Dhewi Sukur : Jika Menikah Tanpa Gelar

1
837

Kolom ini, disediakan khusus oleh Floresa.co untuk tempat berbagi pengalaman, cerita-cerita bagi anak muda, putera-puteri asal NTT . Isinya tak seserius – kalau boleh dikatakan demikian – dengan tulisan-tulisan lain yang dipublikasi Floresa.co. Di sini, kami membagi tulisan-tulisan santai, yang ringan untuk dicerna. Jika Anda tertarik menulis di sini, silahkan kirim artikel ke redaksi.floresa@gmail.com.

 

10404458_904506626247371_7758365848027987083_n
Dhewi Sukur

“Ini budaya, bukan prinsip ekonomi” demikian salah satu kutipan penting dari tulisan Dhewi Sukur tentang belis di Manggarai. Menurut mahasiswi Universitas Sanata Darma, Yogyakarta ini, ada sejumlah persoalan yang harus dilihat ketika budaya dan ekonomi dicampuradukkan.

Sebagai seorang perempuan yang dibesarkan dalam budaya Manggarai, dia coba mengungkapkan kegelisahannya melalui kolom Aletheia ini. Apa yang dia ungkapkan adalah hasil dari apa yang ia alami sendiri dalam percakapan sehari-hari.

Simak tulisan gadis kelahiran 8 Mei 1994 ini:

 

“Ta Nu. Jangan dulu cepat-cepat nikah kalau belum dapat S1 e. Nanti mahar kawinnya kecil. Keluarga laki-laki anggap enteng. Tidak ada arti ijazah SMA, apalagi cuma SMP. Minimal S1 lah.”

Ini adalah sepenggal kalimat misteri, yang saya dengar sebagai nasehat dari salah seorang paman di akhir sebuah acara pertunangan sepasang muda. Pasangan muda itu memutuskan menikah pada usia 16 tahun.

Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan sedang asyik-asyiknya belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang dibagi menjadi lebih rumit dalam bentuk Kimia dan Biologi. Kala itu, karena faktor umur, saya memutuskan untuk tidak memikirkan omongan paman tersebut..

Namun, ketika pembicaraan soal belis menjadi favorit teman-teman sekelas kami pada bangku SMA, saya kemudian teringat kembali soal nasehat tersebut.

Saya tidak tahu, apakah pernyataan tersebut adalah sebuah kebenaran umum atau hanya opini paman.

Namun, jika pernyataan ini bukan hanya opini, empati kemudian melonjak dari nurani saya. Perasaan ini hadir bukan karena beberapa teman seangkatan kami memutuskan untuk menikah sebelum meraih gelar sarjana.

Perasaan ini muncul lebih sebagai rasa iba terhadap diri saya sendiri yang kebetulan dilahirkan sebagai salah satu putri Manggarai. “Bagaimana nasib saya nanti? Bagaimana kalau tiba-tiba saya putus SMA karena kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan?

A : “ Berapa belis kemarin nu?”

B : “De nu jangan saja omong e. Pas untuk sewa baju nikah di salon samping rumah. Derita Cuma tamat SMA begini enu. Makanya kamu sekolah sampai tamat sarjana e. Berat dibelis macam kami ni e nu”.   

Percakapan iseng dengan salah seorang teman lama yang saat itu baru saja dilamar benar-benar menampar saya dengan keras.  Tamparan tersebut mengisyaratkan 2 hal penting.

534065_315319765243674_1168564681_n
Dewi dalam salah satu pentas budaya Manggarai di Yogyakarta

Pertama, bahwa sepenggal kalimat misteri waktu masa SMP itu bukan hanya opini belaka. Ini terjadi, meski tidak pada semua kasus pernikahan dini.

Kedua, pemahaman saya tentang belis yang diwariskan turun-temurun beresiko salah. Padahal, saya begitu bahagia karena dibesarkan oleh pemahaman tentang belis yang saya pikir baik. Bahwa belis adalah bentuk penghargaan dan ucapan terimakasih seorang lelaki terhadap orangtua gadis yang dia cintai untuk mengizinkannya mempersunting si wanita.

Saya mulai kuatir. Jika belis hadir sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan terhadap seorang wanita dan orangtuanya, mengapa latar belakang pendidikan seperti menjadi tolok ukur terhadap nominal sebuah belis?

Bahwa nominal belis terhadap lulusan sarjana terhitung lebih besar dibandingkan lulusan SMA apalagi SMP, apakah itu berarti mereka yang berhenti pada pendidikan SMP atau SMA  dengan alasan yang bermacam-macam tidak dibesarkan dengan baik oleh kedua orangtuanya dibandingkan dengan para lulusan sarjana?

Ketika latar belakang pendidikan menjadi patokan nominal belis tersebut, ada pergeseran makna belis dari ucapan terimakasih menjadi  “dijual” yang tumbuh dari diri saya sebagai wanita Manggarai.

Segala sesuatunya dikalkulasikan. Perhitungan terhadap pendidikan terakhir dan pekerjaan calon mempelai akan bermuara pada jatuhnya “harga” di malam lamaran.

Mungkin hal ini juga dirasakan oleh teman saya yang mengeluh soal nominal belis tadi. Entahlah. Saya bukan menolak bahwa kalkulasi latar belakang pendidikan bisa menumbuhkan jiwa juang seorang wanita untuk meningkatkan kualitas dirinya. Namun, bukankah belis bicara soal budaya penghargaan yang murni tanpa embel-embel lainnya?

Menghargai bahwa dia adalah seorang wanita hasil karya kedua orangtuanya yang dibesarkan dengan susah payah tanpa campur tangan lelaki yang ingin meminangnya lewat belis.

Lalu, bukankah semua wanita yang nantinya akan dipinang dengan belis merupakan hasil kerja keras orangtuanya? Jika demikian, mengapa harus ada pembedaan nominal? Bagaimana dengan nasib para wanita yang karena keadaan ekonomi tidak dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi?

Bagaimana juga dengan mereka para wanita yang punya mimpi merintis usaha sendiri tanpa lanjut kejenjang pendidikan yang lebih tinggi?

Ini budaya, bukan prinsip ekonomi. Budaya tidak bicara soal sarjana.

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. Thanks enu. Ini tulisan “curahan hati” yang bagus sekali. Budaya kita cenderng menganak-tirikan perempuan. Meninggalkan tulisan seperti ini bagi saya adalah bentuk penyadaranmu bagi masyarakat kita. Semoga ada lebih banyak orang yang tergerak. Kalau kita mengkritik budaya secara umum, kita seperti menghadapi tembok. Tetapi tulisan kecil seperti ini seperti kata Wiji Tukul dalam puisinya adalah biji kecil yang kau semai pada tembok. Perlahan dia akan tumbuh dan tembok itu akan runtuh. Itu adalah saat di mana wanita berdiri sejajar dengan laki-laki dan keduanya saling bergandengan tangan sebagi partner, bukan tuan dan sahaya.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini