Alfred Parus: Berkisah Tentang Motang Rua Lewat “Bara di Nuca Lale”

0
2093
Yuri Alfred Parus

Floresa.co – Nama Motang Rua tidak asing bagi telinga orang di Manggarai Raya, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tapi, siapa yang tahu persis kisah sosok yang dikenang sebagai pahlawan itu?

Yuri Alfred Parus menyadari sulitnya menjawab pertanyaan demikian.

Ia mengakui paradoks berikut: Motang Rua sangat terkenal, tapi pengetahuan tentangnya masih sangat terbatas di kalangan orang Manggarai.

“Semua mengamini Motang Rua adalah pahlawan Manggarai, namun kisahnya bagai terselimuti kabut sejarah yang tidak banyak orang tahu,” kata Alfred kepada Floresa.co.

Meski pemuda 31 tahun asal Ruteng ini sudah lama menyadari hal itu, tapi, ia tak menemukan, apa yang bisa dilakukan agar kisah Motang Rua bisa terpatri dengan baik di benak dan hati orang-orang Manggarai.

Motang Rua, pahlawan asal Manggari, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Motang Rua

Motang Rua yang lahir pada tahun 1860-an, adalah sosok pahlawan yang menentang kolonialisme Belanda di tanah Manggarai.

Heroisme yang ia tunjukkan membuatnya diabadikan sebagai nama alun-alun kota Ruteng.

Namun, hingga kini, sumber sejarah yang mengisahkan tentangnya sangat minim.

Ini yang membuat kisah tentang Motang Rua tidak populer bahkan di kelas-kelas sekolah di tanah Manggarai.

Para siswa lebih mengenal cerita-cerita kepahlawanan Pangeran Dipenogero, Imam Bonjol dan pahlawan nasional lainnya, ketimbang kisah heroisme seorang Motang Rua.

Jatuh Hati pada Novel

Keperihatinan Alfred terhadap kondisi ini menemukan jalan keluarnya ketika pada 10 November 2014 lalu, dalam rangka Hari Pahlawan Nasional, Floresa.co memuat seri artikel mengenai kisah Motang Rua.

Pasca membaca artikel-artikel itu, niat Alfred mendalami kisah Motang Rua kian menguat.

“Langsung terbersit ide dalam benak saya untuk menulis kembali kisah Motang Rua dalam bentuk sebuah novel.”

Tanpa banyak pertimbangan lagi, ide tersebut segera ia realisasikan. Ada hal “aneh” yang ia rasakan saat itu, semacam dorongan yang sulit sekali ia lawan untuk segera membuka laptop lalu mengetik kata demi kata.

Alfred pun mulai melakukan riset kecil-kecilan dengan mengandalkan fragmen-fragmen tulisan mengenai Motang Rua yang tersebar di dunia maya.

Selama penulisan novel ini, meski alur cerita sudah ada di kepalanya, namun tantangan yang paling besar adalah merekonstruksi kehidupan masyarakat Manggarai pada awal abad 20.

Apalagi, novel ini bukan hanya menjadikan sejarah sebagai latarnya, namun mengangkat sejarah itu sendiri sebagai ceritanya.

“Pusing! Bagaimana tidak, waktu itu saya belum lahir! Bahkan kedua orang tua saya juga belum ada”, katanya.

Untunglah, di dunia maya masih ada sedikit informasi, termasuk dokumentasi foto sebuah website Belanda mengenai masyarakat Manggarai pada awal abad 20.

Lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini juga memanfaatkan buku berjudul The Manggaraians”, karangan Maribeth Erb, antropolog dari Australia. Itu ia jadikan referensi untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat Manggarai ketika Motang Rua melakukan aksi perlawanan terhadap orang Belanda.

“Saya beranikan diri untuk menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Dan syukur, naskah novel 366 halaman ini pun akhirnya selesai.”

Berkat ketekunan, Alfred menuntaskan karyanya itu dalam dua bulan.

Novel "Bara di Nuca Lale"
Novel “Bara di Nuca Lale”

Novel perdana ini Alfred beri judul Bara di Nuca Lale. Nuca Lale merupakan sebutan lain untuk Manggarai, sebuah istilah yang memang cukup populer dan Alfred lebih senang menyebut Manggarai dengan kata itu.

Sebenarnya, akunya, judul novel itu Motang Rua. Namun, dalam perjalanan, ketika menyusun alur, kisah konflik dalam novel ini semakin berkembang.

“Bukan saja sekedar Motang Rua versus Belanda. Ada pula pihak pribumi yang gunakan kesempatan itu untuk mencapai tujuan mereka sendiri”, katanya.

Dalam novel ini, Alfred mengangkat sejumlah kisah heroik Motang Rua (Ame Numpung), termasuk aksinya menewaskan 12 serdadu Belanda (Ata Nggera) di sebuah daerah bernama Ngalor Sua, yang kemudian berbuntut pada penyerangan Belanda atas benteng pertahanan Motang Rua di Kuwu.

Novel ini juga memuat berbagai informasi mengenai Manggarai, termasuk sejarah dan adat istiadat.

Meski mengangkat kisah sejarah, sebagai sebuah novel, di dalamnya nuansa fiksi juga terasa lewat hadirnya kisah-kisah intrik yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Kendati Motang Rua sebagai tokoh sentral cerita, novel ini diperkaya dengan tokoh-tokoh lain dengan kisah-kisah mereka sendiri.

Selain itu, kata Alfred, tidak seperti kisah kepahlawanan lain yang tempatkan Belanda sebagai pihak antagonis yang murni jahat.

Serdadu Belanda dalam novel itu juga dimanusiakan sedemikian rupa melalui penekanan beberapa tokoh serdadu dengan konflik batin mereka masing-masing.

Apresiasi

Sebagian novel ini sudah dijual di kalangan orang Manggarai, baik yang menetap di Manggarai Raya, maupun yang ada di tanah rantau.

Saat ini, Bara Nuca Lale, dipublikasi secara independen, karena itu mereka yang berminat dapat memesan langsung melalui akun Facebook Alfred dan saluran komunikasi lainnya.

“Namun di masa mendatang, saya akan mencoba mengirimkan novel ini kepada penerbit major agar dapat tersedia di toko buku mereka,” kata Alfred.

Ivan Nestorman, pemusik terkenal dari Manggarai Raya termasuk salah satu orang yang sudah membaca novel ini. “Sebagai novel pertama, kita perlu angkat jempol atas inisiatif kreatif Alfred,” kata Ivan memberi apresiasi.

Ia menegaskan, dalam novel ini Alfred punya kemampuan imaginasi merangkai peristiwa demi peristiwa dengan greget yang membuat pembaca tidak meninggalkan novel ini, tetapi penasaran untuk menghabiskan halaman demi halaman.

Namun, ia memberi catatan, ada detil-detil kisah yang perlu dilengkapi, sehingga pembaca terutama yang bukan orang Manggarai bisa lebih paham setting novel ini. Serta, kata Ivan, juga perlu editing yang lebih teliti lagi untuk sejumlah kesalahan ketikan.

“Tapi tak ada gading yang tak retak. Kita bangga dengan anak muda kreatif seperti dia,” katanya.

Meski dengan sedikit kekurangan di sana-sini, bagi Alfred, novel ini menjadi salah satu ekspresi cintanya akan tanah kelahirannya Manggarai.

“Semoga dengan membaca ini, banyak yang bisa belajar dari heroisme Motang Rua. Lebih dari itu, orang-orang Manggarai bisa lebih menumbuhkan rasa cinta untuk Nuca Lale,” katanya. (ARL/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini