Tolak Bangun Hotel di Pantai Pede, Ini 9 Alasan Komunitas Bolo Lobo

0
537
Kris Bheda Somerpes
Kris Bheda Somerpes dari Komunitas Bolo Lobo sedang berbicara dalam acara sosialisasi terkait rencana pembangunan hotel di Pantai Pede, Sabtu (17/1/2015).
Kris Bheda Somerpes dari Komunitas Bolo Lobo sedang berbicara dalam acara sosialisasi terkait rencana pembangunan hotel di Pantai Pede, Sabtu (17/1/2015).

Labuan Bajo, Floresa.co – Komunitas Bolo Lobo, sebuah kelompok anak muda di kota Labuan Bajo, Manggarai Barat menyampaikan sejumlah argumentasi penolakan terhadap rencana Pemerintah Provinsi NTT menyerahakan pengelolaan Pantai Pede ke pihak swasta untuk dibangun hotel berbintang lima.

Dalam sebuah pernyatan sikap tertulis yang diterima Floresa.co, belum lama ini, setidaknya, ada sembilan argumentasi mengapa komunitas ini menolak rencana tersebut.

Pertama, Pantai Pede adalah natas labar atau tempat bermain warga Labuan Bajo-Manggarai Barat. Pantai Pede menjadi satu-satunya pantai publik yang tersisa setelah akses masyarakat ke Pantai Binongko, Waicicu,dan sekitarnya dibatasi.

Kedua, Pantai Pede menjadi ruang  rekreasi. Dalam hubungannya dengan itu, umus  daya dukung fisik untuk kebutuhan rekreasi menurut Ciduentes (1992) dan menurut penelitian Douglas, yang kemudian dirumuskan secara baru oleh Fandeli, luas area yang dibutuhkan oleh  seorang untuk melakukan rekreasi dengan nyaman adalah 65m2/orang.

Konsekuensinya, dibandingkan dengan jumlah penduduk Labuan Bajo saja, luas Pantai Pede sebagai satu-satunya tempat rekreasi publik yang tersisa sekarang sesungguhnya tidak cukup untuk sebuah tempat rekreasi yang nyaman. Pembangunan hotel di atasnya jelas merupakan sebuah tindakan pencaplokan yang merampas kenyamanan rekreasi masyarakat.

Ketiga, argumentasi soal manfaat kehadiran investasi hotel untuk penambahan PAD adalah sebuah argumentasi yang mengorbankan kepentingan rakyat. Dalam konteks Manggarai Barat, tidak banyak manfaat langsung yang diperoleh masyarakatdari PAD jika dibandingkan dengan manfaat langsung yang dapat diterima masyarakat ketika berekreasi di Pantai Pede.

Keempat, argumentasi soal penyerapan tenaga kerja juga merupakan sebuah  “akal-akalan”. Sebagai pembanding, hotel berbintang, seperti Bintang Flores, yang juga berada di kawasan Pantai Pede, hanya mampu mempekerjakan total 52 orang tenaga kerja. Ini jumlah yang sangat tidak signifikan ketika dibandingkan dengan hak ribuan masyarakat atas tempat rekreasi yang direnggut melalui pembangunan hotel di Pantai Pede.

Kelima, dari segi pemberdayaan ekonomi lokal, justru kebocoran secara ekonomi terjadi secara besar-besaran dengan kehadiran hotel berbintang. Sebabnya, kebanyakan produk yang dikonsumsi oleh tamu-tamu hotel berbintang tidak banyak yang berasal dari daerah di mana hotel tersebut berada. Contoh yang paling mudah ditemukan adalah mayoritas menu makanan dan minuman berasal dari luar daerah, misalnya: wine, keju, dll. Jelas di sini, jumlah uang yang berputar lebih banyak mengarah  keluar daerah.

Keenam, pembangunan hotel berbintang sangat rakus mengkonsumsi energi dengan segala fasilitasnya. Misalnya: listrik, air, dll. Bandingkan dengan kondisi masyarakat Labuan Bajo yang begitu kekurangan pasokan air bersih dan listrik.

Ketujuh, beban limbah hotel berbintang sangat besar, baik itu limbah padat maupun limbah cair. Ini mengingat pemakaian linen warna putih khas hotel berbintang yang akan menggunakan produk-produk pemutih yang berpotensi merusak air tanah. Oleh karena itu, tumbuh suburnya hotel berbintang di Labuan Bajo sesungguhnya justru mengancam keberlanjutan lingkungan.

Kedelapan, secara sosiologis, ketiadaan ruang publik (seperti pantai dan taman) untuk berekspresi secara kreatif berpotensi sangat besar memicu tumbuh suburnya stress sosial yang selanjutnya berpotensi memicu penyakit-penyakit sosial (pathologis).

Kesembilan, dengan berbagai argumentasi di atas pertanyaan penting yang mesti dijawab secara jujur, siapa yang sesungguhnya mendapat manfaat dari pembangunan hotel di Pantai Pede?

Sesungguhnya, selain tempat rekreasi, masyarakat Labuan Bajo lebih butuh rumah sakit, air bersih, dan pasokan listrik yang cukup daripada sebuah bangunan hotel berbintang yang jelas-jelas lebih banyak merugikan masyarakat lokal Labuan Bajo-Manggarai Barat (PTD/Floresa).

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini