Guru SD di Matim Keroyok Orangtua Siswa

1
286

Ruteng, Floresa.co – Guru-guru Sekolah Dasar Inpres (SDI) Wae Buka, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) menganiaya orangtua siswa saat rapat di sekolah itu, Selasa (5/5/2015).

Akibat kasus ini, para guru pun dilapor ke Poldres Manggarai oleh Robertus Karo, dan kawan-kawan, warga asal Kampung Majung, Desa Golo Rongket, Kecamatan Poco Ranaka.

Guru SDI Wae Buka memukul Robertus dan Leksi, yang membuat keduanya  mengalami luka-luka. Robertus, misalnya, mengalami luka pada mata kaki dan bagian siku tangan.

Saat ditemui di kantor Polres Manggarai, Robertus mengaku, ia dipukul saat ia menanyakan maksud pertemuan itu.

“Dalam prihal surat undangan, mereka menyebutkan, ‘Rapat Sosialisasi Atas Pengaduan Orangtua Siswa’. Saya jadinya bingung pengaduan apa? Siapa yang mengadukan? Pengaduannya ke instasi mana? Sebelumnya saya tidak tahu makanya saya tanya,” ujar Robertus.

Ia mengaku bingung, setelah menerima undangan dengan nomor surat No: 16/1.21.29.4/SD 62/KP/V/2015 untuk mengikuti pertemuan sebelumnya.

Itu sebabnya saat pertemuan, ia langsung menanyakan maksud undangan tersebut dalam forum rapat itu yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah (Kepsek) SDI Wae Buka, Bruno Kasman tersebut.

Karena bingung, Robertus mengusulkan agar pihak SDI Wae Buka menghadirkan instasi terkait jika benar ada pengaduhan ke lembaga hukum untuk memberikan sosialisasi kepada orangtua siswa.

Tak terima dengan usulan Robertus, para guru SDI Wae Buka langsung menyanggah usulan tersebut seraya marah-marah.

Kata Robertus, usai marah-marah ia pun dipukul hingga diinjak-injak para guru tanpa ada perlawanan.

Robertus mengaku, ia dipukul pertama kali oleh Mansentus Modas, kemudian disusul pukulan dari Yulius Kasman Modas. Keduanya guru komite yang juga anak dari Kepsek Kasman.

Sempat dilihat Robertus, demikian ceritanya, ia juga dipukul Ronal Modas, juga anak dari Kepsek Kasman yang kebetulan masih kuliah di STKIP St Paulus Ruteng.

Meski tidak memiliki kapasitas untuk ikut dalam rapat itu, berhubung ia bukan guru komite dan bukan juga orangtua siswa SDI Wae Buka, namun Yulius juga ikut melakukan aksi kekerasan itu.

Seorang guru PNS atas nama Ferdinandus Darung juga ikut memukul. Dan, satu orangtua siswa yang ikut memukulnya atas nama Marten Jemarut.

“Karena saya kena pukulan, saya lompat ikut jendela sekolah untuk menyelamatkan diri. Saya tidak tahu lagi hasil rapatnya,” kata Robertus.

Hasil Rapat

Yosef Supardianus Mendang, salah satu orangtua siswa yang menemani Robertus membuat laporan polisi mengaku usai kejadian tersebut, rapat tersebut tetap dilanjutkan.

Kata Yosef, Kasman yang sudah 18 tahun menjabat sebagai Kepsek SDI Wae Buka mengatakan, rapat tersebut membicarakan tiga poin, yakni sosialisasi dana BOS, perekrutan guru, dan penjelasan terkait penjualan rangka baja dan aluminium bangunan sekolah yang dibangun pada tahun 1983 silam.

Menurut penjelasan Kepsek, pihaknya sudah mendapat teguran dari Dinas PPO Matim karena telah menggunakan keuangan Dana BOS tidak sesuai aturannya. Misalnya, menggunakan dana BOS sebesar Rp 5.800.000 untuk pembebasan lahan kebun sekolah dan tanah sekolah.

Yosef menambahkan, atas kesalahan tersebut Kepsek dalam penjelasannya di depan para orangtua siswa mengaku sudah membayar kembali dana BOS tersebut.

Sementara terkait persoalan ada salah seorang guru yang direkrut hanya tamatan SD, dan ijasah SMP dan ijasah SMA-nya didapatkan melalui program paket, Kepsek Kasman mengaku dia hanya seorang pembantu di sekolah.

“Padahal keterangan anak-anak sekolah, dia masuk ke kelas dan membawa mata pelajaran PLSBD,” kata Yosef.

Ia mengatakan, banyak orangtua siswa yang hadir mempersoalkan perekrutan guru-guru yang selama dinilai sarat kolusi dan nepotisme karena yang diterima hanya yang memiliki hubungan keluarga dengan Kepsek Kasman saja.

Padahal, menurut warga, masih banyak sarjana pendidikan lainnya yang potensial di seputar SDI Wae Buka tersebut.

Selanjutnya, untuk poin rapat terkait penjualan rangka baja dan aluminium bangunan sekolah yang dibangun pada tahun 1983 silam, semula aset sekolah ini secara sepihak dijual oleh Kepsek Kasman

Kepsek Kasman mengaku, uang hasil hasil penjualan aset bangunan yang sudah dibongkar beberapa tahun lalu itu dialokasikan untuk membeli 160 lembar seng bangunan baru.

“Mengapa harus menggunakan dana itu? Kan bangunan baru itu menggunakan dana DAU dan PNPM?” ujar Yosef.

Hingga berita ini diturunkan, Robertus dan kawan-kawan sedang dimintai keterangan oleh aparat di Polres Manggarai.

Sementara Kepsek Kasman belum berhasil dikonfirmasi Floresa.co. (Ardy Abba/PTD/Floresa)

Advertisement

1 Komentar

  1. Klu gurunya bejat bgini nech…bgmna murid2nya nanti….kasian pendidikan di Matim klu gurunya bertingkah sperti preman bgini…

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini