Paskah Sebagai “Peringatan”

0
539

Pastor Willy Gaut SVDOLEH: PASTOR  WILLY  GAUT, SVD

Hari Jumat (3/4/2015), OMK Paroki St Thomas Morus, Maumere, memperingati sengsara dan kematian Yesus dengan menyelenggarakan pagelaran jalan salib hidup, yang populer dengan sebutan tablo. Sebagai salah satu panitia sekaligus moderator OMK Paroki St Thomas Morus, usai pagelaran tersebut, saya diwawancarai oleh reporter sebuah stasiun radio lokal.

Di antara sederet pertanyaan tentang hal-hal teknis penyelenggaraan tablo tersebut, mengemuka pertanyaan penting ini: “Menurut Romo, apa yang menjadi makna dari kegiatan seperti ini bagi orang muda dan juga bagi umat sekalian?”. Saya kaget, lalu spontan memberi jawaban yang intinya demikian. Penyelenggaraan kegiatan ini tentu mengusung makna peringatan.

Tetapi peringatan dalam hal ini selalu dibaca dalam dua arti. Pertama, peringatan sebagai kenangan (memory). Kedua, peringatan sebagai awasan (warning). Kalau peringatan sebagai kenangan terarah pada sesuatu di masa lalu, pada pengalaman real Yesus, maka peringatan dalam arti awasan terarah pada masa sekarang, bahwasannya pengalaman serupa pengalaman Yesus juga masih terjadi pada masa kini.

Kesadaran tentang dua dimensi makna peringatan demikian dapat menjadi titik berangkat untuk merajut makna peristiwa paskah.

Kenangan

Sehubungan dengan peringatan sebagai kenangan, pagelaran tablo bermaksud menghidupkan kembali pengalaman sengsara dan kematian Yesus lebih dari dua ribu tahun silam. Dalam konteks ini, aspek sosio-politis dari peristiwa penghukuman dan penyaliban Yesus mesti ditonjolkan. Menukil kata-kata bernas teolog Elizabeth Schussler Fiorenza: “Kristologi yang bungkam terhadap alasan-alasan sosio-politis menyangkut penghukuman mati Yesus, serta menjadikan Dia model pengorbanan paradigmatis, justru melestarikan lingkaran tindak kekerasan, dan bukannya memberdayakan umat beriman untuk menentang dan merombaknya.”

Dari catatan historis-biblis, jelas bahwa terutama dalam karya-Nya, Yesus sungguh tampil sebagai sosok kontroversial lantaran warta dan tindakan provokatif-Nya amat menggoncang kemapanan religius dan politik pada masa itu. Visi kerajaan Allah dan misi pembebasan demi pemulihan keluhuran martabat manusia sebagai makhluk yang dicintai Allah sungguh bertentangan dengan nilai dan keyakinan yang dipegang elit politik dan religius kala itu. Konon, keberanian radikal dan total melawan arus itulah yang menjadi sebab langsung kematian Yesus.

Tentu saja, aspek ini perlu mendapat perhatian tanpa perlu mengebawahkan keyakinan iman tentang kematian Yesus sebagai perwujudan kehendak Allah untuk menyelamatkan dunia. Yesus diutus untuk mewartakan dan membawa kerajaan Allah bagi dunia dan manusia yang masih dikuasai dan ingin terus hidup dalam semangat dosa, dan karena itu pasti menolak Yesus dan warta-Nya. Tetapi Yesus tidak mundur selangkah pun. Salib adalah bukti konsistensi sikap Yesus, sementara kebangkitan adalah bukti pemihakan Allah pada-Nya.

Awasan

Peringatan dalam arti awasan bermaksud menyadarkan, membuka mata manusia untuk melihat bahwa ketidakadilan dan perlakuan sewenang-wenang yang ditimpakan pada Yesus juga masih jamak ditemukan pada zaman kita sekarang. Masih munculnya elite kekuasaan yang mempertahankan status quo dengan mengorbankan masyarakat kecil dan tak berdaya membuktikan bahwa kekuatan yang dulu ditentang Yesus dan menyebabkan kematian-Nya masih hidup sampai sekarang.

Dalam koridor kesadaran ini, dimensi politis dari iman, dari pilihan untuk mengikuti Yesus secara radikal, mesti terwujud dalam usaha penuh keberanian untuk menentang kekuasaan yang sewenang-wenang, juga ketika nyawa sendiri menjadi taruhannya. Yesus adalah satu contoh historis dan teladan imani tentang konsistensi untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan kedamaian sejati, yang tidak lain merupakan nilai-nilai fundamental kerajaan Allah yang hendak diwujudkan-Nya.

Pengalaman kematian Yesus di salib tentu dapat memberi kesan bahwa usahanya gagal. Atau ikhtiar menegakkan nilai-nilai kerajaan Allah sirna. Tetapi paskah adalah titik balik. Allah membangkitkan Yesus. Pembangkitan Yesus adalah sebentuk peringatan atau awasan dari Allah bahwa Dia tidak pernah berpihak pada kelaliman. Dengan itu, ditegaskan bahwa usaha menentang kekuasaan yang lalim seperti telah dilakukan Yesus mesti terus diperjuangkan, karena Allah memihak dan memberi daya bagi usaha-usaha semacam itu.

Orang yang berjuang demi keadilan dan kebenaran sungguh berada di jalan Allah dan setia mewartakan maksud Allah yang membangkitkan Yesus dari alam maut. Dengan kata lain, setiap usaha yang dilakukan dengan konsisten dan berani melawan kelaliman, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan adalah bentuk pengahayatan dan pewartaan yang paling eksistensial dan berdampak sosial dari misteri paskah.

Pastor Willy Gaut SVD adalah Pastor Kapelan Paroki St Thomas Morus, Maumere, Sikka-Flores.

 

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini