Natus, Tukang Ojek yang Bertekad Beri Gelar Sarjana untuk 4 Orang Anak

0
724
Donatus Dasion, tukang ojek asal Kampung Paka, Desa Sita, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Pria 52 tahun ini yang dipanggil Natus bertekad tuntaskan pendidikan 4 anaknya. (Foto: Satria)
Donatus Dasion, tukang ojek asal Kampung Paka, Desa Sita, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Pria 52 tahun ini yang dipanggil Natus bertekad tuntaskan pendidikan 4 anaknya. (Foto: Satria)
Donatus Dasion, tukang ojek asal Kampung Paka, Desa Sita, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Pria 52 tahun ini yang dipanggil Natus bertekad tuntaskan pendidikan 4 anaknya. (Foto: Satria)

Floresa.co – Jarum jam menunjukan pukul 07.45 WITA saat Donatus Diano memanaskan mesin motor Supra Fit di depan rumahnya.

Itu rutinitasnya setiap hari, demi memastikan agar mesin kendaraan keluaran tahun 2006 itu bisa menjamin kelancaran upayanya mengumpulkan rupiah sepanjang hari.

Semua itu dilakukan Natus, demikian sapaan pria 52 tahun ini agar 4 orang anaknya bisa sukses di bangku studi.

Dua anak Natus saat ini sedang kuliah di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, dua lainnya di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 01 Borong dan Sekolah menengah Pertama (SMP) Sita, Kaca.

“Saya akan selesaikan studi keempat anak saya sampai semuanya mendapat gelar sarjana”, katanya saat ditemui Floresa.co, Sabtu (17/1/2015) lalu.

Usai memanaskan motor, Natus lalu mengenakan jaket kusam. Tampak, jaket yang di sebelah kirinya sudah sobek itu bertuliskan Honda. Rupanya usia jacket itu seusia motornya.

Pria asal Kampung Paka, Desa Sita, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) ini memilih tempat mangkal di persimpangan Paka, arah menuju Kampung Ntaur, Desa Sanolokom, bersama belasan tukang ojek lain.

Natus setiap hari menghabiskan waktu mengantar penumpang yang hendak ke kampung Ntaur, Rama, Pupung, Nantal dan Kawit Batu dengan tarif yang murah meriah.

Pendapatannya tidaklah menentu. Saat lagi ramai, misalnya pas hari Pasar pada Senin dan Selasa, biasanya ia mendapat Rp 100.000 hingga Rp 150.000.

Sementara saat lagi sepi, ia hanya bisa mengumpulkan Rp. 50.000 sehari.

“Pendapatan hanya begitu saja.  Mau bilang bagaimana, ada puluhan tukang ojek di pangkalan, sementara para penumpang hampir tiap hari mulai berkurang yang memanfaatkan jasa tukang ojek”, jelasnya.

“Apalagi sekarang hampir tiap kampung sudah memiliki puluhan kendaran roda dua.”

Dengan jumlah pendapatan demikian, tentu saja Natus belum bisa memenuhi kebutuhan 4 anaknya, juga untuk kebutuhan rumah tangganya.

Untung, ia dan isterinya Margareta Suet (47) punya pemasukan lain, yaitu dari menjual kemiri dan buah-buahan seperti rambutan, salak dan durian yang mereka tanam 15 tahun yang lalu.

Ia dan istrinya sudah membagi tugas dalam bekerja. Istrinya mencari dan memecahkan kemiri serta  menjual buah-buahan jika musimnya tiba.

Sementara Natus, ia tetap dengan tugas pokoknya, sebagai tukang ojek.

Ia melihat, menjadi tukang ojek, sama mulianya dengan pekerjaan lain, asal dikerjakan dengan serius.

Sekalipun usia semakin tua, Natus tetap tampak semangat. Fisiknya yang semakin termakan usia dan tak kuat lagi, tak membuatnya berhenti bekerja

Meski menjadi tukang ojek, masih dipandang sebelah mata, namun Natus mengatakan, dirinya berupaya menunjukkkan bahwa nilai semua pekerjaan pada dasarnya sama.

Yang pertama-tama ia pikirkan, adalah masa depan keempat anaknya.

“Saya ingin semua anak saya mendapat gelar sarjana,” katanya dengan nada tegar.

“Mereka harus lebih baik dari saya dan isteri saya.” (ARL/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini