Uskup Agung Oscar Romero Dibeatifikasi, Barack Obama Beri Apresiasi

0
202

Floresa.co – Mendiang Uskup Agung Oscar Romero dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus pada Sabtu (23/5/2015). Ratusan ribuan umat berkumpul di Kota Salvador untuk menyaksikan proses beatifikasi ini.

Sebagaimana dilansir Voa Indonesia (24/5/2015), para pendukung Romero mengibarkan bendera dan mengenakan kaos bergambar wajah Oscar Romero sambil mendengarkan utusan Paus Fransiskus membacakan surat Paus yang menyatakan beatifikasi.

Oscar Romero, yang dihormati rakyat miskin dan dikecam oleh pemerintah sayap kanan yang berkuasa selama 35 tahun itu, ditembak mati tahun 1980 oleh regu tembak sayap kanan karena membela rakyat miskin. Tak lama setelah pembunuhan tersebut, perang saudara meletus di El Salvador selama 13 tahun, yang diperkirakan menelan korban jiwa 75 ribu orang.

Presiden Amerika Barack Obama, dalam sebuah pernyataan, menyambut baik kehormatan tersebut dengan menyebut Oscar Romero sebagai “inspirasi bagi rakyat El Salvador dan seluruh rakyat Amerika.”

Empat presiden dan sejumlah utusan dari beberapa negara juga memberi penghormatan kepada mendiang Uskup Agung Oscar Romera, yang secara luas dikenal di kalangan para pendukungnya sebagai “suara dari orang-orang yang tak dapat bersuara.”

Martir El Salvador

El Salvador  merupakan sebuah negara yang berbasiskan pada sistem produksi pertanian dengan komoditi utamanya adalah kopi. Sejak abad 16, negeri ini menjadi wilayah koloni Spanyol. Setelah abad 19, secara berturut-turut El Salvador menjadi koloni Guatemala dan Meksiko, hingga akhirnya memperoleh kemerdekaan penuh pada tahun 1839.

Seperti Indonesia, kemerdekaan yang diperoleh El Salvador tidak membuat sistem ekonomi kolonial terlikuidasi. Bahkan, memasuki dekade 1970-an, El Salvador dicengkram oleh kekuasaan pemerintahan kanan yang militeristik dan berperan sebagai ‘centeng’ tuan tanah dan pemilik modal.

Negeri setengah feodal dan setengah kapitalis ini  dikendalikan oleh pemerintahan militer yang berfungsi mengunci sistem yang timpang nan menindas tersebut.

Situasi ini menimbulkan kemarahan kaum tani yang kemudian berhimpun dalam wadah organisasi gerilya Farabundo Marti Front Pembebasan Nasional  atau FMLN yang bertendensi Marxis.

Keberhasilan revolusi Kuba dan Sandinista di Nikaragua menambah militansi bagi para gerilyawan FMLN untuk meletuskan Revolusi di El Salvador. Namun, rezim militer merespon gejolak ini dengan brutal. Ratusan rakyat tak berdosa dibantai oleh militer dan pasuka para-militer (mirip pam-swakarsa perusahaan dalam konflik agraria Indonesia).

Pater Grande adalah rohaniwan Katolik yang menjadi salah satu korban kekejian para-militer yang disewa tuan tanah. Represi rezim membuahkan perang saudara di negeri Amerika Tengah itu yang berlangsung selama 12 tahun (1980-1992).

Dalam situasi seperti inilah Mgr. Óscar Romero y Arnulfo Galdámez (15 Agustus 1917 – 24 Maret 1980) diangkat menjadi uskup keempat dari Gereja Katolik El Salvador. Keberpihakannya pada rakyat miskin El Salvador yang tertindas muncul setelah pembunuhan sahabatnya,  Pater Rutilio Grande, yang tewas ditangan para-militer. Rezim sayap kanan,  partai ARENA (Aliansi Nasionalis Republikan), yang didirikan oleh seorang militer bernama mayor tentara Roberto D’Aubuisson,  menuding Pater Grande membela kaum komunis.

Namun Uskup Oscar Romero meyakini bila perjuangan yang dilakukan oleh Pater Grande  berbasiskan  ajaran dan praksis pembebasan yang berakar dari iman kepada  Yesus Kristus.

Uskup Romero pun mengikuti jejak sahabatnya untuk mengambil posisi berseberangan dengan pemerintahan ARENA. Sebuah pilihan yang sangat beresiko!

Melalui berbagai pidato maupun homilinya ketika misa, sang uskup mengeluarkan kritikan-kritikan pedas pada rezim militer yang brutal pada rakyatnya sendiri, terutama kepada kaum tani,  tetapi sangat ramah terhadap tuan tanah, pemilik modal dan kapitalis asing.

Pasca kematiannya, pemberontakan rakyat makin keras, namun rezim berkuasa pun semakin brutal. Kalangan advokat HAM mencatat 75.000 orang tewas selama perang saudara El Salvador,  dan sebagian besar diantara mereka adalah rakyat sipil pedesaan yang dimusnahkan bersama desanya oleh militer dan pasukan algojo tuan tanah.(Armand Suparman/ARS/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini