Kerja Proyek Rp 100 Juta, Kades Compang Wesang Tunjuk Isteri Jadi Bendahara

0
829
Ilustrasi

uangFloresa.co – Pengerjaan proyek dengan anggaran seratus juta rupiah di Desa Compang Wesang, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) – Flores, NTT menimbulkan keresahan di kalangan warga.

Proyek itu yang dikerjakan oleh Organisasi Masyarakat Sasaran (OMS) berupa pembuatan tempok penahan di sepanjang halaman (natas) Dusun Wesang.

Kini, warga kesal dengan Kornelis Mancung, Kepala Desa (Kades) Compang Wesang yang mengangkat  para pengurus OMS dari kalangan keluarganya. Bahkan, ia menetapkan isterinya sendiri sebagai bendahara.

Mereka pun menduga dana proyek itu disalahgunakan oleh Kades Kornelis.

Menurut seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan, penetapan pengurus OMS tidak sesuai dengan hasil rapat sebelum pengerjaan proyek itu.

“Saat rapat itu, Stanis Tampur ditetapkan sebagai ketua, Filipus Mantur bendahara, Yosep Banggut anggota, tapi saat Surat Keputusan (SK) keluar, nama orang lain yang dicantumkan,” katanya.

Dalam SK itu, Kades Kornelis menunjuk Tinus Madur sebagai ketua dan isterinya sendiri sebagai bendahara.

Pengakuan warga, anak perempuan Kornelis yang menikah dengan pria dari Kampung Nggori, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai juga ditunjuk sebagai anggota.

“Tinus Madur (Ketua OMS-red) kan satu panga (klan) dengan dia. Kami sangat bingung, ia pilih isterinya juga sebagai bendahara. Malah anaknya yang menikah dengan laki-laki dari kabupaten lain jadi pengurus juga. Lalu, apa gunanya keputusan rapat waktu itu,” tegas sumber ini.

Sementara itu, tekait Filipus, bendahara yang dipilih berdasarkan hasil rapat sempat diminta Kades Kornelis untuk membuka rekening di Borong. Tetapi, hingga proses pencairan dana dilakukan, rekeningnya tetap kosong.

Saat dikonfirmasi Floresa.co, Filipus mengamini hal ini. “Saya boleh susah-susah ke Borong untuk buka rekening, sampai proyek ini berjalan, rekening itu kosong,” katanya.

Informasi terkait tindakan nepotisme sang Kades, dibenarkan oleh salah satu tukang yang menjadi pelaksana proyek itu.

“Benar, semuanya dari keluarga dia (Kades Kornelis – red)”, kata tukang itu.

Kenyataan ini berimbas pada ketidakpercayaan warga desa kepada sang Kades. Mereka  bahkan menganggapnya sebagai Kades untuk keluarganya saja.

Seorang warga yang juga tidak mau disebutkan identitasnya, menuturkan, saat pengerjaan proyek ini, pernah terjadi pertengkaran yang hampir berujung pada perkelahian antara Ito Lagur, seorang warga dengan Ketua OMS, Tinus Madur.

Pertengkaran ini berawal dari permintaan Ito untuk ikut mengambil bagian dalam pengerjaan tembok yang kebetulan persis di depan rumahnya. Permintaan Ito ditolak Ketua OMS, maka terjadilah pertengkaran hebat dan disaksikan banyak warga.

Ketika dikonfirmasi oleh Floresa.co, Ito mengakui, sebenarnya dia hanya ingin ikut kerja di depan rumahnya saja.

Sebab menurut pantauan Ito, pengerjaan proyek ini dilakukan setengah hati sehingga kualitasnya diragukan.\

“Saya lihat, campuran semennya dibuat asal jadi saja,” katanya.

Keluhan warga  Desa Compang Wesang terhadap Kades Kornelis sebenarnya sudah berlangsung lama.

Namun, mereka mengaku enggan memprotes karena kerap dijawab dengan kata-kata kasar.

Sebagaimana diberitakan Floresa.co sebelumnya, warga sempat protes terkait upaya perbaikan irigasi Wae Lawar yang dijalankan tanpa sosialialisasi dengan warga dan menyebabkan kekeringan hebat di Lingko Geleng, lokasi persawahan terbesar di Wesang.

Proyek itu yang dikerjakan saat musim kemarau membuat hampir semua padi warga yang sedang berbunga mati, sehingga mereka gagal panen pada Desember lalu.

Menurut Heri Dasman, Ketua Kelompok Tani Lingko Geleng, proyek irigasi ini salah satu contoh sikap keliru dan ketidaktransparan sang Kades.

Selain itu, kata Heri, pengerjaan jembatan kecil (deker) di dusun Golo Ara dan pembuatan bak air hasil sumbangan seorang caleg, adalah proyek-proyek mubazir.

“Karena, sampai sekarang fasililitas ini tidak pernah digunakan, dan penggunaan dananya tidak dilaporkan ke masyarakat,” kata Heri.

Menurut seorang tokoh masyarakat, hal ini terjadi karena Badan Pengawas Desa (BPD) tidak bekerja dengan baik.

Menurutnya, selama ini dia tidak pernah mendengar BPD bersuara terkait keluh kesah warga.

“Anehnya, anggota BPD justru mengangggap diri mereka sebagai bawahan Kades,” katanya.

Warga Kampung Wesang mengharapkan ada intervensi Camat Poco Ranaka terhadap persoalan yang mereka hadapi.

“Kami juga mengharapkan DPRD dan pihak kabupaten datang mengontrol penggunaan dana di desa kami”, tegas Heri Dasman.

Hingga berita ini dimuat, Kades Kornelis belum berhasil dikonfirmasi Floresa.co. (ARS/Floresa).

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini