Mayoritas Desa di Kecamatan Rana Mese, Matim Masuk Kategori Terpencil

2
1010
Warga harus menggotong motor untuk bisa melewati Wae Musur (Foto: Satria/Floresa)

Borong, Floresa.co – Mayoritas desa di wilayah Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores, NTT, masuk kategori terpencil. Dari 21 desa yang ada 14 diantaranya masuk kategori ini.

Camat Kecamatan Rane Mese Vincentius Joni mengatakan indikator desa masuk kategori terpencil adalah fasilitas kesehatan yang tidak ada, pendidikan yang kurang diperhatikan , ketersediaan sarana air bersih yang kurang serta daerah ini sangat jauh dari akses jalan umum.

Ada pun keempatbelas desa tersebut adalah Desa Bea Ngencung, Lidi, Satar Lahing, Satar Lenda,  Torok Golo, Sano Lokom, dan Desa  Rondo Woing. Kemudian Desa Wae Ngori, Bangka Kempo, Compang Teber, Golo Rutuk, Golo Ros, Golo Meleng, dan Compang Kantar.

Vinsenstius mengatakan 14 desa tersebut memiliki akses transportasi yang minim bahkan belum ada aspal. Hanya beberapa yang sudah aspal tetapi sudah rusak.  Selain aspal, juga jembatan penghubung desa tidak ada misalnya jembatan Wae Musur untuk beberpa desa di sebela kali, jembatan Wae Dingin menuju desa Compang Teber dan sekitarnya.

Setidaknya ada dua kali yang menghubungkan desa-desa tersebut. Namun, menurut dia, hingga kini jembatan penghubug belum dibangun. Akibatnya, bila musim hujan ditiba, aktifitas ekonomi antar desa menjadi lumpuh.

“Arus lalu lintas ke desa terpencil tersebut akan lumpuh pada waktu musim hujan, kendaraan roda dua maupun roda empat tidak melakukan trayek ke desa-desa akibat jalan rusak dan jembatan penyeberang tidak ada khusus ke desa sebelah barat Kali Wae Musur,”ujarya kepada Floresa.co, Jumat (8/5/2015).

Ia mengatakan desa-desa tersebut memiliki potensi pertania yang baik, tanahnya pertaniannya subur. Tak heran para petani menghasilkan hingga berton-ton hasil komuditi perdagangan seperti kopi, cengkeh, kakao dan tanaman perdagangan lainya.

Joni  mengungkapkan pembangunan jembatan Wae Musur dibagian tengah dalam proses perencanaan tahun ini. Diperkirakan konstruksi fisik dilakukan tahun 2016.

“Informasi pembanguan jembatan ini setelah tim teknis dari dinas Pekerjaan Umum melakukan pengukuran di lokasi,”ujarya.

Ia berharap tahun-tahun mendatang seluruh desa di wilayah kerjanya bebas dari status terpecil. Karena itu, ia mengharapkan agar seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait harus punya program yang berkaitan dengan pembangunan fisik di desa-desa tertinggal itu. (Satria/PTD/Floresa).

Advertisement

2 Komentar

  1. Pemerintah manggarai timur harus benar benar merencanakan pembangunan yan merata dan adil bagi masyarakat terutama kecamatan ranamese. salah satu indikator untuk memajukan ekonomi masyarakat adalah akses transportasi. Mohon untuk percepat pembangunan jalan raya ke desa desa tersebut, karena sudah puluhan thn yg lalu masyarKat merindukannya.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini