Ellsa Hadia: Tak Rela Pulang Kalau Suka-Rela

4
1325

Kolom ini, disediakan khusus oleh Floresa.co untuk tempat berbagi pengalaman, cerita-cerita bagi anak muda, putera-puteri asal NTT . Isinya tak seserius – kalau boleh dikatakan demikian – dengan tulisan-tulisan lain yang dipublikasi Floresa.co. Di sini, kami membagi tulisan-tulisan santai, yang ringan untuk dicerna. Jika Anda tertarik menulis di sini, silahkan kirim artikel ke redaksi.floresa@gmail.com.

1428150348033
Ellsa Hadia

Beberapa tahun terakhir, sebutan “tenaga suka-rela”  menjadi sangat familiar. Suka-rela kerap diartikan dengan suatu sikap yang siap membantu dan menolong orang lain tanpa meminta imbalan apa-apa.

Akan tetapi tak semulia sebutannya, “tenaga suka-rela” sebetulnya menyimpan persoalan tersendiri. Di Manggarai, sebutan tenaga sukarela dilekatkan kepada tenaga kesehatan seperti perawat yang bekerja tanpa digaji sewajarnya. Kadang tiap bulan, mereka tidak mendapat apa-apa meskipun telah bekerja dengan sistem kerja yang ketat sebagaimana pegawai negeri sipil lainnya.

Persoalan ini lantas membawa ketakutan tersendiri bagi para mahasiswa-mahasiswi kesehatan. Elsa Hadia, salah seorang mahasiswi keperawatan semester 6 di STIK Carolus, Jakarta mulai was-was dengan sebutan tenaga suka-rela.

Gadis kelahiran 8 Maret ini akan berbagi melalui floresa tentang kecemasan masa depannya sebagai seorang perawat yang ingin berkarya di Manggarai suatu saat nanti.

Berikut curahan pikiran dan hati alumnus SMP-SMA Fransiskus Xaverius Ruteng ini:

Pada waktu kecil, saya sering ditanya: mau jadi apa jika kelak sudah beranjak dewasa? Biasanya saya enggan menjawab. Tak sedikit pun berpikir menjadi apa nantinya. Seiring bergulirnya waktu dan semakin banyaknya informasi yang terdengar, saya mulai serius memikirkan pilihan spesialisasi pendidikan di perguruan tinggi. Hingga pada suatu waktu, saya jatuh cinta pada profesi yang satu ini, PERAWAT. Jangan tanya mengapa, sebab jatuh cinta tak butuh alasan.

Menekuni kuliah di bidang kesehatan, memang selalu menarik. Selain mendapatkan ilmu yang tergolong istimewa, berada di sini adalah kesempatan terbaik untuk mengatur dan menjaga pola hidup yang sehat. Ilmu yang didapatkan pun tidak mengawang-awang, tetapi lebih membumi karena soal kesehatan orang per orangan; menyangkut kehidupan fisik kita. Kejutan-kejutan kecil berupa pengetahuan baru yang didapatkan, membuatku semakin mencintai profesi perawat.

Saya tak terlalu peduli akan penilaian orang terhadap profesi ini dan senantiasa menanggapi santai saat orang lain tidak menaruh hati pada profesi perawat. Sebagian besar masyarakat masih menghargai kami yang menjadi perawat. Pernah, ada yang terang-terangan memberikan pujian.

“Menjadi perawat itu mulai banget ya”.

20150404192010
Ellsa bersama teman-temannya di STIK Carolus Jakarta

Dinilai mulia, mungkin karena bisa merawat dan mengobati orang sakit tanpa mengenal lelah. Bagi seorang perawat, kegagalan terbesar yang sering dikenang adalah bahwa ia pernah tidak berhasil menyelamatkan satu nyawa. Perawat tak pernah kenal tanggal merah atau weekend. Sebab, penyakit enggan bertandang hanya pada jam-jam dinas. Tak berlebihan, jika saya sematkan julukan “klinik berjalan” bagi saya dan segenap kolega yang menekuni profesi ini. Melayani dengan tulus dan segenap hati adalah semboyan yang senantiasa diprasastikan pada setiap hati dan pribadi kami. Dan penting, bahwa saya sangat mencintai profesi ini.

Mengenyam pendidikan di tanah orang, jauh dari kerabat dan orang tua adalah salah satu hal tersulit yang pernah kuhadapi. Meski sulit, tapi saya harus pergi dan berguru di negeri orang demi mendapatkan yang terbaik. Saat ingin kuliah di Jakarta, sempat saya bernazar: suatu waktu saya akan kembali untuk berkarya di sini, di tanah sendiri—bumi Manggarai.

Memilih berkarya di daerah bukan tanpa alasan. “Hebat di tanah orang tidak akan membuatmu bahagia jika engkau tidak berbuat apa-apa untuk tanah asalmu sendiri”. Kiranya jargon ini yang menginspirasi banyak putera dan puteri daerah untuk memilih pulang. Kecintaan dan dorongan untuk membangun daerah masih merupakan impian sebagian besar pemuda dan pemudi idealis dari daerah.

Di daerah, ibarat gayung enggan bersambut, niat-niat baik para putera dan puteri daerah kadang tidak terfasilitasi secara memadai. Situasi di daerah, membuatku menjadi cemas. Terlalu banyak cerita tentang kisah duka menjadi “tenaga sukarela” di daerah, terlebih Manggarai. Pelangi menawan yang pernah kubayangkan, lambat laun tertutup kabut pilu kisah tragis para sukarelawan. Mendengar berbagai kisah getir mereka, saya jadi hopeless !!!

Term “tenaga  sukarela” sebenarnya cukup menggelitik. Sakit dan penyakit yang diderita masyarakat Manggarai adalah sakit-penyakit biasa yang juga diderita masyarakat pada umumnya. Mulai dari batuk-pilek sampai jantungan. Sakit-penyakit ini bukan wabah atau bencana alam. Mengapa harus ada “sukarelawan”?

Dari porsi kerja; tenaga sukarela mendapatkan jam dinas yang sama banyaknya dengan para perawat yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Juga, sama-sama dituntut profesional, namun tidak dihargai—dari segi upah. Misalnya, tenaga sukarela digaji sekali dalam tiga bulan dengan upah yang sangat minimum. Alibi para pemegang kekuasaan biasanya begini: daripada tidak kerja, mendingan jadi tenaga sukarela saja. Kadang penguasa bisa sekejam itu. Lebih celaka lagi, para sukarelawan menelan mentah-mentah alibi semena-mena yang didoktrinasi ini. Akibatnya, para “tenaga sukarela” susah untuk kritis terhadap situasi yang dihadapinya. Secara pribadi, saya tidak terlalu simpati dengan alibi seperti ini.

Merujuk ke belakang, yakni merekapitulasi secara jujur biaya pendidikan seorang perawat; banyaknya biaya yang dikeluarkan orang tua untuk sekolah anaknya sangat tidak sesuai dengan upah yang diperoleh saat anaknya mulai bekerja. Di sini, hemat saya, profesi perawat—yang bukan PNS—di daerah tidak dihargai. Ini tidak adil dan tentu tak fair.

Harapan seorang mahasiswa dengan kuliahnya adalah bisa menjadi tenaga kerja yang profesional. Sekaligus dihargai dari tingkat pendidikan dan jasa yang diberikan jika bekerja pada suatu hari nanti. Harapan ini, terutama soal upah, tidak didapatkan di Manggarai. Mungkin terlalu naïf untuk meminta pemerintah memperbaiki keadaan. Pemerintah, kesannya, sudah kehilangan rasa peka untuk urusan sesederhana ini. Hidup dan bekerja di zaman sekarang perlu memperhitungkan upah kerja. Memang uang bukanlah segala-galanya, namun segala-galanya pasti butuh uang. Realistis saja. Saya tau tulisan ini terbilang cukup berani, namun penting untuk disampaikan dan wajib didengarkan.

Advertisement
BAGIKAN

4 Komentar

  1. tulisan yang sangat bgus. .
    tetapi menurut saya,daerah bukanya tak menghargai tenaga kesehatan yg biasa disbut’sukarelawan’ tetapi semata-mata karena APBD daerah tidak cukup kalau membyar gaji tenaga sukarelawan sama seperti tenaga kesehatan yg berstatus PNS. Setahu sy,daerah tidak melakukan perekrutan tenaga kesehatan sukarelawan,tetapi atas permintaan yang bersangkutan.oleh karena itu harusnya mereka2 yg menyandang status tenaga sukarelawan ini sudah menyadari konsekwensinya dari awal.saya bukan tenaga kesehatan atau mahasiswa kesehatan,tapi saran saya,kalau orientasinya kembali kedaerah. .kalau tidak lulus test CPNS mending buka klinik sendiri atau layanan home care,dan semacamnya.keahlian dan pengorbanan kalian mubazir klo hanya di bayar dgn yg biasa disebut ’insentif’.tetap semangat teman semoga sukses.

  2. saran saya juga untuk teman2 yang sudah menyandang status sarjana dijurusan lain maupun yg msh berstatus mahasiswa,jangan terlalu banyak berharap banyak pada daerah. .APBD kita tak seberapa. .tak seperti DKI yg APBD 2015 mencapai 60 triliun.Bahkan APBD kita lebih kecil dari Kab.Kutai kartanegara yang mencapai 6 triliun.APBD NTT tahun 2015 HANYA 3,23 triliun.
    oleh karena itu teman2,dgn dimoraturiumnya penerimaan CPNS selama 5 thn,mari kita bantu memajukan daerah kita dgn mulai berpikir bukan lagi untuk mencari pekerjaan,tetapi menciptakan lapangan pekerjaan.saatnya kita jadi BOSS didaerah sendiri.muda-mudahan.AMIN.hehehe

  3. Tulisannya bagus,,,Saya juga salah satu mahasiswi Ilmu Kesehatan asal Manggarai. Setelah saya membaca tulisan ini saya merasa sedikit terkejut, namun meskipun demikian mau dikata apalagi kita sudah mencapai dan memilih jalan kita untuk menjadi tenaga kesehatan yang siap mengabdi dan melayani. Kalau kita melihat memang betul begitu banyak tenaga kesehatan di daerah kita yang menjadi suka rela, tetapi kalau kita tinjau dari segi positifnya saya yakin pikiran teman Elsa Hadia bisa tenang bahkan lebih termotivasi melihat kondisi kesehatan di daerah kita. Kita mungkin saja pada awalnya akan menjadi tenaga suka rela, bahwa memang tidak mudah seorang bekerja tanpa imbalan seperti pepatah dalam bahasa inggris No Money No Good, itu menjadi bomerang bagi kita yang nota bene telah mengeluarkan bukan hanya satu dua juta rupiah dalam mencapai gelar dan menjadi tenaga kesehatan sebenarnya yang profesional.Sedikit menyemangati berpikirlah bahwa kita bekerja bukan hanya tuk mendapat rupiah atau imbalan tetapi kita yang memakai seragam putih-putih dengan Kap di atas kepala yang selalu tersenyum,melayani dan memotivasi pasien kita dengan penuh semangat dan bahwa kita bukan hanya sekedar tenaga suka rela tapi pekerjaan kita mulia. Tidak banyak orang tahu apa tujuan dan moto pelayanan kita, tidak banyak orang tahu di balik suka rela,lelah dan keringat kita terdapat begitu banyak arti, berpikirlah bahwa komitmen kita pada profesi kita nanti yang akan membawa kita menuju kejayaan. Berkomitmen pada kehidupan dan pelayanan itulah kita. Takan ada yang lebih indah dari senyuman dan tawa pasien kita,bahwa saat melihat orang sakit(orang yang kita rawat) tersenyum di sana ada harapan Hidup. Semangat teman Elsa Hadia, kelak saat pemerintah sudah mamiliki APBD yang lebih baik lagi,segala sesuatunya akan menjadi setara dan terpenuhi. Tetap semangat !!!!!!

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini