Ilustrasi
Ilustrasi

Borong, Floresa.co – Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) menunjukkan ketidakpedulian terhadap kondisi ruas jalan yang rusak parah menuju Desa Compang Teber, Kecamatan Rana Mese. Padahal, desa itu, disebut sebagai salah satu desa wisata di Matim.

Kondisi jalan lapen yang sedikit terjal dengan jarak 4 km dari ruas jalan negara menuju kali Wae Dingin sudah rusak berat.

Kulit aspal terkelupas dan material batu kerikil berserakan menghiasi permukaan badan jalan. Kondisi ini sangat berbahaya bagi pengendara, khusus sepeda motor.

Kondisi yang sama juga dari arah Wae Dingin menuju pertigaan Landang Teber, tepatnya di Kampung Golo Rutuk, Desa Golo Rutuk yang jaraknya sekira 7 km dari jalan negara. Kondisi jalannya juga sudah rusak dan berlubang.

Ruas jalan ini dikerjakan tahun 2007 saat Matim masih bergabung dengan kabupaten induk, Manggarai.

Sementara, jalan lapen dari Kampung Golo Rutuk menuju Compang Teber yang dikerjakan tahun 2011 lalu oleh Pemkab Matim, terlihat di sejumlah titik sudah ada yang rusak.

Pada titik tertentu yang dianggap rawan kecelakaan, telah ditambal dengan coran semen. Tapi tidak bertahan lama akibat terkikis air hujan.

Upaya tambal dengan coran semen dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dari berapa desa.

Jalur menuju desa wisata ini  melewati tiga kali besar yakni kali Wae Dingin, Wae Leras dan Wae Paeng.

Sampai saat ini belum ada infrastruktur jembatan pada ketiga kali tersebut.

Ruas jalan yang telah rusak itu tidak saja dimanfaatkan oleh masyarakat dari Desa Compang Teber, tapi juga oleh masyarakat dari desa lain seperti Desa Golo Rutuk, Desa Compang Kempo dan masyarakat Lopa, Desa Golo Lalong.

Setiap harim jalan rusak ini selalu ramai dengan kendaraan pengangkut penumpang dan barang hasil pertanian, yang hendak dibawa menuju ke Borong, ibukota Matim dan ke daerah lainnya.

Alfon Jegaut, Rikardus Hamas, Albertus Jagang, warga Desa Compang Teber mengisahkan kepada Floresa.co, Senin (23/2/2015), masyarakat berharap, pemerintah memperbaiki ruas jalan yang sudah rusak itu.

“Banyak pengendara kendaraan roda dua mengalami kecelakaan saat melintas di jalan tersebut,” kata mereka.

Kecelakaan itu terjadi karena di atas badan jalan yang sudah rusak itu penuh dengan material batu kerikil dari lapisan lapen yang terkelupas.

Apalagi kondisi jalan sedikit terjal. Kecelakaan mengancam kendaraan roda empat, di mana sering kali nyaris lari mundur.

“Banyak pengendara sepeda motor yang jatuh di sini karena tergelincir dengan adanya batu kerikil di badan jalan. Roda empat juga sering lari mundur, karena sudah jalan sedikit terjal dan jalannya rusak. Harapan kami Pemerintah Matim bisa memperbaikinya,” ungkap mereka.

Mereka menjelaskan, kerusakan jalan ini juga akibat tidak adanya drainase, termasuk untuk bagian jalan yang dikerjakan Pemkab Matim tahun 2011.

“Sehingga, air hujan dan air dari sawah mengalir ke badan jalan dan mudah rusak. Masyarakat bisa saja memperbaiki, tapi kesulitan memperoleh material batu dan pasir, aspal dan semen,” kata mereka. (ARL/Floresa)