Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: ORIOL DAMPUK


 

Waktu menunjukkan pukul 17.50 WITA. Panaroma sunset menghiasi perjalanan melelahkan ini. Bentangan laut yang diapiti puluhan pulau mewarnai keinginanku untuk segera sampai di istana termegahku.
Aku berdiri di atas kapal Tilong Kabila yang akan berlabuh di pelabuhan Labuan Bajo. Pengalaman yang cukup lama saat aku menetap di tanah rantauan untuk mencari kepastian ilmu bagi masa depanku.
Kini aku pulang untuk sekadar berbagi cerita bersama tanah yang telah memberikanku rahmat perjuangan. Tanah yang telah membesarkanku dan memberiku makan dan minum.
Aku bangga pada tanahku, Flores. Keindahan alam, budaya, dan seni tak tertandingi oleh daerah lain. Binatang purba yang dikenal dengan sebutan Komodo salah satu menjadi ikon daerah kami.
Ketangkasan dalam tarian Caci seolah membakar jiwa semangatku untuk giat belajar.
Namun, semua keelokkan itu pelan-pelan luntur seketika saat pengolahan sumber wisata tersebut berujung pada keinginan pribadi semata. Ikon tersebut tidak mampu menambal kemakmuran daerah kami.
Kehidupan di ibu kota berbanding terbalik dengan latar kehidupan di desaku berada. Persediaan infrastruktur misalnya jalan raya malah semakin payah dari hari ke hari.
“Jose, orang tuamu tahu kalau kamu pulang ke kampung hari ini?”, tanya Andre, teman perjuanganku sambil memberiku segelas kopi.
“Kamu tahu keadaan tempat tinggal kita. Sinyal untuk berkomunikasi belum lancar”, timpalku seraya mengingatkannya.
“Aset pariwisata di daerah kita berkembang pesat. Namun kesalahan mengurusnya malah tidak mampu menafkahi rakyatnya. Perilaku kotor tersebut dijadikan modal pembengkak dompet para pemegang tampuk kekuasaan”, kata Andre dengan ketus.
“Akhir-akhir ini juga, berita-berita menggenaskan mengepung daerah ini misalnya privatisasi pantai Pede dan pembangunan yang tidak merata. Inilah tanda kematian sumpah para pejabat”, timpalku kesal.
***
Matahari mulai menutup wajahnya. Aku dan ayahku segera membereskan perlengkapan kerja di kebun kami hari ini. Hampir sebagian masyarakat di desa kami bekerja sebagai petani.
Sumber pendapatan kami hanya berasal dari penghasilan usaha kebun seperti beras, cengkeh, kopi dan vanili.
Kadang pendapatan tidak sesuai yang diharapkan. Bila musim hujan terlambat muncul, resiko gagal panen tak terhindarkan. Setelah membereskan perlengkapan tersebut, kami harus segera pulang.
Bila tidak, kegelapan akan menyelimuti perjalanan pulang ke rumah yang letaknya cukup jauh dengan kebun kami.
Maklum, kondisi desa ini akan mati kutu saat malam hari. Tidak ada listrik. Beruntung bila ada tetangga yang mempunyai rejeki mampu membeli genset untuk membantu penerangan.
Bila malam tiba, suara radio meramaikan rumah warga. Melalui radio ini kami mendengar  masalah-masalah yang tak dapat diselesaikan.
Sarana transportasi pun menjadi penghalang mendapatkan kemudahan memasarkan hasil pertanian.
Pagi-pagi buta sebelum jago berkumandang, beberapa angkutan umum siap mengantar hasil pertanian tersebut ke ibu kota daerah tetangga, Ruteng.
Meski kantuk masih mendera, warga desa harus menyiapkan secepat mungkin barang dagangannya. Persiapan ini ditemani terang pelita yang nyalanya agak redup. Cukup  dengan sepiring nasi putih dan segelas kopi menjadi santapan pagi.
Meski demikian, warga desa tetap semangat memulai hari dengan ceria. Saat di perjalanan, suasana hening menjadi adegan selanjutnya. Perasaan was-was ketika angkutan melewati wilayah perbukitan yang bersebelahan dengan jurang.
Lagu Reba Kota (salah satu lagu bahasa Manggarai, diterjemahkan, “Pemuda Kota”) tak diputar sopir. Angkutan harus melewati jalan yang pernah diaspal namun sekarang sudah mulai keropos. Bukan karena dimakan usia namun karena pengerjaannya yang kurang bermutu.
Pernah terjadi ketika hujan tanpa ampun mengguyur desa kami, satu angkutan terpaksa berhenti karena terjebak di jalan yang rusak. Angkutan tersebut tidak mampu melewati jalan tersebut.
Hasil panenan pun ikut hancur dimakan busuk. Kejadian ini diberitakan di media massa lokal. Namun tanggapan dari pemerintah dinilai mati.
Opini-opini menentang pemerintah bertebaran di media massa. Beberapa utusan dari desa kami pun menemui pejabat setempat untuk menyampaikan keluhan terkait kondisi topografis desa kami. Namun kehendak baik mereka ditolak karena tidak membawa bukti yang kuat.
“Rinus tidak lama lagi daerah kita akan memilih pemimpin yang baru. Banyak orang akan merasa diri cocok menjadi pemimpin. Mereka yakin akan membangun daerah kita lebih maju dari sebelumnya. Visi dan misi bertebaran untuk mengundang simpati masyarakat. Program pembangunan diwacanakan dengan serius.  Bagaimana menurut bapa terkait pemilihan kali”, tanyaku kepada Rinus setelah makan malam dengan saung daeng (daun singkong) dan ikan asin.
“Kita mengharapkan pemimpin yang tidak memikirkan keinginan pribadi tetapi memerhatikan kebutuhan masyarakat. Pemimpin yang lahir dari rakyat dan dipilih dari rakyat seharusnya bekerja untuk rakyat. Air mata ini sudah habis memohon bantuan para pemimpin. Entah mereka sengaja dan pura-pura lupa kalau harapan kedamaian kita ada di bahu mereka”, jawab Rinus dengan sedikit gusar.
“Selain itu, kekayaan alam di daerah kita tergolong mampu menyejahterakan masyarakat. Bidang pariwisata yang telah mendunia tidak hanya menguntungkan para pemimpin dan para investor yang kerap membunuh cita-cita masyarakat. Lantas kita pun tidak boleh hanya berpangku tangan membangun daerah kita. Kita berani dengan kaki dan tangan kita sendiri”, tambahku sambil membuka radio butut yang mulai kehabisan baterai.
“Perantauan tidak akan terjadi bila para pemimpin menyediakan lapangan kerja yang layak dan berguna bagi masyarakat. Akhir-akhir ini, kita mendengar bahwa keinginan masyarakat untuk merantau cukup besar. Mereka mengatakan kalau di kampung mereka tidak ada lapangan kerja. Derita kemiskinan pun tak dapat terhindarkan. Perekrutan tenaga kerja secara illegal pun marak terjadi. Sebenarnya kita mampu menciptakan lapangan kerja baru. Daerah kita menyimpan banyak sumber daya yang pantas dimaksimalkan. Namun hal itu tergantung dari sikap para pemimpin yang berani mendukung dan mendorong niat baik masyarakat”, timpal Rinus seraya mencari frekuensi radio.
“Kita memilih pemimpin yang berjanji untuk tidak melupakan sumpah jabatan. Pemimpin yang visioner adalah pemimpin yang mengenali rakyatnya. Ia sadar akan kekuasaannya demi kebaikan semua orang”, tambahku sambil mematikan lampu pelita yang kehabisan energi.
***
Jika saja kebaikan dibalas kebaikan maka suara minor selalu didengarkan. Suatu ketika, aku pergi membeli minyak tanah di kios milik Pak Stanis sebab pelita di rumah kami hampir kehabisan nafas.
Kios ini satu-satunya tempat kami membeli barang kebutuhan kami. Persediaan barang seadanya dijual di kios ini. Di tempat inilah kami bersenda gurau dengan membicarakan kejadian yang terjadi baik di desa kami maupun di daerah lain.
Hampir sebagian pembicaraan mengarah pada ketakadilan yang menimpa daerah  kami khususnya daerah kami.
“Indonesia belum merdeka jika desa-desa masih hidup dalam kesengsaraan”, demikian komentar Pak Linus ketika aku baru tiba di kios tersebut. Benar kata Pak Linus.
Penjajahan masih terjadi saat banyak pemimpin tidak memikirkan nasib masyarakat. Keadilan tak dirasakan oleh semua orang. Janji muluk saat kampanye hanya dijadikan alat pemuas dahaga kemenangan bagi pemimpin.
Jembatan rusak di desa kami pernah dijanjikan akan diperbaiki jika kami memilih salah satu calon pemimpin. Namun ketika ia terpilih, jembatan tersebut malah tak diperhatikan dengan cermat. Janji busuk yang tak pernah disesalinya.
Di kios Pak Stanis, aku tidak berbicara banyak. Beberapa orang hanya menanyakan kepadaku tentang masa belajarku di tanah Jawa.
Pak Lorens menasihatiku agar kelak jika aku menjadi pemimpin, aku memperhatikan kedamaian bagi semua orang.
Aku pulang dari kios tersebut dengan membawa sebotol minyak tanah. Seperti biasa, aku dan ayahku mendengar berita dari radio tua kami.
Salah satu stasiun radio menyiarkan sebuah diskusi antara penyiar radio dan salah satu pejabat daerah kami. Tema yang dibicarakan tentang pembangunan daerah.
“Bagaimana rencana bapak bagi pengembangan sektor pertanian yang harus ditingkatkan lagi?”, tanya penyiar di tengah pembicaraan.
“Kami akan membantu para petani bila mereka ingin menggunakan pupuk”, jawab .pejabat tersebut dengan singkat.
“Lalu masihkah para pemimpin kita memahami dan mengerti keadaan ekonomi masyarakat kita yang terbelit dengan kemiskinan sedangkan pendapatan bagi pariwisata meningkat?”, tanya penyiar dengan cukup serius.
“Kami akan tetap memperjuangkan keadilan yang merata”, jawab pejabat dengan tegas.
“Kami sebagai masyarakat menginginkan agar para pemimpin daerah tidak melupakan sumpah jabatan saat dilantik”, tegas penyiar.
“Sumpah yang mana?”, tanya pejabat tersebut penuh keheranan.

 

Oriel Dampuk, Anggota Kelompok Teater Tanya dari komunitas Seminari  Tinggi St. Petrus Ritapiret, Maumere Sikka