Dr. Yulianus Weng, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai
Dr. Yulianus Weng, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai
Dokter Yulianus Weng, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai

Ruteng, Floresa.co – Kabar adanya ikan yang diawetkan dengan formalin merebak di daratan Flores,NTT selama beberapa pekan terakhir ini. Setelah di kota Maumere, Kabupaten Sikka, di Ruteng, Kabupaten Manggarai juga ditemukan ikan yang diawetkan dengan formalin.

Formalin merupakan zat pengawet berbahaya bagi manusia. Dokter Yulianus Weng, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai mengatakan dampak buruk formalin bagi tubuh manusia itu terjadi baik untuk tumbuh bagian luar maupun organ-organ tumbuh bagian dalam.

Dokter Weng mengatakan jika formalin mengenai kulit manusia maka akan menyebabkan kulit terkupas dan mengkerut. Jika dihirup lanjut Weng, maka akan menyebabkan gangguan pernapasan.

“Jika mengenai mata, maka akan menyebabkan perih dan merusak kornea. Jangankan mengenai mata jarak jauh saja mata mulai perih,”ujarnya saat berbincang dengan Floresa.co di ruang kerjanya di Ruteng, Selasa (3/02/2015).

Formalin merupakan nama dagang larutan formaldehida dalam air dengan kadar 36 -40 persen. Menurut Dokter Weng, jika dicampurkan ke dalam makanan seperti ikan yang dikonsumsi manusia secara terus menerus dan terakumulasi banyak dalam tubuh, maka senyawa kimia tersebut akan bereaksi dengan semua senyawa di dalam sel tubuh, sehingga fungsi sel terganggu dan dapat menyebabkan kematian karena tubuh teracuni.

“Formalin akan berdampak pada gangguan ginjal, hati, limpa, otak, susunan saraf, gangguan pada pencernaan, dan lain-lain,” kata Dokter Weng.

Formalin Di Ruteng Mulai Berkurang

Kabar gembiranya dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim terpadu dari Setda Manggarai yang bertugas menyelidiki adanya Formalin pada ikan di pasar Inpres Ruteng, kata Weng, menunjukkan tren pengurangan.

Pemeriksaan awal pada 24 Januari dari tujuh ikan yang menjadi sampel terdapat empat yang postif mengandung Formalin. Pemeriksaan berikutnya pada 29 Januari menunjukan, dari 13 sampel hanya terdapat 1 buah ikan yang positif mengandung Formalin. Lalu pemeriksaan pada 31 Januari dari 11 ikan yang menjadi sampel hanya terdapat satu yang positif.

“Terakhir, pemeriksaan 2 Februari kemarin, dari lima sampel hanya satu yang positif,” katanya.

Untuk mencegah masyarkat mengkonsumsi ikan yang sudah diawetkan dengan formalin, Dokter Weng meminta masyarakat memperhatikan ciri-ciri ikan yang sudah mengandung zat beracun yang memiliki rumus kimia H2CO ini. Itu sebabnya, beberapa pekan terakhir pihak pemerintah Manggarai gencar mensosialisasikan ciri-ciri ikan yang sudah diawetkan dengan formalin.

“Kami sarankan kepada masyarakat jika mencurigai adanya formalin, langsung memberitahukan ke Dinas Kesehatan untuk diperiksa di laboratorium,” pinta Dokter Weng.

Weng juga menjamin bahwa selama ini untuk makanan di Manggarai belum pernah ditemukan adanya formalin. Sebab, pihaknya sering melakukan pemeriksa rahasia tanpa diketahui para penjual.

Ikan berformalin di Manggarai kata dia berasal dari luar daerah. “Kalau memang yakin tidak menjadi pengedar Formalin tidak usah takut. Kami juga ingin penjual aman dan masyarakat yang mengosumsi ikan aman,” ujar Dokter Weng. (ADB/Floresa).