Kisah Suami Istri Tuna Netra di Labuan Bajo Menyambung Hidup dengan Klinik Pijat

0
627

 

 Keluarga Simon Petrus Bonsafian dan Emirensiana Diduk (Foto : Ril Ladur/Floresa)
Keluarga Simon Petrus Bonsafian dan Emirensiana Diduk (Foto : Ril Ladur/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co -Keterbatasan fisik tak membuat pasangan suami istri Simon Petrus Bonsafian dan Emirensiana Diduk kehilangan asa. Meski tak mampu melihat, keduanya tetap bisa membangun sebuah keluarga yang mandiri.

Keduanya menikah tahun 1999 dan kini dikaruniai tiga orang anak. Untuk menghidupi keluarga, pasangan ini mengandalkan penghasilan dengan membuka klinik pijat di Kampung Wae Kesambi, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Flores.

Simon berasal dari Papua. Sedangkan istrinya Emi dari Manggarai. Keduanya saling jatuh cinta di tempat kursus pijat di Bandung tahun 1998.

“Selesai kursus pijat di Bandung, kami langsung memilih ke Labuan Bajo, sejak 2004 kami dibimbing oleh Suster Firgula, buka tempat pijat di depan Puskesmas Labuan Bajo selama tiga tahun,”ujar Simon saat ditemui di kediamannya di Wae Kesambi, Kamis (17/4/2015).

Simon mengatakan atas kebaikan hati Suster Firgula, dia dan istrinya diberikan tanah dan rumah berukuran 7×9 meter. Sejak tahun 2006, pasangan ini pun mendiami rumah yang memiliki tiga kamar ditambah kamar tamu dan dapur itu.

“Saya jadi tuna netra sejak umur 14 tahun karena kena racun bom ikan, sejak dari itu mata saya buta,”cerita Simon mengenang.

Emi sang istrinya juga menjadi tuna netra sejak umur lima tahun. “Gejala awalnya karena panas tinggi,”ujar Emi. Ketika memasuki sekolah dasar Emi pun tinggal bersama suster Firgula. Setelah tamat SMP ia mengikuti kursus pijat di Bandung.

Pelayanan pijat pasangan suami istri ini bisa dilakukan di klinik mereka, bisa juga di tempat klien. Jam pelayanannya dari pagi sekitar pukul 08.00 hingga pukul 20.00.

Tarif sekali pijat untuk waktu satu setengah jam sebesar Rp 70.000. Tetapi kalau pijat di tempat klien ditambah Rp 10.000 untuk ongkos transportasi sehingga menjadi Rp 80.000. Untuk klien tamu hotel di Labuan Bajo tarifnya lebih mahal menjadi Rp 150.000.

Dari jasa pijat ini, keluarga Simon sebulan bisa meraup pendapatan sebesar Rp 1 juta sampai Rp 4 juta. Simon mengakui memang tidak menentu tergantung ada tidaknya orang yang memanfaatkan jasa mereka.

Tapi dari usaha ini, keduanya mampu menghidupi keluarga mereka. Saat ini, anak pertama mereka Maksimus Bonsafia sekolah di Bima,anak kedua Yohanes Saputra Bonsafia masih duduk dibangku SD di Batu Cermin. Sedangkan si bungsu Afrianai Gresia Bonsafi masih umur 2 tahun.

Ril Ladur, kontributor Floresa.co di Labuan Bajo

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini