Ilustrasi

Kenyataan demikian tentu saja memperihatinkan. Bisa dipastikan, masalah tanah menjadi semakin rumit. Potensi konflik semakin besar ke depan. Cukup tak nyaman untuk mengatakan bahwa “ enam para petani” yang lain akan ada lagi dikemudian hari, entah dalam model konfliknya macam apa, kita belum tahu. Tetapi yang jelas, masalah tanah di Manggarai telah menambah satu faktor lagi, yakni faktor ekonomi.

Padahal, sebelumnya masalah tanah bukan karena alasan ekonomi. Sekitar tahun 1930-an sampai tahun 1950-an konflik tanah sudah marak di Manggarai. Tentu alasannya tidak mungkin dari segi ekonomi mengingat jumlah penduduk masih kurang dan tanah masih luas. Jumlah penduduk pada tahun 1950-an berjumlah sekitar 193.054 jiwa. Kepadatan penduduk per kilometer persegi sekitar 16 jiwa. Dengan jumlah demikian, kemungkinan untuk konflik tanah sangat kecil.

Ketika di satu pihak persoalan tanah pada masa lalu tak terselesaikan dengan baik sementara di lain pihak potensi konflik tanah semakin meninggi di masa yang akan mendatang, di situlah kita perlu berhati-hati.

Tanah Manggarai (dalam kasus Colol) pernah menjadi panas dan tak pernah didinginkan melalui upaya rekonsiliasi. Inilah pekerjaan rumah bagi masyarakat Manggarai. Karena bisa jadi dendam dan kebencian masih terpelihara di hati sebagian orang, ketika orang lain masih sibuk dengan pesta Pilkada dan peristiwa Rabu berdarah itu tak lagi dianggap sebagai catatan sejarah penting, tidak saja bagi konteks 11 tahun yang lalu, tetapi juga untuk konteks sekarang dan di masa depan.