Mg Petrus Turang Pr
Mg Petrus Turang Pr

Floresa.co – Beberapa waktu lalu, masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) dihebohkan dengan pernyataan Uskup Kupang, Mgr Petrus Turang Pr.

Uskup itu memberi sinyal mendukung kehadiran investor tambang di NTT.

Pernyataan pejabat Gereja Katolik yang berasal dari Manado itu menuai polemik, di tengah upaya keuskupan lain, seperti Keuskupan Ruteng yang tegas menyatakan tolak tambang, karena dinilai lebih banyak mendatangkan musibah, ketimbang berkat bagi masyarakat NTT.

Namun, dukungan terhadap tambang itu, hanya satu bagian dari pernyataan Turang yang menuai polemik.

Ada polemik lain yang ia sampaikan, yakni menyentil soal perbedaan LSM dan Gereja.

Turang menyebut Gereja tidak sama dengan LSM. Menurut dia, perjuangan LSM dalam menolak tambang, karena ada sponsor.

Saat menjelaskan perbedaan itu, Uskup Turang juga menegaskan, Gereja tidak akan melawan pemerintah.

“Gereja tetap sebagai Gereja dan tidak akan berhadapan dengan pemerintah”, demikian menurut uskup ini.

Pernyataan Turang mengundang reaksi dari kelompok aktivis LSM, yang selama ini menolak tambang.

Benar bahwa, Gereja adalah institusi agama yang berjuang atas dasar ajaran iman. Namun, para aktivis LSM menilai, pernyataan Turang mendiskreditkan perjuangan aktivis LSM, seolah-olah tidak ada ketulusan di balik upaya mereka memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Melky Nahar, dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) NTT bertanya-tanya, ada apa dengan Uskup Turang. Ia pun meminta uskup itu menjelaskan, LSM apa yang ia maksud.

Bagi Melky, Uskup Turang tampak merendahkan para aktivis, yang sejatinya juga berjuang – sebagaimana halnya Gereja – dalam membantu masyarakat.

“Sponsor yang dimaksudkan Uskup Kupang itu apa? Kalau sponsor yang ia maksudkan berupa pesanan kepentingan individu atau kelompok tertentu, LSM mana yang dia maksudkan? Pernyataan ini harus ia buktikan. Jangan juga asal menuding tanpa bukti yang jelas”, kata Melky dengan nada kecewa, saat berbincang dengan Floresa.co.

Kekecewaan itu bukan tanpa alasan, karena dalam konteks NTT, para aktivis yang selama ini berjuang bagi kemaslahatan orang banyak, mayoritas orang Katolik, yang dalam kaca mata Gereja disebut dengan kaum awam.

Dokumen Gereja Hargai Awam

Jika menilik, apa yang diajarkan dan tercatat rapi dalam dokumen Gereja, posisi kaum awam pada dasarnya sangatlah penting dan diberi perhatian istimewa.

Bagi Melky, pernyataan Uskup Turang sangatlah berbeda dengan apa yang sebenarnya digariskan Gereja soal posisi kaum awam.

Floresa.co menemukan salah satu dokumen yang berbicara banyak soal posisi kaum awam, yaitu Ad Gentes, yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II, sebuah pertemuan para uskup yang menghasilkan sejumlah ajaran penting dan sedikit banyak mengubah pola pikir Gereja Katolik.

Dalam artikel 21 dokumen itu, bahkan ditegaskan bahwa Gereja tidak sungguh-sungguh hidup, bila di dalamnya awam tidak terlibat.

“Gereja tidak sungguh-sungguh didirikan, tidak hidup sepenuhnya, dan bukan tanda Kristus yang sempurna di tengah masyarakat, selama bersama Hirarki tidak ada dan tidak berkarya kaum awam yang sejati. Sebab Injil tidak dapat meresapi sifat-perangai, kehidupan dan jerih-payah suatu bangsa secara mendalam tanpa kehadiran aktif kaum awam,” demikian menurut Ad Gentes.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa, “Oleh karena itu sejak suatu Gereja didirikan, perhatian amat besar harus diberikan kepada pembentukan kaum awam kristiani yang dewasa. Sebab Umat beriman awam sepenuhnya termasuk Umat Allah pun sekaligus masyarakat.”

Dalam konteks inilah, Gereja menyadari peran kaum awam, yang tidak lagi setengah-setengah, tetapi sangat penting.

Masih menurut Ad Gentes, “tugas utama para awam baik pria maupun wanita yakni: memberi kesaksian akan Kristus. Mereka wajib bersaksi dengan kehidupan dan kata-kata dalam keluarga, di kalangan sosial mereka, di lingkungan profesi mereka.”

Ditegaskan lagi bahwa, “Hendaklah mereka juga menyiarkan iman akan Kristus di antara sesama, yang sekehidupan dan seprofesi dengan mereka. Kewajiban itu semakin mendesak, karena kebanyakan orang hanya dapat mendengarkan Injil dan mengenal Kristus melalui para awam tetangga mereka”.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tentu juga menyadari pentingnya peran kaum awam ini. Karena itulah, pada 2011, KWI pernah berdiskusi panjang soal peran awam dalam konteks kehidupan Gereja Katolik di Indonesia.

Lagi-lagi, KWI, melihat itu sebagai sebuah tuntutan, jika Gereja mau menampilkan diri sebagai institusi yang mampu menampakan relevansi kehadirannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melihat dua alasan ini, maka pernyataan Uskup Turang yang seolah-olah mengambil jarak dari LSM, semacam upaya menyebut Gereja suci, lalu tak mau dinodai oleh LSM, adalah bagian dari upaya mengingkari adanya niat tulus kaum awam yang berupaya mengambil peran memajukan kehidupan bersama.

Uskup Kupang, seolah menafikan, bahwa bukan hanya Gereja yang punya niat suci, tetapi juga, termasuk awam. Dan juga, Uskup itu menafikan fakta bahwa, ada kemungkinan juga, awam lebih baik dari hirarki. Banyak kasus membuktikan kebenaran pernyataan ini.

Soal Kurangnya Kedekatan

Namun, untunglah, ada juga dari kalangan hirarki, yang justeru berlawanan dengan Uskup Turang.

Sebagian para imam, yang diwawancarai Floresa.co, justeru mengakui besarnya peran para aktivis.

Para imam ini, adalah mereka yang lebih banyak bergumul, terlibat, merasakan duka dan kecemasan masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan.

Pastor Peter C Aman OFM, Direktur JPIC OFM, justeru mengakui peran besar LSM dan meminta LSM tak terlalu memikirkan pernyataan Turang.

“LSM mesti tetap setia dan kerja keras demi masyarakat. LSM banyak yang luar biasa committed, mereka adalah rekan seperjuangan Gereja”, katanya.

Ia juga menegaskan, “Vatikan II meminta Gereja, bekerja sama dengan awam dan semua orang yang berkehendak baik! JPIC OFM banyak dibantu teman-teman LSM itu.”

Hal yang sama juga disampaikan oleh, Pastor Simon Suban Tukan SVD, di mana ia menyebut dirinya tidak sependapat bahwa LSM bekerja karena sponsor.

“Banyak LSM lahir karena keprihatinan terhadap masalah sosial di tengah masyarakat. Gereja sendiripun lahir karena keprihatinan sosial,” katanya.

Bahkan, katanya, pejabat Gereja tak mesti congkak, dan seolah menempatkan diri di posisi lebih tinggi.

“Kebenaran dan keadilan bukan monopoli Gereja. Dalam banyak kasus justru kelompok OMS/LSM lebih berani menyuarakan kebenaran dan keadilan daripada Institusi Gereja.”

JPIC OFM dan JPIC SVD adalah dua lembaga religius yang hampir satu dekade belakangan, ikut aktif dalam perjuangan menolak investasi pertambangan di NTT.

Mereka banyak terlibat bekerja sama dengan LSM dan aktivis-aktivis yang bergerak dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Reformasi Pola Pikir Hirarki

Memang, idealnya, Gereja yang berpusat di Roma itu memiliki pedoman bersama yang ditaati semua pihak, apalagi pejabat Gereja sekelas uskup.

Dokumen Ad Gentes misalnya menekankan, perlunya kerja sama dengan kaum awam.

“Bahkan bila mungkin hendaknya para awam bersedia bekerja sama lebih langsung dengan Hirarki, melaksanakan perutusan istimewa untuk mewartakan Injil serta menyalurkan ajaran kristiani, supaya Gereja yang baru lahir dikukuhkan. Adapun para pelayan Gereja hendaknya sungguh menghargai kerasulan para awam yang cukup berat. Hendaklah mereka membina para awam, supaya mereka selaku anggota-anggota Kristus menyadari tanggung jawab mereka atas semua orang”, demikian menurut Ad Gentes.

“Maka dengan mempertahankan tugas-tugas maupun tanggung jawab khusus para gembala dan kaum awam, hendaklah Gereja muda secara menyeluruh serentak memberi kesaksian yang hidup dan teguh tentang Kristus, supaya menjadi lambang cemerlang keselamatan, yang telah sampai kepada kita dalam Kristus.”

Namun, desakan para uskup peserta KV II itu, yang sudah tercatat rapi dalam dokumen Gereja, akan sulit terwujud, bila hirarki tak lebih dahulu mereformasi pola pikir terhadap awam.

Dan, tentu saja, mereka mesti menghayati lebih dahulu apa yang mereka diajarkan dan yang selalu dikhotbahkan dari mimbar.