Pater Frans Mido SVD

Floresa.co – Nama Frans Mido tak asing lagi di kalangan penghuni dan alumni Seminari Pius XII Kisol, lembaga pendidikan calon imam Katolik yang terletak di Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores

Pada hari Jumat (25/4/2015), misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) ini merayakan 50 tahun imamatnya.

Di usianya yang ke-82, Pater Frans memilih merayakan pesta emasnya itu di Seminari Kisol, bersama para imam, guru, undangan, dan siswa-siswa seminari yang rata-rata berusia belasan tahun.

Usai misa, pihak Seminari Kisol menyelenggarakan acara resepsi sederhana. Namun ucapan syukur atas dedikasinya akan dirayakan bersamaan dengan perayaan 60 tahun lembaga dalam sebuah acara akbar pada 8 September mendatang.

Sekilas Perjalanan Hidup

Pater Frans lahir pada tanggal 7 November 1936 di Worosambi (Bade), Tonggo, Nangaroro, Nagekeo.

Perjalanan panggilannya dimulai setelah ia menamatkan pendidikan di V.V.S. (Vervolgschool) di Maunori (1950).

Ia kemudian menempuh pendidikan menegah di Seminari Mataloko (1950-1957).  Pada tahun 1957 ia masuk Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan ditahbiskan menjadi imam pada 25 April 1965 di Ende.

Pastor Frans saat masih muda
Pastor Frans saat masih muda

Pada Juli 1966, ia ditugaskan di Seminari Kisol. Setelah sempat mengajar, ia lalu melanjutkan studi di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Jurusan yang diambilnya adalah Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pada tahun 1970, ia berhasil menyandang gelar Sarjana Muda. Baru pada 1982, ia memperoleh ijazah sarjana.

Sebagai seorang guru, pengalaman mengajarnya sudah tercatat di banyak tempat.

Selain di Seminari Kisol pada 1970-1978 dan 1982-2006, imam yang mengambil motto “Ia harus makin besar” ini juga membagi ilmu di banyak tempat.

Ia pernah mengajar di SDN Kisol, SMP Pancasila, dan SPG C II di Borong (1966), SMA Kolese De Britto di Yogyakarta (1968-1969) dan sebagai dosen tamu pada STKIP Katekis St. Paulus di Ruteng, Manggarai.

Selain tugas mengajar, ia menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP/SMA (1974-1978) dan Rektor Seminari Kisol (1982-1985).

Tegas, Lucu dan Produktif

Bertahun-tahun menjadi pengajar, ada banyak kesan mengenai kepribadian Pater Frans.

Venansius Haryanto, calon imam Keuskupan Ruteng yang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Kisol, mengenal sosok Pater Frans sebagai orang yang tegas dalam prinsip.

“Jika ya, katakan ya, jika tidak katakan tidak, jika benar katakan benar, jika salah katakan salah. Itulah Pater Frans Mido, sosok yang begitu tegas” ujar lulusan SMA Seminari Kisol tahun 2008 ini.

Menurutnya, ketegasan Pater Frans tidak hanya tampak dalam tugasnya sebagai pembina, tetapi juga menyata dalam tugasnya sebagai seorang pendidik.

Hal itu diamini oleh Frain Jebada, mantan mahasiswa Departemen Matematika Terapan IPB yang sekarang bekerja di Metro TV.

Menurut pemuda asal Ranggu ini, nama Pater Frans mengingatkannya pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, logika, dramaturgi dan komunikas massa.

“Ketegasan Pater Frans kadang bikin deg-degan” katanya.

Pasalnya, pater Frans mempunyai cara yang unik dalam memeriksa jawaban murid-muridnya. Konon,
ia memakai lup (kaca pembesar) untuk memperhatikan tanda baca pada kertas jawaban ujian.

Sementara bagi Peter Dabu, sisi humor dari pater Frans yang ia kenang. Setiap kali mengajar, Pater Frans mempunyai kekhasan dalam nada bicaranya.

