Di RSUD Ende, Orang Gila yang Dibakar OTK Dirawat dengan Kasih

0
943
Remi, orang yang mengalami ganggung jiwa (gila) dibakar pada Kamis (2/1/2015). Dalam foto ini, ia – yang sedang dirawat di RSUD Ende – sedang disuap oleh Romo Aven Saur SVD, seorang imam yang bertugas di Ende. (Foto: Facebook Aven Saur)
Remi, orang yang mengalami ganggung jiwa (gila) dibakar orang tak di kenal (OTK) pada Kamis (2/1/2015). Dalam foto ini, ia – yang sedang dirawat di RSUD Ende – sedang disuap oleh Romo Aven Saur SVD, seorang imam yang bertugas di Ende. (Foto: Facebook Aven Saur)
Remi, orang yang mengalami ganggung jiwa (gila) dibakar orang tak di kenal (OTK) pada Kamis (2/1/2015). Dalam foto ini, ia – yang sedang dirawat di RSUD Ende – sedang disuap oleh Romo Aven Saur SVD, seorang imam yang bertugas di Ende. (Foto: Facebook Aven Saur)

Floresa.co – Ketika publik Manggarai  Raya menyoroti kinerja buruk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, apresiasi patut ditujukan kepada para perawat RSUD Ende.

Pasalnya, mereka menerima dan merawat Remigius Puji, orang dengan gangguan jiwa yang diduga dibakar orang tak dikenal (OTK) pada malam tahun baru, pukul 02.00 Wita di perlimaan dalam kota Ende, Kamis (1/1/2015).

Remigius yang akrab disapa Roki (40-an tahun) diantar orang keturunan Tionghoa ke RSUD Ende, yang kebetulan lewat di perlimaan tersebut.

Sebagaiamana dilansir harian Flores Pos, Senin (12/1/2015), awalnya para perawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) enggan menerima Remi, warga Kampung Seulako, Desa Ngguwa, Kecamatan Ndona Timur ini, lantaran tidak ada keluarga yang bertanggung jawab atas perawatannya di rumah sakit itu.

Tapi, tulis koran itu, oleh karena belas kasihan, rasa kemanusiaan dan keprihatinan yang mendalam, para perawat menerimanya dan merawatnya di ruang bedah.

“Remi diantar ke ruang ini tanpa baju, dengan tubuh penuh luka mengerikan. Tiga hari pertama, ia tidak bisa makan karena mulutnya sulit dibuka. Tapi setelah luka-lukanya dirawat selama beberapa hari terakhir, ia mulai bisa makan sekalipun agak setengah mati. Ia hanya diam, tak banyak bicara, tidak bisa tidur baring, tidur posisi duduk saja,” kata perawat yang sedang membalut luka-luka di sekujur tubuh Remi.

Menurut para perawat, Remi sempat dipasangkan infus selama beberapa hari, tapi mungkin karena merasa tidak nyaman, maka ia sendiri yang melepaskannya. Remi kadang kurang sadar membuang air kecil di tempat tidur atau di dalam ruang perawatannya, bukan di kamar WC, yang membuat ruang itu terasa agak pengap. Tapi karena rasa kemanusiaan dan keprihatinan, para perawat, tidak risih sedikit pun.

Remi duduk di tempat tidur dengan kepala menunduk. Sekujur tubuhnya, kepala bagian belakang sampai mendekati pantat dan bagian depan mulai dari dahi (mata, hidung) sampai perut serta bagian tulang rusuk dan ketek dipenuhi luka bakar yang masih bernanah dan mengeluarkan aroma tak sedap. Kedua tangannya juga berluka. Ia terus menunduk karena di lehernya dipenuhi luka bakar. Luka pada kedua bibirnya masih memerah dan bernanah yang membuat dia susah memasukkan makanan ke mulut, apalagi untuk mengunyah.

Pada Jumat (3/1/2015), beberapa anggota keluarganya dari Kampung Seulako, termasuk Anggota DPRD Ende Maximus Deki dari Kampung Watumbawo, Kelurahan Lokoboko, Ndona, datang mengunjungi dan menemaninya di rumah sakit.

Maxi mengetahui Remi menderita luka bakar ketika ia mengunjungi seorang anggota keluarganya yang dirawat di rumah sakit itu, tak jauh dari ruang bedah.

“Awalnya, saya mendengar orang bercerita tentang orang gila yang dirawat karena diduga dibakar orang tak dikenal, dan tidak memiliki keluarga untuk menjaganya. Saya pun pergi ke ruang tempat Remi dirawat, dan saya mengatakan kepada perawat, biar saya yang bertanggung jawab atas perawatannya,” ujar Maxi.

Menurut Maxi,  Remi biasa berjalan-jalan di pasar Wolowona, dan juga di beberapa titik dalam kota Ende. Ia biasa tidur di emperan-emperan toko dan kios serta di bawah naungan pepohonan. Ia dikenal warga sebagai orang gila yang lebih banyak diam, tidak membuat kegaduhan. Kemungkinan besar, pada malam tahun baru, Remi melintasi perkumpulan orang-orang mabuk, dan tanpa sadar, orang-orang mabuk membakarnya.

“Sampai sekarang, keluarga belum melaporkannya kepada polisi. Yang paling penting, kita merawatnya supaya luka-lukanya bisa sembuh,” ujar Maxi Deki.

Beberapa anggota keluarga Remi mengatakan, ia menderita sakit jiwa sejak duduk di sekolah dasar. Ada beberapa kakak dan adik kandungnya, tapi mereka tidak tinggal di Kampung Seulako. Mereka merantau ke Kupang, Malaysia dan Kalimantan.

“Dahulu, ia memiliki rumah di kampung, tapi karena tidak dirawat, maka perlahan rusak dan sekarang rumah itu sudah ambruk. Belasan tahun, ia tidak pernah ke kampung, ia hanya berjalan-jalan saja di kota Ende. Kami berharap Remi bisa sembuh, bukan hanya luka-luka di sekujur tubuhnya, tapi juga jiwanya,” ujar salah seorang anggota keluarga, Yohanes Lana.

Kepala Bidang Bantuan Jaminan Sosial dari Dinas Sosial Kabupaten Ende Romanus Tato dan beberapa pegawai yang mengunjungi Remi, Sabtu (10/1) siang mengatakan, pihak Dinsos telah mendengar kejadian yang menimpa Remi beberapa hari lalu.

“Kami akan memperhatikan proses perawatan Remi selanjutnya. Untuk sementara, kami akan memberikan bantuan makanan kepada anggota keluarga yang menjaga Remi di rumah sakit. Setelah luka-lukanya sembuh, kami akan pikirkan langkah selanjutnya untuk perawatan jiwanya,” ujar Magnus.(Flores Pos/ARS/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini