Kolom ini, disediakan khusus oleh Floresa.co untuk tempat berbagi pengalaman, cerita-cerita bagi anak muda, putera-puteri asal NTT . Isinya tak seserius – kalau boleh dikatakan demikian – dengan tulisan-tulisan lain yang dipublikasi Floresa.co. Di sini, kami membagi tulisan-tulisan santai, yang ringan untuk dicerna. Jika Anda tertarik menulis di sini, silahkan kirim artikel ke [email protected]

 

Dillo Jemagur
Dillo Jemagur

Lingkungan pendidikan formal bukan satu-satunya tempat membentuk diri menjadi lebih baik.

Bagi Dillo Jemagur, justeru tempat tinggal di Jakarta selama kuliah di Universitas Yayasan Administrasi Indonesia (YAI) turut membentuk alam pikiran dan karakternya.

Alumnus SMA Fransiskus Saverius Ruteng ini akan menceritakan bagaimana Salemba, tempat tinggalnya itu berpengaruh dalam cara pandang tentang hidupnya selepas tinggal jauh dari kampung halaman.

Berikut tulisan pemuda asal Kabupaten Manggarai Timur ini:

 

Empat tahun silam, pada 2011, saya meninggalkan kampung halaman di Manggarai Timur, berpisah sementara waktu dengan kedua orang-tua, sanak-saudara dan sahabat. Saya meninggalkan kampung halaman dengan berat hati, karena berbagai kenangan indah sudah terlukis di sana.

Hidup bersama orang tua, serba mudah, kasih sayang mereka tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Melukiskan kasih sayang mereka dalam untaian kata adalah sebuah ketidakadilan. Itulah sebabnya, ketika menyeberang pulau yang jauh, air mata selalu berlinang, mengenang kembali hidup bersama orang tua, keluarga dan sahabat sekampung.

Namun, linangan air mata tak akan membalas banyak jasa orang tua. Saya diutus ke tanah ini (Jakarta) dengan misi besar, menimba ilmu. Ilmu untuk hidup dan bekal di hari depan. Saya pergi jauh ke negeri orang, guna mencari ilmu setinggi langit, bekal hidup kelak di hari tua, menyetir syair lagi “Teluk Bayur” yang kerap saya dendangkan di masa kecil. Bayangan akan masa depan itulah yang membuat saya bangkit dan berjalan dengan tegak sampai ke kota ini.

Sejak awal di Jakarta, saya tinggal di sebuah kos (umumnya anak kuliahan) di daerah Salemba, Jakarta Pusat.

Di Salemba, saya berkenalan dan banyak menemukan teman- teman baru dan para senior, sesama perantau dari Manggarai. Teman-teman ini ada yang masih kuliah dan sudah bekerja. Persahabatan kami sangat akrab dan membentuk sebuah komunitas persaudaraan. Kami akrab, saling-berbagi suka-duka.

Di Jakarta, komunitas kami kerap orang sebut Komunitas Salemba.

Salemba kami anggap tempat strategis. Salemba berdekatan dengan beberapa kampus: STIK St Carolus, Yayasan Administrasi Indonesia (YAI) dan Universitas Indonesia.

Tak heran jika orang Manggarai yang ada di Jakarta mengindentikan Salemba sebagai pusat hidup sahabat-sahabat wanita. Ada gula ada semut. Tempat para putri Manggarai ini menjadi tujuan wisata, cuci-mata siang dan malam para pemuda Manggarai-Jakarta. Sampai di sini, Salemba adalah magnet bagi para pemburu cinta.

Namun, itu sejarah Salemba beberapa tahun lalu. Salemba sekarang sudah berubah. Kehadiran teman-teman kuliah dan para senior membuat Salemba berubah aura.

Salemba bukan lagi identik dengan tempat domisili para sahabat perempuan, tetapi juga tempat domisili para pemuda Manggarai. Kehadiran para senior yang memiliki nama besar dan berpengaruh, membuat Salemba bermetamorfosis menjadi komunitas persaudaraan, komunitas belajar, diaspora kecil yang cukup disegani orang-orang tua Jakarta.

Jika beberapa tahun lalu, teman-teman datang ke Salemba untuk berkenalan dan bertemua para cewek, sekarang kehadiran para senior yang ramah, cerdas dan terampil, menjadi magnet tersendiri bagi teman-teman dari berbagai belahan Jakarta.

Orang bilang ada “Naga Salemba”. Karena Salemba adalah komunitas yang kas dan unik.

Di komunitas Salemba, saya menemukan pengalaman baru, mulai dari yang hal remeh-temeh, masalah cinta (curhat-curhatan), masalah kuliah, senda-gurau, sampai diskursus ekonomi-politik yang rumit, tersaji menarik di komunitas ini.

Di komunitas Salemba, saya memahami banyak karakter dan tipe sahabat. Ada teman kuliah yang seperti Viki Presetyo, ucapannya suka-suka. Logika bahasanya dibolak-balik. Tetapi, itu hiburan menarik bagi kami, karena omongannya membuat kami tertawa terpingkal-pingkal.

Ada yang dialeknya campur sari alias perpaduan antara dialek Riwu (Manggarai Timur) yang “dibahasaIndonesiakan”, sehingga kedengaran seperti dialek Melayu. Ada juga tipe sahabat yang ngomongnya blak-blakan, to the point, berhadapan dengan laki-laki dan  perempuan.

10665946_10202553722556590_1634609964553113011_n
Komunitas Salemba terlibat dalam kompetisi futsal

Karakter beragam ini membuat saya banyak belajar. Pengalaman ada bersama sahabat, senior, membuat saya krasan tinggal di Jakarta. Saya terus membulatkan tekat, paling tidak menyelesaikan kuliah tepat waktu, karena itu misi perutusan saya dari kampung halaman.

Banjir, macet dan kebisingan memang menjadi menu harian orang-orang di Jakarta. Itu saya bisa lewati dan sudah biasa. Saya beranggapan, ada masalah yang lebih dari itu, yaitu biaya hidup tinggi.

Tanggal-tanggal tua, anak isi dompet anak kuliahan mulai kering. Namun, dalam kebersamaan dengan sahabat dan para senior, semua itu bisa dicarikan solusinya.

Kami anak kulihan di Komunitas Salemba, merasa terbantu, kalau tak ada uang untuk makan, para senior selalu hadir membantu kami. Mereka menganggap kami sebagai adik yang perlu mendapat perhatian. Dalam kesulitan, saya dan sahabat-sahabat yang kuliah diajak untuk terbuka.

Bagi saya, komunitas persaudaraan di Salemba, Jakarta, adalah komunitas hidup, ruang kami berekspresi dan menimba ilmu tambahan di luar kampus.

Di komunitas ini, saya menemukan banyak pengalaman dan pengetahuan menarik sebagai bekal untuk melangkah. Saya tak menemukan pengalaman seperti itu dalam hidup saya sebelumnya. Ini pengalaman baru dan penuh makna.

Bicara soal kompak, kami di komunitas Salemba sangat kompak, seperti biasanya anak-anak Manggarai di sekitar Pulau Jawa. Berfutsal ria setiap hari Sabtu, hang out, ngerumpi, ngopi bareng sampai bergadang ria, bersama teman-teman dan senior.

Di Komunitas Salemba, senior-seniornya memiliki beragam karakter, ada yang galak-keras dan membuat kami takut jika berbuat kesalahan fatal. Ada juga tipe senior yang lembut dan halus.

Yang lembut dan halus ini kerap kami sebut sebagai tipe senior linear alias hidupnya lurus. Dengan pacarnya, hidup setia, lurus dan tak berbengkok.

Ada tipe senior sirkular, tipe cowo romantis, tetapi cepat mengurung diri jika sudah jatuh cinta.

Namun, kami boleh berbangga, karena para senior sudah berhasil, sudah memiliki nama besar dan memiliki pekerjaan mapan.

Keberadan para senior sangat dekat dengan kami. Kami boleh berlawak-ria dengan mereka dan menimba pengetahuan banyak dari mereka, mulai dari pengetahuan kuliah sampai pengalaman berpacaran.

Kami patut berterima kasih kepada mereka. Mereka selalu memberi suport, mengontrol, bahkan sering mentraktir, sehingga kami bisa kenal mall-mall besar, seperti Lippo Mall, Pizza-Hut di Sarina, Kemang Villiage, City Walk (di belakang Sahid Hotel), sampai Bandar Jakarta di Ancol.

Pengalaman hidup seperti ini membuat saya menggaggap “Komunitas Salemba” sebagai komunitas kedua, setelah kampung halaman. Di sini saya merasakan cinta, kasih-sayang dari para sahabat dan para senior.