Korban kecelakaan di Bahong, Senin (16/2/2015). (Foto: Ardy Abba/Floresa)
Korban kecelakaan di Bahong, Senin (16/2/2015). (Foto: Ardy Abba/Floresa)

Floresa.co—Ada beberapa kecelakaan maut yang  diliput Floresa.co pada tahun 2015 ini.  Pada bulan Januari, kecelakaan yang menimpa dua bidan dan satu pegawai dari Dinas Sosial terjadi di Kembur, Borong, kabupaten Manggarai Timur. Seorang tewas, yang lain terluka parah.

Tabrakan lain terjadi pada bulan Februari. Keluarga Rudolfus Pon (42), pria asal Kole, Satermese yang jadi korban. Istrinya meninggal saat sebuah bus kayu menabrak motor yang dikendarainya dari belakang di jalan trans-Flores, tepatnya di Bahong, Manggarai.

Kamis pekan lalu, sebuah bus kayu yang mengangkut sekitar 60 siswa juga terbalik di jalan trans-Flores, tepatnya di perempatan Cancar, Simpang Labuan Bajo-Golo Welu, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Dua orang meninggal di tempat, dua lagi meninggal di rumah sakit. Beberapa lain dilaporkan mengalami luka baik berat dan ringan.

Di antara begitu banyak berita yang disajikan, berita tentang kecelakaan kendaraan bermotor ternyata selalu menarik pembaca. Jumlahnya jauh melampaui peminat isu politik seperti pilkada.

Kecelakaan di Cancar, misalnya. Dalam beberapa hari saja sudah bisa mencapai belasan ribu pembaca. Dibandingkan dengan fenomena politik, sejauh ini belum ada yang menandinginya. Hanya sekitar ribuan saja.

Dari paparan fakta tersebut, sekurang-kurangnya kami sendiri membaca suatu gelombang empati yang besar kalau terkait peristiwa kematian. Bahwasannya kita selalu tergerak untuk menaruh konsen dan perhatian yang mendalam atas duka yang menimpa keluarga-keluarga yang ditinggalkan.

Bisa jadi sikap ini menggambarkan masih melekatnya nilai-nilai budaya dalam diri kita. Ambil contoh di Manggarai. Dalam peristiwa kematian di suatu kampung, biasanya para tetangga berbondong-bondong datang melayat.

Dalam wajah yang lain, kini simpati yang sama tersalurkan melalui cara yang berbeda. Kita membaca berita, sekaligus menyalurkan rasa berbelangsungkawa melalui media sosial.

Dalam gelombang solidaritas yang layak diapresiasi tersebut, sekaligus ada pelajaran maha penting yang perlu disimak. Kita dituntut untuk semakin mawas diri dalam mengenderai sepeda motor atau mobil.

Tidak seperti beberapa tahun silam pemakai jasa kendaraan bermotor tidak begitu popular. Sekarang keadaan sudah berubah jauh. Begitu banyak keluarga memiliki sekurang-kurangnya kendaraan roda dua. Maka kemungkinan tabrakan di jalanan bisa terjadi pada siapa saja.

Untuk itu, perhatian dari pemerintah dan pihak kepolisian juga sangat kita perlukan. Tak perlu sepenuhnya percaya bahwa kematian hanya ada di tangan Tuhan. Toh, kalau kita menyimak berita-berita kecelakaan, faktor human error merupakan kenyataan yang tak bisa ditampik.

Ambil contoh soal kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Setelah diselidiki lebih jauh, terlepas dari kenyataan bahwa pesawat itu memang harus berhadapan dengan cuaca buruk, namun suatu sistem yang amburadul ternyata turut memungkinkan kecelakaan itu terjadi. Jadwal penerbangan yang tak diawasi dengan ketat bisa berujung maut.

Bertolak dari alasan tersebut, baik pemerintah maupun kepolisian, perlu meningkatkan dan mengawasi sistem dengan baik. Terkait soal urusan SIM, tindakan tegas perlu diambil. Begitu pun soal regulasi kelayakan kendaraan-kendaraan yang beroperasi. Semestinya ada suatu ketetapan yang jelas apakah sebuah mobil yang berpotensi celaka memang perlu beroperasi atau tidak.

Seiring dengan itu, integritas dari pihak kepolisian perlu dijaga. Martabat kepolisian jangan digadai melalui perundingan-perundingan “jalanan” yang membuat masyarakat melihat aturan lalu-lintas hanya sebatas urusan administratif saja ketimbang sebuah persoalan yang lebih substansial.

Mengingat suatu sistem dapat menyebabkan potensi kecelakaan bertambah, urusan sistem sebisa mungkin tak dianggap sepeleh.

Sebab sungguh disayangkan, misalnya, kematian tragis seperti kecelakaan kendaraan bermotor belakangan diketahui bahwa ada kelemahan sistem yang bermain di dalamnya. Apalagi  kalau korbannya adalah anak-anak remaja yang masih punya masa depan dan segudang cita-cita. Tentu saja kita butuh waktu yang panjang untuk menerimanya.

Adalah pemikiran Sartre, seorang filsuf eksistensial yang lebih tepat  menggambarkan ekspresi kedukaan kita ketika melihat kecelakaan maut di jalanan yang berujung kematian. Menurutnya kematian adalah oposisi dari eksistensi manusia. Kematian adalah ancaman dan musuh.

Dengan demikian, selain sama-sama menunjukkan empati terhadap keluarga korban, kita juga perlu sama-sama mengawasi sistem yang lebih sehat dan mengakomodasi keselamatan hidup kita.