Oleh: ADRIAN KERAF

Malam itu semakin larut dan semakin dingin. Kusulut terus rokok filter kesukaanku untuk mengimbangi diginnya malam itu, dengan maksud suhu tubuku terjaga. Maklum saya pemadat.

Saya terus bertahan dan menikmati malamku yang bertajuk kenangan.

Di kejauhan, nampak lampu-lampu nelayan membentang menyinari lautan dan bergoyang-goyang kecil seirama gelombang  dan arus laut. Terkesan eksotik bagaikan panggung pertunjukan teater.

Para nelayan bersemangat menikamati pekerjaan. Namun, tidak untukku malam itu.

Ketenangan batin sering terganggu dengan hiruk-pikuknya hidup, hingga membuatku nelangsa di malam itu.

Dia bilang, “kalau ada hal yang sulit membuatmu tidur, seringlah ke pantai pada malam hari untuk menikmati suasana pantai, karena di sana ada kedamaian”. Itu pesan singkat terakir kali kami bertemu di samping rumahnya.

Akhirnya, di kota yang asing ini saya mencoba melakukannya lantaran mengalami kesulitan-kesulitan hidup. Meniti karir tak semudah dalam pikiranku.

Di pelataran taman kota, saya memandang riakan air yang menepi, dengan bias sinar lampu jalan saya menemukan ketenangan batin, dari dalam kurasakan kesejukan yang berarti, bagai embun pagi yang terus menetes.

Pikiran kacauku perlahan mengkristal. Kutemukan titik-titik samar  solusi masalahku, kejernian pikiran nampak seperti laut malam itu.

Saya bangga dengan pesannya, gumamku dalam hati mengingat kembali suasana perpisahan di samping rumahnya waktu itu. Kalau masih ada kesempatan untuk bertemu kembali, saya ingin mengucapkan terima kasih untuknya.

Di kota yang asing bagiku ini, saya sering mendambakan sosok seperti dia.

Entalah. Mungkin saja keputusanku untuk menyudahi hubungan cinta kami waktu itu membuatku tak kunjung bersemangat sampai saat ini.

Saya tersesat tak beraturan, meridukan teman sebagai penopang, sepertinya di kota ini nampaknya sulit. Apakah perlu, saya harus meratap keputusanku?

Kelopak-kelopak bunga bogenfil di taman kota itu berhamburan diterpa angin malam dan terus berguguran menemani kesepian malamku.

Momental perpisahan dengan dia kala itu selalu datang mengunjungi pikiranku seolah-olah membenarkan bahwa keputusanku meninggalkannya adalah satu kekeliruan.

Nelangsaku malam itu seakan membutuhkan karakter seperti dirinya. Setia menemani, memberi dukungan dan satu hal yang unik darinya yakni terdiam dan menatapku  dengan maksud agar kutetap percaya diri, itulah jiwanya.

Kini, saya seorang diri yang tidak bisa membagi cerita, hanya diam mengenangkan betapa besar kesungguhannya memahami hati yang lagi tak punya pilihan. Dia di sana seperti agin malam, ada namun tidak bisa kutemukan bayagannya malam itu.

Ingin kumerindukannya lebih jauh, namun saya takut akan keputusanku meninggalkannya kemarin yang kini masih terasa dekat di pikiranku. Mungkin kedengaran egois, tapi itulah diriku.

Menganggap diri selalu benar, semua masalah dipandang sebelamata, tidak suka mendegar pendapat orang lain dan pemarah, ya itulah saya. Kehilangan dia  seperti pelita yang kehabisan minyak, sulit untuk mandiri dan gelap mewarnai hari-hariku.

Malam yang dingin itu perlahan kumenyadari arti dari kebersamaan. Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kami sudah bersama maupun berapa sering kami bertemu, tapi menjadi akhir dari kesimpulan malamku itu adalah apakah selama kami bersama, kami selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup kami berkualitas?

Sayapun beranjak meniggalkan taman itu karena malam terlampau larut bersama kepenatanku. Saya menyadri arti dari cinta kemarin yang tertinggal di seberang sana yang kini menjadikanku pribadi yang berantakan seperti di malam itu.

Dia sepatutnya kurindukan.