Kadistamben Matim, Zakarias Sarong
Kadis ESDM Matim, Zakarias Sarong
Kadis ESDM Matim, Zakarias Sarong

Floresa.co – Persoalan tambang di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memanas, terutama pasca terkuak ke publik kasus PT Manggarai Manganese (MM), perusahan yang menyelundupkan bahan tambang berupa batuan yang mengandung emas dan perak.

Padahal, PT  MM yang wilayah operasinya di Kecamatan Elar, Matim, hanya memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk mangan.

Untungnya, ketika barang dengan berat 408 kg tersebut hendak dikirim ke Jakarta pada awal Januari lalu, berhasil diamankan Polres Manggarai Barat (Mabar).

Irvan Kurniawan, Ketua Himpunan Mahasiswa Manggarai Timur (Hippmatim) Kupang menilai, kasus tambang di Matim, termasuk dengan PT MM terjadi selain karena niat busuk perusahan tambang, juga karena lemahnya kemampuan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESM) Matim, Zakarias Sarong untuk melaksanakan tugasnya.

Oleh karena itu, tegas Irvan, mempertahankan Zakarias sebagai Kadis ESDM Matim akan memperpanjang penderitaan masyarakat Matim.

“Kadis ini harus dicopot. Ia mewarisi budaya institusi pragmatis, yang sama sekali tidak memikirkan masyakat Matim. Banyak masalah tambang terjadi selama era dia dan dia tampak tidak peduli,” katanya kepada Floresa.co, Kamis, (5/2/2015).

Ia menilai, Zakarias  tidak layak mengemban jabatan tersebut.

Selain Zakarias, lanjutnya, orang yang juga paling bertanggung jawab adalah Bupati Tote. Dia beralasan, terpilihnya Zakarias sebagai  Kadis ESDM karena Bupati Tote. Oleh karena itu, demikian Irvan, Tote harus bertanggung jawab atas semua persoalan di dinas ESDM Matim.

Persoalan tersebut, tuturnya, sebagai bukti bahwa Tote tidak memiliki kompetensi sehingga lahirlah birokrasi Matim yang amburadul dan tidak memiliki visi membangun Matim yang lebih baik.

“Kebodohan Bupati Matim adalah cerminan kebodohan birokrasi Matim”, tegasnya.

Tegas Irvan, birokrasi Matim telah gagal membangun budaya birokrasi yang populis. “Birokat hanya berpikir tentang diri dan kelompok sendiri, sedangkan pelayanan kepada rakyat hanya slogan belaka.”

Sebelumnya, Ferdy Hasiman, pengamat pertambangan dan penulis buku Monster Tambang: Gerus Rung Hidup Warga NTT (2013) juga mengomentari soal posisi Bupati Tote dalam persoalan tambang.

Tote, kata Ferdy, hanya mau menerima kehadiran tambang tetapi tidak mau belajar seluk beluk tambang dan kandungan mineral yang ada di wilayahnya.

Situasi inilah, lanjut Ferdy, yang dimanfaatkan investor, termasuk PT MM untuk membohongi publik.

“Karena Tote bodoh, maka mudah dikibuli PT MM”, tegas Ferdy.

Ia menjelaskan, sudah lama ia mengingatkan bahwa di lokasi tambang PT MM di Kecamatan Elar, penelitian para geolog menemukan bahwa di lokasi tersebut terdapat emas.

“Jadi saya sudah berpendapat sejak awal, tidak mungkin perusahan itu hanya ambil mangan. Di situ ada emas. Tapi bupatinya bodoh, tidak mau tahu”, kata Ferdy, pemuda asal Matim ini. (ARJ/Floresa).