Mimpi Sang Bocah: Potret Pendidikan Indonesia

1
369

Oleh: ROMO ARDUS TANIS PR

Jalan hidup manusia sangat boleh jadi berawal dari mimpi-mimpi. Mimpi sederhana di masa kecil atau masa lalu kelak membawa anak manusia pada pemenuhan cita-cita di masa dewasa atau masa tuanya. Mimpi itu pun terwujud dalam waktu. Ada kronos, saat menakutkan dan penuh ujian; ada kairos, saat membahagiakan dan penuh rahmat. Penggalan kisah mimpi inilah yang mengawali perjalanan seorang bocah dalam lakon Sang Pemimpi yang dipentaskan siswa-siswa SMP Seminari Pius XII Kisol, Kamis, 30 April 2015.

Langkah tatih seorang bocah bernama Randy dibebani kerinduan akan masa depan yang penuh pilihan. Pada titik ini, sang bocah berujar, “Awalnya aku juga berpikiran sama, bahwa Kronos memang tak punya belas kasihan dengan manusia. Namun kini, ketika aku mulai berkenalan dengan sisi lain dari saudara waktu, aku mendengar orang menyebut Kairos, waktu rahmat ketika aku mulai berjalan. Ia memberiku peluang untuk menjadi seseorang di masa datang. Dia berbisik di samping tempat tidurku pada malam ke sekian dalam tidurku, ‘kaulah yang menentukan akan menjadi apa dan siapa engkau nanti, bermimpilah’.”

Beban pilihan hidup kelak di masa depan disematkan Ayah kepada sang bocah karena dialah yang akan menjadi penerus keluarga. Ayah menasehati anaknya agar segera memilih mimpi, untuk selanjutnya mewujudkan mimpi itu agar sang anak menjadikan hidupnya berbeda. Sang bocah tidak serta-merta mengamini kata-kata ayahnya. Ia menantang dan menjawab, “Aku bukan ayah!”

Dialog tersebut membuka seluruh pementasan teater peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2015, di Aula Seminari Pius XII Kisol malam itu. Tak kurang dari ratusan penonton, para siswa seminari, guru-guru, staf pembina, OMK Paroki St. Yosef Kisol, dan masyarakat sekitar menyaksikan dengan penuh minat. Lakon yang mengusung tema pendidikan pencerahan berhasil menggiring penonton untuk merefleksikan bersama makna pendidikan di Indonesia saat ini.

Sang Pemimpi

Sang bocah menyebut dirinya Sang Pemimpi. Kondisi yang tidak boleh digugat siapa pun karena mimpi adalah hak semua orang, bukan? Sang bocah dengan penuh kegelisahan akhirnya masuk ke dalam mimpinya malam itu untuk mencari mimpi masa depannya. Ia bertemu Sang Penjelajah Mimpi yang mengantarnya pada potongan-potongan mimpinya. Mula-mula ia menyaksikan sahabat-sahabatnya yang punya mimpi besar untuk masa depan mereka.

Selanjutnya, ia bertemu rakyat jelata yang hadir dalam diri para buruh dan masa kampanye. Orang-orang ini tak bisa punya mimpi besar karena tak memiliki apa-apa selain tubuh mereka. Mereka harus merebut dan ikut memakan uang haram. Kemudian ia berjumpa juga dengan sosok guru yang terjepit di antara tuntutan standar negara dan mimpi murid-muridnya. Di potongan terakhir mimpinya, ia berhadapan dengan para pemimpin korup yang menertawakan pencariannya itu.

Ada satu naluri manusia di alam nyata yang terbawa ke alam mimpi, yaitu suka menawar pilihan. Ini menjadi otokritik bagi penonton. Ketika sudah ada di alam mimpi, seorang pemimpi seharusnya mengikuti saja aturan mimpi. Sang bocah bertemu sahabat-sahabat seusianya, yang masing-masing memiliki mimpi besar di masa depannya. Ia bertanya retoris: “Di mana mimpiku?” Sang Penjelajah Mimpi menjawab: “Tunggu saja. Jawaban-jawaban lain sedang menantimu. Aku ingin kau melihat orang-orang sekarat ini, yang mimpinya dicabut oleh kemelaratan hidup.”

