calon imam SMM, sekararang tinggal di Malang, Jawa Timur