Pendidikan Utamakan Membentuk Karakter

3
224
Gregorius Afioma

Oleh : GREGORIUS AFIOMA

Pembentukan karakter adalah paling utama dalam pendidikan daripada pengembangan pengetahuan itu sendiri. Sebab karakter yang kokoh dan kuat dengan sendirinya mampu melahirkan dan mengembangkan pengetahuan. Sebaliknya mengukur perolehan pengetahuan melalui hasil ujian semata adalah problematis.

Saya menyadari hal itu setelah lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta pada tahun 2013 yang lalu. Meski pemikiran beberapa filsuf saya lupakan, namun ada yang tertinggal dalam diri saya, yakni kebiasaan membaca.

Membaca adalah kebiasaan yang baru dalam hidup saya. Pada masa sekolah menengah, membaca adalah beban. Duduk satu jam untuk bergulat dengan buku adalah perjuangan berat. Mata cepat ngantuk. Pantat rasanya panas. Konsentrasi jadi buyar.

Beruntunglah atmosfer akademik sekolah menengah tidak terlalu menuntut. Ujian selalu terjadi akhir semester. Ulangan terjadi sesekali. Jadwal membaca pun disesuaikan. Menjelang moment penting tersebut barulah membaca. Ujian selesai, batin rasanya senang. Liburan adalah waktu yang paling istimewa untuk menjauh dari buku.

Berbeda ketika masuk STF Driyarkara pada tahun 2009. Iklim akademisnya lumayan menuntut. Semester pertama, saya merasa frustrasi. Hampir tiap minggu bergulat dengan tugas. Mengunjungi perpustakaan, membaca, belajar menulis dan menyusun idea adalah harga mati. Penyesuaian itu membuat saya terkadang belajar hampir larut malam bahkan hingga subuh kalau mengerjakan tugas.

Apa yang membuat perbedaan begitu tajam adalah sistem. Sistem di STF Driyarkara benar-benar suatu bentuk pengkondisian. Walaupun sulit, membaca atau research  tetap menjadi pilihan terbaik. Jika tidak, tentu akan mengalami kesulitan saat perkuliahan. Bisa gagal.

Yang dimaksudkan sistem adalah sebagai berikut. Seingat saya di STFD tiap matakuliah mewajibkan tugas terstruktur, ujian tengah semester, dan ujian akhir. Yang dimaksud dengan tugas terstruktur biasanya makalah hasil studi perpustakaan atau lapangan. Biasanya dituntut sekitar 5-10 halaman. Sedangkan ujian ada banyak jenis. Ada tertulis, lisan, kelompok, dan lain-lain. Belum lagi resume harian. Beberapa dosen selalu meminta mahasiswa untuk membuat catatan satu halaman setiap kali selesai memberikan perkuliahan. Itu bisa berupa tanggapan kritis atau ringkasan materi.

Bayangkan jika tiap semester saya mengambil lima mata kuliah (perhitungan minimal). Itu artinya saya harus mengerjakan minimum sekitar 25-50 halaman paper untuk tugas per semester. Tiap paper sekurang-kurangnya mendaftar lima sumber pustaka. Catatan kaki harus memakai standard yang ketat. Lalu kondisi perpustakaan yang ditaburi buku-buku berbahasa Inggris. Belum lagi paper untuk ujian atau pertemuan harian. Ingat ini adalah perhitungan minimal!

Hasil dari model pengkondisian itu adalah penggiatan kebiasaan membaca. Untuk menulis 50-an halaman paper tidak bisa mengandalkan daya imajinasi semata, tetapi dengan sendirinya harus membaca banyak buku dan me-research sana-sini. Suka atau tidak, bahasa inggris pun harus diasah secara otodidak. Jadi, membaca adalah menu harian yang harus dimakan jika ingin bertahan.

Jika ini terjadi selama empat tahun, apa yang terjadi? Semester pertama adalah waktu yang terberat karena penyesuaian. Semester selanjutnya menjadi lebih mudah. Kegiatan membaca dan me-research sudah menjadi aktivitas harian. Lama-kelamaan menjadi bagian dari diri (internalisasi).

Bukti nyatanya saya rasakan tiap kali liburan dan setelah lulus kuliah. Tiap hari selama satu semester terbiasa membaca lalu kemudian berhenti total ketika liburan akan menimbulkan kegalauan tersendiri. Rasanya ada yang kurang. Ibarat seorang perokok berat yang disuruh berhenti merokok secara mendadak tentu akan menimbulkan rasa frustrasi. Jadi saya tetap mengisi liburan dengan membaca, walaupun intensitasnya tidak sama.

Semenjak membaca menjadi kebiasaan, saya tidak perlu heran lagi dengan pertanyaan prof. Sastrapratedja, salah satu dosen di STF. Tiap kali sehabis liburan, dia selalu bertanya, “Berapa buku yang Anda baca selama liburan?” Pada semester awal, saya menertawainya seolah menggangap itu pertanyaan konyol. Namun sekarang saya paham, apa maksud pertanyaan tersebut.

Kebiasaan membaca di sini hanyalah salah satu contoh bagaimana karakter itu dibangun oleh sistem. Ini dapat menjadi titik pijak untuk merombak sistem pendidikan kita. Ketika berbicara tentang pendidikan, sistemlah yang seharusnya kita pikirkan. Sistem adalah suatu bentuk pengondisian yang membuat siswa menginternalisasikan karakter-karakter unggulan untuk menjadi bagian dari dirinya.

Masih banyak sekolah-sekolah yang mengarah pada pencapaian nilai-nilai akademis daripada pembentukan karakter. Seolah tugas utama adalah meluluskan siswa. Ini adalah tanda-tanda kegagalan sistem pendidikan. Mengapa dianggap gagal? Ingatan manusia terbatas. Pengetahuan yang kita pelajari dapat dilupakan dalam dua atau tiga bulan kemudian setelah tamat. Makanya kita membutuhkan karakter yang memungkinkan keterjaminan keberlangsungan pengetahuan itu.

Saya tidak menyesal bahwa saya kadang-kadang lupa dengan isi pemikiran filsuf ini dan itu, sebab saya sudah punya kebiasaan membaca. Ketika saya lupa, saya bisa mengambil buku dan membacanya lagi. Andaikan saya tidak punya kebiasaan membaca, saya kehilangan dua-duanya.

Penulis adalah salah satu staf redaksi Floresa.co

Advertisement
BAGIKAN

3 Komentar

  1. Kalau pendidikan itu adalah menciptakan sebuah sistem atau membuat suatu pengkondisian,apakah pendidikan itu tidak kehilagan esensinya sebagai sebuah upaya “pembebasan”? Mengapa mansusia harus dikondisikan oleh sebuah sistem? Apakah itu tidak membuat pendidikan itu mennjadi sebuah beban? Mohon tanggapan penulis….

  2. Betul pendapat pak Gregorius. Kalau mau supaya mutu pendidikan kita di Indonesia, terutama pendidikan Karakter berhasil, maka yang harus diubah adalah sistemnya. Bukan hanya kurikulumnya, yg setiap lima sampai sepuluh tahun diubah terus. Trms pak Gregorius.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini