Warga Sumba di Jakarta Beri Penghargaan untuk 4 Tokoh yang Sudah Meninggal

0
895
Pasola, salah satu tradisi khas Sumba, di mana dua kelompok melakukan "perang-perangan" dengan menaiki kuda. (Foto: Ist)
Pasola, salah satu tradisi khas Sumba, di mana dua kelompok melakukan "perang-perangan" dengan menaiki kuda. (Foto: Ist)
Pasola, salah satu tradisi khas Sumba, di mana dua kelompok melakukan “perang-perangan” dengan menaiki kuda. (Foto: Ist)

Jakarta, Floresa.co – Meski sudah meninggal dunia, masyarkat asal Pulau Sumba, Provinsi NTT yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya,  tetap memberikan penghargaan kepada empat tokoh asal pulau itu. Mereka dinilai memiliki kontribusi terhadap kemajuan Sumba di bidang pendidikan, kebudayan, ekonomi, dan politik.

Emanuel Dapa Loka dari Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) Jakarta mengatakan, empat  tokoh tersebut adalah DR. Oembu H. Kapita, Prof. Dr. Manase Malo, CM Djakababa, M.Sc , dan Drs. Jhon Robert Zairo.

Mereka dinilai  telah memberi kontribusi bagi kemajuan Sumba, NTT dan Indonesia.

Penghargaan itu akan diberikan saat acara perayaan natal bersama IKBS Jakarta yang akan digelar di  Taman Mini Indonesia Indah, Minggu mendatang (11/1/2015). Dalam perayaan tersebut akan hadir sekitar 4.000 warga Sumba yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya.

Oembu Hina Kapita adalah tokoh Sumba yang berjasa di bidang ilmu pengetahuan. Meski cuma tamatan Sekolah Rakyat, Oembu Hina Kapita, telah menulis belasan buku tentang Sumba diantaranya Sumba dalam Jangkauan Zaman, Lindai, Kamus Sumba-Indoensia Belanda,Lawiti Luluku Humba-Pola Peribahasa Sumba, Tata Bahasa Sumba dalam Dialek Kambera, dan Lii Matua.

Umbu Hina Kapita pada 1970 mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Leiden, Belanda. Tokoh kelahiran 1908 itu meninggal tahun 2000.

Tokoh lain adalah Jhon Robert Zairo. Ia berjasa dalam mengembangkan dan mempromosikan tarian Sumba. Sosok kelahiran Elopada, Sumba Barat Daya, 17 Agustus 1945 itu adalah seorang pegawai Dinas Sosial DKI Jakarta. Dengan segala pengetahuan dan keterampilan dalam menari, ia mengembangkan tarian Sumba di Jakarta dengan melatih sejumlah kaum muda Sumba, membawakan tarian-tarian itu dalam berbagai kesempatan baik di dalam maupun luar negeri bersama kaum muda Sumba.

CM Djakababa, MSc adalah generasi Sumba pertama yang terjun dalam bidang entrepreneurship atau kewirausahaan. Biasanya, orang Sumba yang berpendidikan memilih menjadi guru, PNS, rohaniwan. Ia lalu mendirikan Newa Resort di Sumba dan banyak menyerap tenaga kerja lokal. Mereka yang buta huruf pun dia pekerjakan, lalu dilatih.

Prof. Dr. Manase Malo Ndapa Tondo adalah seorang tokoh politik nasional asal Sumba. Bersama beberapa temannya pada tahun 1999, dia mendirikan sebuah partai politik bernama Partai Demokrasi Kasih Bangsa atau PDKB.

Selain berpolitik, Manase Malo Ndapa Tondo  juga dikenal sebagai akademisi. Alumnus Universitas Wisconsin, Amerika Serikat  ini pernah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia.

Ketua Panitia Thobias Tamo Ama mengatakan pemberian penghargaan ini sebagai wujud kerinduan kaum muda untuk berguru kepada mereka yang sudah berhasil dalam hidupnya.

Ukuran keberhasilan, kata Thobias, tidak selamanya  dilihat dari kekayaan yang dimiliki seseorang, tetapi juga jasa-jasa orang tersebut untuk kesukses orang lain.

“Dan kami melihat keempat tokoh tersebut dari perspektif ini,” jelas Thobias dalam siaran pers yang diterima Floresa.co, Jumat (9/1/2015)

“Mereka telah melakukan yang mereka bisa. Kini saatnya mereka dihargai, bukan terutama dengan award,  tapi meneladani laku hidup dan karya mereka,” tambah ketua pengarah Mikael Umbu Zaza. (PTD/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini