Ilustrasi

Lalu boleh dibilang, kematian enam petani kopi yang ditembak itu seakan tak terlalu istimewa. Kematian mereka seolah hanya dipandang setara dengan kematian orang yang kena musibah bencana alam dan sakit. Bahkan kematian mereka terlampau istimewa kalau mungkin disetarakan dengan kematian para wartawan media Charlie Hebdo di Perancis baru-baru ini.

Nah, bukankah kematian petani kopi yang merasa dikakangi oleh kekuasaan negara itu sesuatu yang sebenarnya berbeda dari kematian, misalnya karena usia tua dan musibah bencana alam? Bukankah kematian para petani karena masalah tanah itu punya arti penting dalam masyarakat Manggarai?

Perkara tanah di Manggarai sebetulnya tak boleh dianggap enteng. Beberapa fakta yang diperlihatkan sosiolog, Robert M.Z Lawang sangat perlu dicermati. Dalam buku Konflik Tanah di Manggarai, Flores Barat, ada banyak pertanyaan yang ia ajukan, misalnya mengapa begitu banyak konflik tanah di Manggarai? Mengapa konflik tanah harus meminta korban yang begitu besar? Apa arti nyawa bagi orang Manggarai? Apakah tanah pantas dibayar dengan nyawa? Dan lain sebagainya.

Beberapa pertanyaan tersebut menggambarkan kompleksnya masalah tanah di Manggarai. Saking kompleksnya persoalan tanah, masalah tanah tak cukup diselesaikan di ranah hukum. Apalagi hukum itu sendiri mengandung kontroversi internal. Hukum bisa menjadi sumber keadilan,sebaliknya juga memenuhi prosedur hukum belum tentu keadilan tercapai. Hukum yang tersandera kepentingan pihak-pihak tertentu amat rentan untuk menguburkan prinsip keadilan. Maka meskipun selesai secara hukum, masalah tetap terbengkelai, tak terjamah dengan baik.

Lebih penting dari sekadar usaha untuk melampaui diskursus hukum itu, tentu masalah tanah sangat relevan dibahas karena memperhatikan kenyataan saat ini. Bahwasannya seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan wisata yang kian mengglobal, tanah menjadi sumber pengisi pundi-pundi keuangan yang paling manjur. Di Manggarai Barat, pintu parawisata di Flores, tanah sudah banyak dijual kepada orang asing.