Sang bocah terus berkelana di alam mimpinya. Ia menyaksikan para buruh yang terkoyak tubuhnya karena memikul beban kerja, ia juga melihat rakyat jelata yang menjadi korban kampanye politik. Dua potongan mimpi ini menggugat kesadaran sang bocah akan pentingnya terlibat dalam penderitaan sesamanya. Tapi di alam mimpi, seperti juga di alam nyata, tidak ada ruang untuk memberi bantuan kemanusiaan dengan ikhlas. Ia harus berhadapan dengan kuasa dan uang. Pengalaman ini menjadikan bocah itu galau akan mimpinya. Semakin ingin ia bertanya, semakin kaburlah baginya mimpi masa depannya.

Untunglah, sang bocah bertemu dengan sahabatnya yang lain dan mengantarnya untuk menyaksikan potongan pengalaman seorang guru dan murid-muridnya. Sang bocah menyaksikan ”dunia sesungguhnya” pendidikan kita. Guru yang otoriter, murid-murid yang tunduk pasrah. Bahkan, murid yang kritis pun tak punya ruang di dalam kelas. Ia diusir sang guru. “Berani-beraninya kau menjawab guru? Keluar dari kelas ini! Pergi, pergi jauh!! Kau tak siap menghadapi negara ini dengan standar-standarnya!” ujar sang guru penuh amarah.

Bagian ini menjadi puncak lakon Sang Pemimpi: apakah pendidikan kita di Indonesia telah mencerahkan anak bangsa? Masih adakah guru yang patut digugu dan ditiru pada zaman ini? Lakon juga menampilkan kritik bahwa kadang-kadang mimpi bocah ingusan menjadi tertawaan kaum penguasa, termasuk orang dewasa. Gugatan ini menjadi oleh-oleh bagi para penonton yang tentu memiliki mimpi yang sama, yakni membangun bangsa dan negara Indonesia yang berbudaya atau beradab, seperti cita-cita Ki Hajar Dewantara.

Jawaban atas Mimpi

Penemuan diri sang bocah menjadi jawaban di dalam lakon Sang Pemimpi, juga bagi penonton. Jawabannya sederhana: “Bagi bocah seusiaku, mimpi adalah harta yang akan aku kejar dan kujadikan kenyataan hidupku. Aku akan terus mencarinya: ke mana pun, di mana pun, kapan pun dan dengan siapapun. Aku akan menjadikannya kenyataan paling indah bagi Dia yang mungkin sedang menatapku dari balik awan.” Sang bocah pun terbangun dari alam mimpinya, mengajak semua penonton membawa obor pencerah ke tengah-tengah dunia.

Bagaimana pun juga, lakon di atas pentas telah berakhir, sedangkan lakon sesungguhnya harus segera kita mainkan. Akhir dari pementasan ini disambut dengan tepuk tangan meriah. Tak seinci pun penonton bergerak dari tempat duduknya. Semua tampak puas.

“Ini pentas yang sangat luar biasa. Sebagai guru, kami sangat tersentuh,” ujar beberapa OMK St. Yosef Kisol. “Lebih dari itu, mimpi kita tidak selesai pada saat tepuk tangan berakhir. Semua insan pendidikan kiranya segera membangun kesadaran akan pentingnya membangun generasi masa depan Indonesia,” urai Fr. Kristo Selamat, pendamping para siswa Sanpio dalam pementasan malam itu.

“Tidak bisa tidak, pendidikan harus sungguh-sungguh mencerahkan anak bangsa. Saya bangga dengan anak-anak seminari yang punya mimpi sebesar ini,” kata Fr. Johny Dohut, OFM dengan mata berkaca-kaca usai menyaksikan Sang Pemimpi. Lantas, apa mimpi kita semua?

Penulis adalah Staf Pengajar SMP/SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur-Flores

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. Seorang Pemimpin pun seharusnya memiliki mimpi untuk menjadi pemimpin yang benar-benar memimpin dan mengayom masyarakatnya dengan tulus, jujur, dan bertanggung jawab demi kesejahteraan hidup bermasyarakat.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini