pelaku
Ilustrasi (Foto: aktual.co)

Floresa.co.-Pelaku pembakaran rumah, kios dan gudang milik Stefanus Darlin di Kampung Nggiring, Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat (Mabar) belum ditangkap sampai hari ini, Senin (30/3/2015). Pelaku membakar rumah Stefanus karena dituduh menyantet sejumlah orang di kampung tersebut.

Hal ini berdampak pada kondisi tidak aman yang dialami anggota keluarga korban. Sebagaimana dilansir Suara Pembaruan (30/3/2015), anggota keluarga korban yakni Mita (14 tahun), kelas II SMP dan Pice (9 tahun) kelas II SD diancam dibunuh oleh Ferdianus dan Bonifasius, anggota keluarga pelaku pembakaran pada hari Kamis (26/3/2015),

“Adik saya Mita dan keponakan saya Pice dihadang di tengah jalan ketika mereka akan pergi ke sekolah. Ferdianus dan Bonifasius mengatakan, kami sekeluarga tidak boleh tinggal di Kampung Ngiring lagi. Kalau masih tinggal di sana kami akan dibunuh, termasuk adik dan keponakan saya itu,” kata Stefanus Darlin.

Merespons situasi ini, Ketua Umum Save NTT, Bonifasius Gunung, menyayangkan langkah polisi di bawah Polda NTT yang tidak bergerak cepat menangkap para pelaku.

Bonifasius mendesak Kapolda NTT, Brigjen Pol Endang Sanjaya, memerintahkan Kapolres Manggarai Barat, AKBP Jules Abraham Abast agar segera menangkap para pelaku dan memberikan jaminan keamanan kepada para korban.

Senada dengan Bonifasius, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus, juga mendesak Kapolda NTT agar segera menangkap para pelaku kasus tersebut. “Kapolda NTT rupanya menanggap remeh kasus ini. Atau jangan-jangan Kapolda hanya menerima laporan yang bersifat Asal Bapak Senang (ABS) dari Kapolres Mabar. Ini bahaya !” tegas Petrus.

Sebagaimana diberitakan, sekitar tujuh orang pelaku membakar dua rumah, kios, dan gudang milik Stefanus Darlin (45), Karolus Muju dan Yustina Merdi di Kampung Nggiring, Desa Nangga Kantor Timur, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (12/3), dengan tuduhan Stefanus Darlin menyantet sejumlah orang di kampung tersebut. (Suara Pembaruan/ARS/Floresa)