“Setiap mengajar dia selalu bilang, ‘ia to itu‘ atau dia akan bilang ‘yang lain tidak’,” kata wartawan koran ekonomi Kontan yang tinggal di Jakarta ini.

Kerap ia cukup usil, lantas mulai menghitung dengan mencoret di atas kertas ketika Pater Frans berujar demikian.

Di luar kesan-kesan tersebut, tentu Pater Frans tergolong seorang pengajar yang produktif. Ada beberapa buah pikirannya yang telah dibuatkan stensilan yang masih sangat relevan sampai saat ini, antara lain stensilan Dramaturgi (1968), Roman dan Masalahnya (1969), Kamus Pembaca (1971), Sari Kesusastraan Indonesia dari Angkatan ke Angkatan (1972), dan Kesusastraan Melayu Lama (1977).

Yang dikenal sebagai opus magnum (maha karya) dari Pater Frans adalah buku berjudul Cerita Rekaan dan Seluk-beluknya yang diterbitkan pada tahun 1994. Buku ini masih dipakai oleh para mahasiswa, guru, dan dosen di berbagai kampus.

Kesetiaan yang Sulit Diragukan

Dalam acara syukur hari Juma lalu, kesetiaan pater Frans Mido menjadi sorotan utama.

Praeses Seminari Kisol, Romo Dionisius Osharjo, Pr dalam khotbahnya Misa syukur mengatakan, kesetiaan pater Frans menjadi sumber keteladanan.

“Pater Frans adalah sosok yang setia sebagai pembina dan pendidik di lembah Sanpio,” kata imam ini.

Menurut guru sejarah lulusan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ini, Pater Frans selalu menggemakan nama Kisol dalam batinnya sejak Juli 1966.

Tentu kesan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam keseharian, kesetiaan Pater Frans tidak sulit untuk dibuktikan.

Ia jarang alpa menghadiri seluruh kegiatan yang ada di Sanpio. Selain itu,  imam berbadan kecil dan tinggi ini tampak konsisten menghayati imamatnya.  Ia setia merayakan Ekaristi pribadi tiap hari dan membaca buku brevir.

Akhir-akhir ini, kebiasaan itu jarang dilakukan. Kondisi kesehatannya mulai menurun karena faktor umur. Ia sekarang tidak bisa merayakan Ekaristi sendiri karena persoalan mata yang sudah kian kabur termakan usia.

Akan tetapi soal kesetiaannya kepada Seminari Kisol tidak diragukan lagi.  Dalam beberapa kesempatan, ia mengaku, ia  tidak mau meninggalkan Sanpio di hari tuanya. Seminari Kisol adalah hidup dan matinya.

Ketika ditanya soal kesetiaan, Opa Frans–demikian ia biasa dipanggil–mengatakan, kesetiaan diperoleh melalui proses meniru. Pengalaman di dalam keluarga adalah contoh yang ia berikan.

“Ketika seorang ibu di dapur lagi memasak, saya melihat dan meniru, akhirnya saya mahir memasak. Demikianpun kesetiaannya.” akunya.

Ia juga belajar dari kesetiaan pendiri Seminari Kisol Pater Leo Perik SVD. “Pater Leo begitu setia mengabdi di tempat ini. Lambat laun, kesetian Pater Leo juga membentuk saya sebagai pribadi yang hanya setia dan setia” tuturnya.

Soal alasan pengabdiannya yang begitu lama di Kisol, ia mengatakan,  karena saya tidak pernah memikirkan yang lain selain mengabdi dan terus bekerja untuk kejayaan Sanpio.

“Hari-hariku sibuk dengan memeriksa pekerjaan anak-anak, tak terasa hingga emas imamatku. Saya hanya menghabiskan seluruhnya di tempat ini, “ ujar Opa Frans. (VH/GA/Floresa)