Yang Belajar Filsafat dan Teologi Harus Berperan Atasi Problem Sosial

0
479

Floresa.co – Mereka yang belajar filsafat dan teologi harus bisa mengaktualisasikan ilmunya itu dalam mendorong perubahan sosial dan menyikapir persoalan-persoalan krusial yang dihadapi masyarakat saat ini.

Hal itu ditegaskan oleh Silvester Ule, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Tinggi (NTT) dalam orasi ilmiahnya, Sabtu Sabtu (25/4/2015).

Silvester, merupakan mahasiswa jurusan filsafat yang meraih predikat cum laude. Bersama 147 Sarjana Filsafat dan 55 Magister Teologi ia diwisuda pada Sabtu di Aula Thomas Aquinas-Ledalero.

Ia menegaskan dalam orasinya, ada situasi krisis yang dihadapi dunia sekarang ini.

Karena itu, menurutnya, sebagai mahasiswa filsafat dan teologi Katolik, penting untuk dipikirkan tentang peran filsafat dan teologi untuk mengatasi persoalan tersebut.

Bagi Silvester, kata-kata Victor E. Frankl “tiap periode punya neurosisnya dan tiap periode membutuhkan psikoterapinya”, tetap relevan karena krisis dan persoalan merupakan realitas konstan dalam setiap masa dan rentang sejarah.

Silvester mengangkat persoalan keseharian di negeri ini seperti kekerasan, prostitusi, human trafficking, sogok-sogokan, nyontek, perselingkuhan, seks bebas, aborsi, pembunuhan, pelbagai bentuk ketidakadilan, diskriminasi, pertikaian antaragama, dan lain-lain.

Kata dia, hal ini merupakan evil yang kadang-kadang diidentifikasi sebagai iblis, setan, malaikat yang jatuh ke dalam dosa.

“Namun, baiklah jika hal itu diidentifikasi sebagai kegelapan yang bersifat irrasional, yang menyebabkan malum, penderitaan, pelbagai antagonisme dalam sejarah,” katanya.

Silvester mengatakan, berkaitan dengan evil, ada orang yang meyakini bahwa hal itu bisa diatasi dengan doa.

Namun, menurutnya, banyak orang yang jatuh ke dalam pelbagai persoalan sosial dan politik adalah orang-orang yang juga rajin berdoa.

“Jadi, doa itu penting tapi tidak cukup,” tegasnya.

Ada juga yang mengatakan, lanjut Silvester, senjata yang sejati adalah keterlibatan manusia semata, tanpa perlu doa.

Namun baginya, hubungan konkret dengan yang Ilahi, juga merupakan kekuatan rohani yang riil yang ditimba manusia melalui keheningan dan doa.

Urgensi Filsafat dan Teologi

Jika kasih dan religiositas, otentitas dan spiritualitas (kekudusan) adalah senjata penting dalam perjuangan melawan evil, Silvester menantang para wisudawan dengan bertanya, “bagaimana filsafat dan teologi membantu kita?”

Silvester menjelaskan, Plato mengidentifikasikan filsafat sebagai “lompatan ada” (leap of being), dalam arti bukan hanya sekadar “penambahan dari pengetahuan tentang yang ada melainkan perubahan dalam tatanan ada itu sendiri”.

Filsafat bukan “kebenaran tentang ada” (a truth about Being), melainkan “kebenaran dari ada” (the Truth of Being) yang diungkapkan oleh manusia yang berakal.

“Jadi, filsafat membentuk subjek yang mengetahui tersebut, jadi sekaligus “suatu cara berada” (a way of being),” ujarnya.

Wisudawan yang akan bertugas sebagai misionaris SVD di benua Afrika ini mengatakan, cara berada seorang filsuf mempunyai aspek disposisi eksistensial dengan kualitas yang berbeda, yang memiliki fokus dan orientasi dasariah yang khas, yang berasal dari keterarahan terhadap makna dan nilai, pada apa yang benar dan baik, serta pada cinta tak terbatas akan kebijaksanaan.

Dan, tegas Silvester,  para filsuf adalah para pencinta kebijaksanaan tersebut.

Menurutnya, dorongan sejati “cinta akan kebijaksanaan” tersebut mengarahkan para filsuf untuk sampai pada “aktus cinta tak terbatas” yang disebut agama sebagai Allah.

“Cinta akan kebijaksanaan dari para filsuf mesti dilatari oleh ‘aktus cinta tak terbatas’ yang memberi energi pada dorongan tak terbatas untuk mengetahui atau mencintai kebijaksanaan,” tegasnya.

Karena itu, lanjut dia, dorongan akal budi yang sejati selalu mengantar orang kepada pertanyaan akan Allah yang digeluti khusus dalam teologi, sehingga teologi hanyalah taraf lanjutan dari dorongan akal budi manusia yang tak terbatas untuk mengetahui pengalaman imannya.

“Filsafat sebagai cara berada, secara substansial berkaitan dengan aktus kasih yang merupakan substansi dari setiap agama dan religiositas otentik,” pungkasnya. (Laporan Frater Danto SVD, Kontributor di Maumere/ARS/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini