Asri Wersun

Kolom ini, disediakan khusus oleh Floresa.co untuk tempat berbagi pengalaman, cerita-cerita bagi anak muda, putera-puteri asal NTT . Isinya tak seserius – kalau boleh dikatakan demikian – dengan tulisan-tulisan lain yang dipublikasi Floresa.co. Di sini, kami membagi tulisan-tulisan santai, yang ringan untuk dicerna. Jika Anda tertarik menulis di sini, silahkan kirim artikel ke [email protected]


 

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Demikian bunyi ungkapan lama yang biasa kita dengar.

Namun, untuk bisa berguru pada pengalaman, menurut Asri Wersun, gadis asal Sorong, Papua Barat dan orang tuanya dari Manggarai, kita perlu “menciptakan” pengalaman. Sebab, pengalaman di matanya adalah hasil sebuah pilihan atau keputusan pribadi.

Dalam tulisannya, gadis kelahiran 2 Juli ini akan menceritakan kehidupannya sebagai guru sekaligus seorang mahasiswi program magister di Universitas Negeri Jakarta.

Menjalani kedua peran tersebut baginya bukan tanpa alasan. Ia justru dengan sadar untuk menjalani keduanya karena nilai-nilai kehidupan yang ia kejar.

Selengkapnya, simak tulisan alumnus SMA Negeri 1 Sorong, Papua Barat ini:

Banyak pengalaman itu mendewasakan. Tetapi untuk memperoleh pengalaman merupakan suatu pilihan, karenanya membutuhkan keberanian.

Itulah yang memotivasi saya untuk mengambil kuliah S2 sambil kerja di Jakarta.

Semula movitasi saya untuk melanjutkan S2 adalah karena dukungan kedua orang tua saya, kakak dan adik saya.

Awalnya saya enggan untuk melanjutkan pendidikan sampai level master.

Ketika saya masih kuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta, saya mempunyai impian ketika lulus, nanti dapat bekerja di Kalimantan dan Papua. Saya memang tertarik untuk mengajar di dua daerah itu.

Impian itulah yang mendorong saya mengambil FKIP jurusan pendidikan ekonomi di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta.

Akan tetapi setelah lulus, impian saya itu boleh dikata, ditunda. Saya didorong oleh orangtua untuk mengambil S2 dengan beberapa pertimbangan. Saat itu saya langsung kepikiran untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.

Saya lantas mengikuti tes di Universitas Negeri Jakarta dan dinyatakan lulus.

Semenjak lulus, saya berpikir untuk kerja sambil kuliah. Hal itu dimotivasi oleh kakak saya. Ia juga bekerja sambil kuliah. Tentu salah satu motivasinya adalah karena biaya hidup di Jakarta sangat mahal sehingga bekerja sambil kuliah sangat membantu.

Tetapi tentu ada nilai yang lebih penting dari itu. Saya ingin menempa diri melalui kesibukan sebagai pekerja dan mahasiswa: Bagaimana saya bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin di antara kesibukan itu dan berkenalan dengan sebanyak mungkin orang.

10846044_998223886859508_3379019217390442078_n
Asri berada di antara murid-muridnya

Memang tantangan awalnya berat. Orang tua saya khususnya ayah melarang saya. Tetapi saya nekat saja dengan pilihan hati saya itu.

Untuk itu, selama tiga bulan awal, saya bekerja tanpa sepengetahun ayah saya. Sewaktu dia tahu, ia sempat marah. Tetapi akhirnya melalui komunikasi yang baik, ia terus mengizinkan saya kuliah sambil kerja.

Selain itu, tantangan lain adalah mengalami kelelahan. Saya tinggal di Jakarta Pusat dan tempat mengajar saya di Puri Kembangan, daerah Jakarta Barat.

Karena jam masuk sekolah sekitar pukul 06.30, saya berangkat kerja pukul 05.45. Selesai mengajar pukul 15.00, saya langsung pulang dan tiba di kos sekitar pukul 16.30. Itu kalau tidak terjadi macet parah di jalan.

Lalu saya manfaatkan waktu itu untuk persiapan kuliah yang berlangsung pukul 18.30-21.30 di UNJ. Setelah selesai kuliah, saya lanjut mengerjakan tugas sampai paling lambat pukul 24.00.

Awalnya jadwal demikian sangat terasa berat. Sebelum saya berani mengendarai motor di Jakarta, setiap pergi-pulang kerja dan kuliah saya harus berdesak-desakkan di dalam trans-Jakarta. Toh, pun kalau waktunya lebih efektif sewaktu saya mengendarai motor, tetap ada bahaya lain.

Lalu lintas yang ramai membuat saya pernah mengalami kecelakaan saat ke sekolah. Belum lagi soal banjir, soal izin kepada atasan di tempat kerja kalau ada kuliah tambahan atau ada urusan lain di kampus, mengantuk, dan lain sebagainya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menikmatinya. Saya tidak lagi merasa bahwa bekerja sambil kuliah itu beban. Justru sebaliknya, saya merasa ini adalah panggilan dari Tuhan untuk saya.

Di sekolah saya berkenalan dengan banyak orang, seperti rekan-rekan guru dan murid-murid yang lucu. Tiap bangun pagi, bukan lagi beban yang saya pikirkan, tetapi saya sangat antusias ke sekolah. Di sana, ada-ada saja hal yang membuat saya semakin bersemangat dan terhibur. Selalu saja ada hal baru tiap hari yang saya bisa timba dari mereka. Itu benar-benar menyenangkan.

Sementara dari sisi finansial, saya merasa cukup terbantu. Sekurang-kurangnya untuk uang belanja dan membayar kos, saya sendiri bisa menutupinya. Selain itu saya bisa membantu adik-adik, membelanjakan kado ultah buat teman, dan lain-lain. Walaupun sedikit, saya merasa sangat berarti bagi saya dan mereka.

Sampai saat ini, saya sangat bersyukur karena saya boleh melewati penyesuaian awal yang sangat susah. Karena setelah melewatinya, saya sungguh merasa, pengalaman kuliah sambil bekerja itu sangat indah. Pengalaman ada begitu banyak. Meskipun kelihatan sibuk, namun saya sangat menikmatinya.

Dan sampai saat ini, saya mendapat dukungan dari kedua orang tua, keluarga saya, pacar, dan sahabat-sahabat saya.