Wabub Matim Minta Kementan Fasilitasi Pemda Sertifikasi Kopi Arabika

0
225

Borong, Floresa.co – Wakil Bupati (Wabub) Manggarai Timur, Andreas Agas meminta dukungan Kementerain Pertanian untuk membantu pemerintah Managgarai Timur memfasilitasi sertifikasi indikasi geografis untuk kopi arabika dari daerah itu.

Permintaan Agas ini disampaikan di hadapan staf Dirjen Pengelolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementrian Pertanian pada saat pembukaan acara Sssialisasi dan pengawalan sertifikasi indikasi geografis kopi Arabika Manggarai di Kabupaten Manggarai Timur, Selasa (26/5/2015) bertempat di aula Kevikepan Borong.

Menurut Agas, Matim merupakan daerah utama penghasil kopi di NTT karena didukung oleh iklim yang sangat cocok untuk pertanian Kopi. Topografi wilayah ini sebagian besar adalah pengunungan dan perbukitan.

Bagi petani yang ada di Manggarai Timur, kopi adalah komoditas utama yang sangat penting karena salah satu sumber penghasilan utama selain kakao,cengkeh dan kemiri.

Tanaman kopi dibudidayakan sejak zaman kolonial mengunakan konsep agroforestri yaitu mengkombinasikan tanaman kopi dengan tanaman pelindung. Dengan cara ini maka petani sekaligus melakukan konservasi tanah dan air.

Kopi Robusta dari Manggarai termasuk special coffe. Pada pelelangan kopi di Surabaya tahun 2012, petani kopi dari Manggarai menawarkan kopi khas Manggarai dan mendapatkan peringkat satu nasional dari segi cita rasa.

“Harga kopi robusta dalam lelang tersebut Rp 97.000,- per kilogram, adapun kopi arabika mendapat peringkat keempat dengan harga Rp 83.420 per kilogram,” cerita Agas.

Lebih lanjut Agas mengatakan jika memperhatikan kondisi serta permasalahan yang terjadi di wilayah Matim, maka kebijakan dan strategi dalam pengembangan kopi diarahkan pada peningkatan produksi dan mutu tanaman kopi secara berkejanjutan.

Hal itu dilakukan melalui perbaikan mutu tanaman, penerapan Good Argriculture Practices (GAP), pengendalian OPT (orgnaisme penganggu tanaman), dan penyedian benih unggul bermutu serta sarana produksi serta pengembangan sumber daya manusia untuk petani yang ada di Matim. (Satria/PTD/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini