Pilkada: Ajang Merebut Emosi Pemilih

0
278
Ilustrasi

Floresa.co—Perhelatan pilkada masih menunggu dalam hitungan bulan. Namun panasnya persaingan sudah mulai terasa. Dalam halaman berita Floresa.co dan media sosial seperti facebook, perdebatan sudah mulai mencuat secara terang-terangan.

Yang bikin terperangah adalah konten perdebatannya. Jauh dari mengedepankan pilkada sebagai ajang mempertaruhkan gagasan dan pertanggungjawaban yang rasional atas program-program kerja, yang justru mulai bergulir adalah isu-isu primordial. Program-program kerja mulai digerus oleh perdebatan asal-usul daerah, garis keturunan, suku, agama, dan lain sebagainya.

Pernyataan bakal Calon Bupati Manggarai, Philipus Mantur dapat menjadi contoh. Ia sudah berani memantik api perdebatan dengan menyinggung daerah asal. Menurutnya, beberapa calon lain seperti Heri Nabit, Marsel Sudirman dan Viktor Slamet tidak berasal dari Satermese. Tak ayal, pernyataannya itu menimbulkan perdebatan panjang di facebook.

Tentu, gejala-gejala sosial demikian mengundang pertanyaan. Apakah memang konten perdebatan demikian dianggap tidak fair? Sejauh manakah sentimen primordial itu sangat penting dalam penentuan hasil pemilu?

Sebetulnya bukan pilkada kali ini saja sentimen primordial demikian diangkat dan relevan. Dalam tiap pemilu entah presiden, gubernur, bupati, bahkan kepala desa, provokasi primordial sudah sering. Di negara maju pun, sentimen primordial kerap diangkat. Tak jarang menyinggung sentimen primordial terbukti efektif dan menjadi pukulan pamungkas bagi lawan.

Mempermasalahkannya di satu pihak memang bisa dianggap betul. Menyeret entitas primordial dalam pilkada bisa merusak rasionalitas pemilih. Kontes pilkada lantas jatuh pada diskusi-diskusi banal tentang asal-usul, agama, suku, dan lain sebagainya ketimbang visi dan misi dalam memimpin daerah.

Akan tetapi, di lain pihak, kehadiran sentimen primordial seolah tak terelakkan tiap menjelang pemilu. Corak primordial telah lama menjadi salah satu variabel penting atau komoditas politik untuk meraih suara, terlepas dari potret buramnya yang memperlihatkan perceraian antara politik dan moralitas.

Mengingat faktanya demikian, kearifan dalam menimbang sentimen primordial lebih baik diprioritaskan daripada menghujatnya. Maka sebaiknya dipertanyakan, ada kekuatan apa dibalik sentimen primordial itu sedemikian sehingga harus dihembuskan di saat-saat menjelang pemilu?

Pertanyaan inilah yang membawa pada kesadaran baru tentang politik. Politik ternyata bukanlah proses kognisi belaka. Mengetahui program-program kerja dan visi misi tidaklah cukup untuk menggedor rasa simpati masyarakat pemilih.

Sebaliknya, ketika dalam politik isu-isu primordial sangat berpengaruh, di situlah kedudukan emosi juga ternyata menduduki tempat sentral. Artinya, asal-usul, agama, suku, budaya,  silsilah keluarga merupakan entitas yang bertalian dengan aspek emosional manusia. Sebab emosi—yang menyentuh pikiran dan perasaan—merupakan anugerah sekaligus hasil proses belajar dalam sebuah konteks sosial dalam kurun waktu tertentu.

Emosi dikatakan penting karena hanya emosi yang bisa menggerakkan manusia untuk bertindak. Dalam tataran kognisi orang masih dapat memilih untuk bertindak atau tidak, tetapi pada level emosi, hanya ada tindakan. Orang yang merasa kagum, takut, gelisah, senang, sedih, penasaran otomatis terdorong untuk berbuat sesuatu.

Karena rasa takut misalnya, orang bisa mengambil langkah seribu pada saat melewati lingkungan kuburan. Atau seorang peneliti terdorong untuk mengadakan suatu penelitian karena diransang oleh rasa penasaran dan kagum atas suatu gejala alam.

Sementara, kalau hanya sebatas pengetahuan, tetap masih ada pilihan. Soal lampu merah, siapapun tahu, lampu merah berarti berhenti. Tetapi meskipun paham artinya demikian, beberapa orang masih berani untuk menerobosnya di saat lampu merah masih menyala. Itu karena hanya sebatas moral knowing.

Atas dasar itu, dalam konteks pilkada, menyentuh emosi masyarakat pemilih adalah seharusnya tujuan dari tiap kampanye. Hanya saja harus diingat bahwa emosi punya cakupan yang lebih luas. Entitas primordial hanyalah salah satu aspek dari emosi.

Mengambil keuntungan dari eksploitasi entitas primordial untuk meraup suara sah-sah saja. Akan tetapi pilihan itu bukan tanpa risiko. Sekalipun itu bisa efektif, apalagi berhadapan dengan pemilih belum “dewasa”, namun hal itu bisa menjadi senjata makan tuan. Masyarakat pemilih bisa menaruh simpati kepada “korban”.

Tentu ada cara yang lebih elegan dalam menggerakkan emosi masyarakat pemilih. Para kandidat mesti tahu dan menggali sedalam-dalamnya apa yang menjadi persoalan pokok dalam masyarakat. Daripadanya visi dan misi yang menjawab permasalahan itu perlu dibangun. Keberpihakan tawaran program perubahan itu, dalam balasannya, tentu saja akan meraih simpati masyarakat pemilih.

Gubernur DKI Jakarta, Ahok adalah contoh nyata bagaimana disposisi politisnya yang memihak kepentingan rakyat mampu melampaui pelbagai sentimen keagamaan dan etnisitas yang berusaha menghalanginya. Ia disukai karena keberpihakannya kepada kepentingan mayoritas masyarakat pemilih. Bukan karena ia beragama Islam atau seorang Betawi.

Atas dasar itu, memainkan emosi pemilih memang krusial menjelang pilkada. Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana memanfaatkannya dengan tepat dan bijak. (Gregorius Afioma/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini