Albertus N Tovin: Saya Akhirnya Mengerti Mengapa Kritikan Itu Perlu

1
1166

Kolom ini, disediakan khusus oleh Floresa.co untuk tempat berbagi pengalaman, cerita-cerita bagi anak muda, putera-puteri asal NTT . Isinya tak seserius – kalau boleh dikatakan demikian – dengan tulisan-tulisan lain yang dipublikasi Floresa.co. Di sini, kami membagi tulisan-tulisan santai, yang ringan untuk dicerna. Jika Anda tertarik menulis di sini, silahkan kirim artikel ke redaksi.floresa@gmail.com   

 

Menjadi anak seorang pejabat publik memang tidak mudah. Ketika seorang ayah menjadi sasaran kritikan publik, batin seorang anak tentu tidak tenang, bahkan tak jarang turut merasa jengkel.

Pergulatan demikian dialami oleh Albertus N Tovin. Pemuda yang lahir pada 15 November 1994 ini lantas berusaha bagaimana ia menyikapi keadaan batinnya itu secara bijak. Meskipun menyakitkan, ia sendiri tak mau penilaian publik itu selalu menjadi cambuk atas dirinya.

Dalam forum ini, mahasiswa hukum asal Manggarai Timur ini akan membagikan refleksinya dalam menimbang setiap kritikan terhadap orangtuanya.

Simak tulisannya pada bagian berikut:

Pernahkah anda hidup dan bergaul di antara oarng-orang yang mengkritik orang yang Anda sayangi? Apa yang Anda rasakan saat mendengar dengan telinga sendiri mereka membicarakan orang yang Anda sayangi itu?

Saya sendiri mengalami hal demikian di Jakarta. Saya adalah putera dari kepala daerah di salah satu kabupaten di NTT, tepatnya di Kabupaten Manggarai Timur.

Memang, pejabat publik pada umumnya menjadi sasaran kritikan dari siapapun. Di Jakarta – tempat saya tinggal saat ini -, saya berada di antara orang-orang yang biasa mengkritik bapa saya.

Ketika pertama kali datang ke Jakarta, mulanya saya tidak mengenal mereka.

Perkenalan terjadi setelah seminggu saya di Jakarta. Saat itu, saya diajak seorang teman mengunjungi suatu rumah di Jakarta Pusat.

Sebagai tamu, saya datang dengan keadaan tidak tahu tentang orang-orang di rumah tersebut.  Saat itu, saya hanya mampir sebentar di rumah itu.

Sekilas saya merasa biasa-biasa saja dengan situasi di situ. Namun, saya kaget, ketika setelah pergi dari rumah itu, sahabat dekat saya mengingatkan begini, ‘’Hati-hati  dengan orang –orang  di rumah itu karena mereka adalah orang-orang yang sering mengkritik bapamu.’

Jujur, kala itu, saya kaget. Dan spontan muncul perasaan takut.

Saya pun kemudian memutuskan mengambil jarak dan menjauh dari orang-orang di rumah itu. Saya lebih memilih bergaul dengan orang-orang yang sudah saya kenal, juga dengan teman-teman di kampus.

Cukup lama saya menjauh. Tetapi, saya tidak bisa lama-lama menghindar, karena tempat tinggal saya berada di sekitar rumah itu.

Seiring berjalannya waktu, saya justeru menjadi penasaran. “Bagaimana sebenarnya orang-orang di rumah itu?,” begitu kata hati saya.

Saya pun  perlahan mulai mendekat ke rumah itu. Saya mulai bergaul dengan orang-orang di situ, yang memang sebagiannya sudah saya kenal.

Perlahan-lahan, setelah kerap bertemu, saya mulai mengenal kepribadian orang-orang yang oleh sahabat saya disebut suka mengkritik bapa saya.

Pengalaman perjumpaan terus-menerus, membuat saya nyaman berada di antara mereka. Saya terbiasa bergaul dan bersenda gurau dengan mereka.tovin

Saking akrabnya dengan orang-orang di rumah itu, suatu kali mereka bercanda dan menantang saya begini, ‘’Kalau kamu berani, kritik kebijakan bapamu!’’

Sanda gurau semacam itu kemudian sering saya terima. Saya pun akhirnya merasa terbiasa.

Kedekatan dengan orang-orang di rumah itu, membuat saya kemudian sadar, apa  sebenarnya alasan mereka mengkritik bapa saya.

Pengalaman keterlibatan di organisasi kampus dan beberapa ormas yang ada di Jakarta, membuat saya mulai makin paham, seperti apa menjadi pejabat publik dan apa pentingnya kritikan untuk seorang pejabat publik.

Saya lalu sampai pada titik perubahan cara pandang. Dalam diri saya, ada kesadaran demikian: Mereka mengkritik bapa saya, bukan karna benci, cemburu, sengaja menyerang secara personal.

Akan tetapi, mereka mengkritik kebijakan pemerintah yang salah arah. Tentu saja tidak semua kebijakan pemerintah salah. Ada banyak hal yang dibuat pemerintah yang membantu masyarakat menikmati kesejahteraan.

Saya paham, kebijakan yang salah perlu diluruskan atau dikritik. Kritikan itu perlu untuk mengontrol pejabat publik, agar tidak menyalahgunakan wewenang.

Dari situ saya paham dan mulai belajar pentingnya  kritikan. Dan, saya tahu orang-orang yang mengkritik bapa saya memiliki kepribadian yang baik dan punya keinginan membangun daerah.

Saya pun memutuskan untuk hidup dan belajar bersama mereka.

Memang, bukan pemimpin sejati kalau tidak siap dikritik. Mengkritik pemimpin adalah hal yang biasa karena dalam mengambil kebijakan publik dia pasti akan selalu dinilai oleh orang banyak. Karena itu, setiap pemimpin dituntut untuk selalu siap menerima kritikan .

Ketika saya tahu mereka mengkritik bapa saya, saya sadar itu adalah konsekuensi dari status bapa sebagai pejabat publik.

Sekarang, saya selalu berpikir bahwa kritikan yang mereka sampaikan adalah kritikan yang membangun, yang justeru membantu bapa untuk mengambil kebijakan yang  tepat demi kebaikan masyarakat yang ia pimpin.

 

Advertisement

1 Komentar

  1. cerita yg bagus. jadi anak pejabat publik memang harus demikian. anak pejabat tak boleh terlena dgn nama besar ortunya tp isilah dengan hal2 yg membangun termasuk ikut organisasi………….

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini