Penelitian: Nutrisi Orang Pendek di Manggarai Lebih Baik dari Orang Jakarta

0
877
Salah satu orang pendek di Rampasa, Manggarai (Foto: Liputan6.com)
Salah satu orang pendek di Rampasa, Manggarai (Foto: Liputan6.com)
Salah satu orang pendek di Rampasa, Manggarai (Foto: Liputan6.com)

Floresa.co.-Komunitas orang pendek (pigmi) di Desa Rampasasa, Manggarai, memiliki asupan gizi yang baik, bahkan lebih baik dari orang Jakarta.

Fakta ini diungkapkan Dr Aman Bakhti Pulungan dalam ujian doktoralnya di Fakultas Kedokteran Univeristas Indonesia, pada Selasa, (13/1), sebagaiman dilansir Batampos.co.id (15/1/2015).

Hal ini menepis anggapan masyarakat bahwa orang pendek berarti kekurangan gizi. Karena, hasil penelitian dokter spesialis anak kelahiran Medan, 23 November 1957 ini, menunjukkan, di bidang nutrisi menunjukkan bahwa dari total delapan orang pigmi murni yang diteliti, semua memiliki kandungan kalsium yang normal.

Lalu, dari 40 orang pigmi campuran, hanya satu orang yang kandungan kalsium dalam tubuhnya di bawah rata-rata.

Untuk asupan vitamin D, penelitian Aman mendapati fakta, tidak ada satu pun orang pigmi yang diteliti mengalami kekurangan (defisiensi) vitamin D.

Dari kandungan kalsium dan vitamin D itu, Aman menyimpulkan bahwa tubuh pendek masyarakat pigmi Rampasasa tidak berkaitan dengan kekurangan nutrisi atau gizi.

Untuk kondisi hormon pertumbuhan, penelitian Aman juga tidak menunjukkan perbedaan yang berarti antara masyarakat pigmi murni dan orang non-pigmi. Dengan kata lain, kondisi tubuh pendek masyarakat pigmi tidak terkait langsung dengan kondisi hormonal mereka.

Berdasarkan fakta-fakta itu, sangat mungkin penyebab postur pendek masyarakat pigmi Rampasasa adalah faktor genetis. Karena itu, Aman lalu melakukan analisis DNA. Hasilnya, dia menemukan adanya regio homozigot pada manusia pigmi Rampasasa yang mengindikasikan tubuh mereka menjadi pendek karena faktor genetis atau keturunan.

Dari hasil penelitian ini, menurut Aman, manusia Pigmi di Rampasasa berbeda dengan komunitas sejenis di negara-negara lain.

Bedanya, kata Aman, pigmi Rampasasa mempunyai keterkaitan dengan manusia purba Homo Floresiensis. Apalagi, desa tersebut berdekatan dengan Liang Bua, lokasi penemuan fosil yang diperkirakan sebagai spesies baru ini.

Namun, lanjut Aman, komunitas Pigmi Rampasasa berpotensi punah. Karena menurutnya, selama penelitian, dia tidak menemukan orang pigmi murni yang masih anak-anak.

Hal itu terjadi, kata Aman, karena saat ini pernikahan antar sesama pigmi murni sudah tidak boleh dilakukan. Alasannya terkait dengan ajaran agama yang melarang kawin dengan ’’saudara’’ sendiri. (ARS/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini