Kuliah, Lulus, (Berharap) Jadi PNS

2
6964
Lorens Santos

Oleh : LORENS SANTOS

Diskursus tentang lulusan perguruan tinggi di Indonesia dan relevansinya dengan dunia kerja tak pernah berhenti. Munculnya berbagai persoalan khususnya penganggur terdidik dari perguruan tinggi, baik pada jenjang diploma ataupun sarjana yang masih tinggi menjadi ancaman serius bangsa ini dalam persaingan tenaga kerja menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kompas.com (21/4/2015) menyebutkan bahwa setahun terakhir, tingkat partisipasi angkatan kerja turun 0, 17 persen. Jumlah pengangguran memang berkurang 2 persen dalam setahun terakhir, yakni 7,41 juta orang menjadi 7, 24 orang. Meski demikian, terdapat peningkatan jumlah penganggur terdidik, yakni lulusan perguruan tinggi, baik D-3 maupun S-1. Penganggur D-3 meningkat 0,19 persen, sementara penganggur lulusan S-1 meningkat 0,26 persen. Jumlah penganggur tersebut mencapai 853.000 orang.

Memilih Jurusan

Mendapatkan pekerjaan sangat erat kaitannya dengan memilih jurusan. Hal ini tentu tidak mutlak karena ada juga tenaga kerja yang bekerja tidak linear dengan jurusan yang dia tempuh di pendidikan tinggi. Namun, penting untuk diingat bahwa ketika kita mencari kerja, referensi kita yang pertama adalah yang sesuai dengan keterampilan dan keahlian yang kita tempuh di pendidikan tinggi.

Data yang dirilis oleh Dirjen Pendidikan Tinggi terkait jumlah program studi di Indonesia pada tahun 2015 menunjukkan bahwa bidang ilmu pendidikan menempati urutan teratas dengan jumlah 4.506 program studi, bidang ilmu sosial berjumlah 3.398 program studi, bidang ilmu kesehatan berjumlah 3.032 program studi, diikuti bidang ilmu lain seperti ekonomi, pertanian, MIPA, agama, humaniora, dan seni.

Dari data di atas kita melihat bahwa jurusan atau dalam cakupan yang lebih kecil yaitu program studi bidang ilmu pendidikan dianggap menjadi jurusan yang paling banyak dibuka pada jenjang pendidikan di Indonesia.

Dalam memilih jurusan saat menempuh pendidikan tinggi, motivasi dan cita-cita seseorang perlu dikaji secara mendalam. Hal ini tentu terkait dengan bagaimana pilihan dia nantinya ketika menyelesaikan studi. Apakah jurusan yang dia pilih nantinya akan membantu dia dalam mendapatkan pekerjaan atau menciptakan pekerjaan. Atau jangan sampai ketika memilih jurusan, seseorang tidak mempunyai wawasan ke depan dan menyeluruh terkait dengan pekerjaan, keterampilan, atau keahlian yang akan diterapkan sebagai modal dalam bekerja.

Penulis mencoba mengamati pilihan jurusan di pendidikan tinggi pelajar dari Manggarai, NTT, misalnya yang dominan di bidang kesehatan dan pendidikan. Pemilihan jurusan ini erat kaitannya dengan motivasi kembali berkarya di daerah asal, keinginan untuk menjadi PNS, rendahnya pengetahuan akan jurusan bidang ilmu lain, stigma yang tertanam pada diri orang tua, dan lain-lain.

Tanpa mengerdilkan pilihan seperti itu, hal ini boleh dikatakan sudah jauh tertinggal ketika saat ini banyak orang yang termotivasi memilih jurusan yang erat kaitannya dengan hobi, kewirausahaan, industri kreatif, dan bidang-bidang lainnya yang berskala nasional bahkan internasional. Pentingnya pemahaman akan daya saing, keterampilan, dan kemampuan di masa depan menjadi motivasi dalam pemilihan jurusan. Kemampuan membaca peluang masa depan juga menjadi hal penting, terkait dengan pangsa pasar, kebutuhan akan tenaga kerja di bidang yang digeluti. Bahkan hal ini terkadang berkaitan langsung dengan lembaga pendidikan tinggi yang akan dipilih. Orang memilih jurusan dalam bidang tertentu, mencari perguruan tinggi yang unggul dalam bidang tersebut, dan profil lulusan yang telah dihasilkan.

Enterpreneurship Deveplopment vs Jadi PNS

Entrepreneurship development (pengembangan kewirausahaan) merupakan konsep yang sudah sejak lama digodok dan terus digalakan untuk mencoba menekan jumlah pengangguran terdidik dan malah mendorong lulusan pendidikan tinggi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini menjadi mutlak terus dikembangkan di tengah kondisi perekonomian yang belum menjanjikan pertumbuhan yang tinggi dan penyerapan lapangan kerja untuk kaum terdidik yang masih rendah.

Dalam kajian Litbang Kompas (21/04), semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi keinginan untuk memiliki usaha. Untuk responden pendidikan tinggi, 15,6 persen tidak mempunyai cita-cita berwirausaha, 59,4 belum tercapai keinginannya menjadi wirausaha, dan 24, 2 persen sudah menjadi wirausaha.

Hal yang paling utama dalam menentukan kemampuan dan kesuksesan pengembangan kewirausahaan adalah kegigihan, kreativitas, dan inovasi, yakni sebanyak 32,3 persen. Hal ini bahkan mengungguli faktor modal, yakni 23,5 persen,  yang menurut anggapan banyak orang adalah faktor utama dalam berwirausaha. Selain itu, masih ada faktor lain, yakni keterampilan, pekerja/sumber daya manusia, dan strategi pemasaran atau promosi.

Dalam konteks yang lebih kecil, kencenderungan orang untuk menempuh pendidikan tinggi yang lebih berorientasi untuk menjadi PNS tentu berbuntut pada pemilihan jurusan yang mengarah ke sana. Tidak adanya motivasi atau keinginan untuk menjadi wirausaha lalu berdampak pada menumpuknya tenaga kerja terdidik yang rela antre untuk menjadi PNS. Hal ini bahkan menjadi lebih miris lagi jika proses menjadi PNS harus melewati jalan yang panjang, bertahan menjadi honorer dengan gaji dan fasilitas yang kecil tanpa memikirkan cara lain dalam hal ini berwirausaha.

Peluang berwirausaha di sektor pertanian, peternakan, dan industri keratif tentu masih besar. Namun, kecenderungan untuk menjadi PNS entah karena berbagai alasan, menutup pintu berwirausaha.  Masihkah keadaan ini akan terus berlanjut? Sementara tanpa kita sadari, dalam hitungan bulan, calon tenaga kerja baru yang juga mengantre dalam barisan calon PNS terus bertambah. Bisa saja nantinya kita terjepit, lowongan yang tak sebanding dengan jumlah pelamar, ancaman moratorium pengangkatan PNS, munculnya lulusan baru yang lebih berkualitas, kalah bersaing dalam hal kemampuan dan keterampilan. Sementara kita terus berusaha berada di antara barisan itu, kita lupa melihat dan mencoba peluang baru, yakni mengembangkan usaha sendiri.

Penulis adalah Guru di Mahatma Gading School dan Dosen di Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), Jakarta

Advertisement
BAGIKAN

2 Komentar

  1. Betul Pak, itulah iming-iming dan stigma hidup mapan lewat PNS tanpa melihat usaha dan cara lain #TaktertarikjadiPNS 😀 Hahaha

  2. Kita semua sama-sama tahu, bahwa perguruan Tinggi di Indonesia pada umumnya mencetak sarjana utk mencari kerja, bukan sarjana yang menciptakan kerja. Sehingga apa jadinya, pengangguran sarjana terjadi di mana-mana.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini