Kabar dari Ruteng: Heningnya Jumat Agung

0
601
Prosesi jalan salib dari Lapangan Motang Rua ke Paroki Cewonikit. (Foto: William)
Prosesi jalan salib dari Lapangan Motang Rua ke Paroki Cewonikit. (Foto: William)

Floresa.co – Peringatan sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus hari ini di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung khidmat.

Sejak pagi, kota itu larut dalam keheningan, berhubung panitia Paskah tahun ini sudah mengingatkan seluruh warga untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor, sejak pukul 06.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA sore tadi. Selain itu warga juga diimbau tidak membunyikan alat musik dan menyalahkan televisi.

Tahun ini, tujuh paroki di Ruteng, yaitu Paroki Katerdal, Cewonikit, Kristus Raja, Karot, Redong, Golo Dukal dan Paroki Kumba bekerja sama dalam panitia persiapan Paskah. Sejak bulan lalu, imbauan menjaga keheningan sudah disampaikan ke sekitar 70 ribu warga Ruteng.

Perayaan Jumat Agung yang diawali dengan prosesi Jalan Salib, dibuka di Lapangan Motang Rua Ruteng dan dipimpin oleh Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng, Pr. Ia didampingi oleh ketujuh Pastor Paroki.

Seperti disaksikan Floresa.co, sungguh kota Ruteng jadi hening hari ini.

Di salah satu paroki, yaitu Paroki Cewonikit suasana tambah khidmat ketika OMK St. Teofilus yang mementaskan jalan salib hidup dari Lapangan Motang Rua tiba di gereja paroki itu, setelah menempuh perjalanan 3 km.

Elgi Ramut, pemeran Yesus menuturkan, ia sangat bahagia dengan tugas yang ia emban.

“Saya seolah memiliki energi yang ekstra untuk menaham gempuran teman-teman yang berperan sebagai algojo,” katanya kepada Floresa.co.

“Setiap cambukan yang saya terima saya alihkan sebagai silih dosa yang selama ini saya lakukan,” lanjutnya.

Selama prosesi jalan salib, ia mengatakan, ada saat yang paling mengharukan, yaitu saat berjumpah dengan Veronika.

“Tatapan nanar yang saya lakukan menimbulkan ibah dan dia mencucurkan air mata, membuat peserta Jalan Salib yang jumlahnya ribuan itu menangis,” ujar mahasiswa semester enam jurusan matematika STKIP St Paulus Ruteng itu.

Ia mengatakan, ternyata perjalanan penyaliban yang terjadi 2000 tahun lalu itu bisa mengugah serta menggugat rasa para peserta. (Laporan William, Kontributor Floresa.co)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini