Anggota DPRD: RSUD Ruteng Harus Benahi Pelayanan

11
1655
Tampak depan RSUD Ruteng. (Foto: Ardy Abba/Floresa)

RSUD Ruteng

Ruteng, Floresa.co – Pola pelayanan pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendapat sorotan.

Setelah sebelumnya pelayanan RSUD Ruteng dikeluhkan keluarga pasien, kali ini anggota Dewan Perwakilin Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten itu angkat bicara.

Bona Onggot, salah satu Anggota DPRD mengatakan kepada Floresa.co, Jumat (9/1/2015), keluhan pasien harus diperhatiakan pihak  RSUD Ruteng untuk membenahi diri.

Kata Bona, dalam beberapa kesempatan sidang komisi di DPRD, pihaknya sudah sering menyampaikan kepada otoritas RSUD agar pola pelayanan dilakukan lebih baik lagi.

“Kita minta mengutamakan keselamatan pasien, pelayanan rawat inap juga disiapkan tenaga medis yang memadai agar bisa melayani pasien dengan baik,” tutur Bona yang juga politisi Gerindra itu.

Berdasarkan evaluasi, lanjutnya, RSUD Ruteng yang statusnya menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) mesti harus menempatkan 9 dokter umum.

“Tapi kenyataanya hanya ada 3 dokter umum. Ini salah satu kendala yang mesti segera disikapi,” pungkas Bona.

Ia menambahkan, selama ini tenaga dokter di RSUD Ruteng didatangkan dari Puskesmas terdekat yang sifatnya membantu, bukan dokter tetap. Mereka diatur jadwal kerjanya oleh pihak rumah sakit.

Menurutnya, hal ini menjadi kendala besar untuk melayani dan merawat pasien.

“Kemudian masih banyak kekurangan tenaga perawat lainnya terutama di bagian persalinan,” imbuh anggota DPRD asal Dapil kecamatan Langke Rembong itu.

Ia pun mendesak Pemkab Manggarai agar segera merekrut sejumlah dokter umum dan tenaga medis lainnya untuk memenuhi rasio sesuai dengan jumlah pasien.

Selain itu, Bona meminta agar meningkatkan fasilitas atau peralatan untuk melayani dan memeriksa pasien sesuai hasil evaluasi tim Sister Hospital pada akhir 2014 lalu.

Evaluasi tersebut, kata dia, sudah melibatkan dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Fakultas Kesehatan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan dari Rumah Sakit Yohanes Kupang.

Sementara itu, Benediktus Tiwu, Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng menyatakan, selama ini di RSUD Ruteng kerap terjadi ada praktek diskriminasi dalam melayani pasien.

“Misalnya ketika pasien yang berasal dari kampung-kampung atau tergolong orang miskin, petugas RSUD kesannya tidak serius dalam memberi pelayanan,” tutur Benediktus.

Kata dia, akan berbanding terbalik dengan pelayanan terhadap pasien yang bisa dikategorikan orang-orang kaya, dimana pelayanan sangat maksimal.

Sebelumnya diberitakan, keluarga pasien Philipus Nomer (76), asal Cancar, Kecamatan Ruteng mengeluh dengan pelayanan pihak RSUD Ruteng. (Baca: 12 Jam RSUD Ruteng Telantarkan Pasien)

Pasalnya, Philipus ditelantarkan selama 12 jam di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan dalil masih dilakukan pembersihan ruangan rawat inap oleh para petugas di rumah sakit itu.

Lantaran kecewa dengan pelayanan para petugas yang dinilai lamban, Korbinianus Molmen Nomer, anak Philipus memarahi petugas.

Melihat ia marah-marah, pihak RSUD pun langsung mempersilakan Philipus menempati ruangan yang sebenarnya sudah disiapkan.

“Saat orang marah-marah baru menunjukan pelayanan primannya,” kata Korbi dengan kecewa.

Sementara itu, dikonfirmasi di ruang kerjanya terkait hal tersebut Dokter Dupe Nababan, Direktur RSUD Ruteng menyatakan, masalah yang menimpah keluarga Korbi merupakan masalah biasa dan bukan masalah pelayanan.

“Masalah itu sudah diluruskan. Pelayanan tidak ada yang kurang, hanya soal komunikasi saja,” kata Nababan.

Ia menambahkan, masuk di RSUD Ruteng khususnya ruangan VIP yang hanya 15 kamar, jika sudah penuh berarti harus siap menempati tempat-tempat lain sesuai arahan petugas.

Menanggapi pernyataan Dupe, Korbi menegaskan, apa yang menimpa pihaknya adalah masalah besar, bukan persoalan kecil. (Baca: Keluarga Pasien Kecam Pernyataan Direktur RSUD Ruteng)

“Sebagai keluarga pasien, ini merupakan masalah luar biasa karena menyangkut keselamatan orang tua saya yang sedang sakit”, katanya.

Ia mengaku heran dengan Dupe yang menyebut masalah yang mereka alami sebagai hal yang biasa.

“Kalau memang masalah ini sudah sering terjadi, kenapa tidak dibenahi sehingga tidak terulang lagi”, kata Korbi. “Seandainya saat itu saya tidak marah-marah, mungkin orang tua saya sudah meninggal di IGD”. (ARL/Floresa)

Advertisement

11 Komentar

  1. Benar pak bona,waktu tgl 28 desember adik sy yg bungsu juga mengalami hal yg tidak diinginkan dan membuat kami sekeluarga sangat terpukul dgn meninggalnya keponakan sy msh dalam kandungan,tpi ngga tahu apa kesalahan dari dokter atau gimana dalam mengambil tindakan.berharap pemerintah lebih memperhatikan pelayananya.jangan sampai terjadi hal2 yg tidak diinginkan.

  2. Buat kraeng Macmic putra Raha: nekarabo sebelumnya saya turut berduka cita untuk keponakan anda.saya boleh tahu nama ibu keponakan yang jadi pasien RSUD siapa? Biar saya crosscheck di rekam medis RSUD ruteng.semoga saja benar yang anda katakan, tapi kalau tidak, saya mau berdiskusi dengan anda

  3. saya berharap ini bukan sekedar berita untuk menyela, menyalahkan atau menyudutkan salah satu pihak tapi untuk jalan keluar yang baik di tahun 2015. bukan begitu pak Bonaventura Onggot?..semoga bisa mendesak PEMDA untuk bertindak dalam waktu singkat..dan syukur kalau sudah ada dalam APBD 2015.

  4. Memang harus di benahi pelayanan rumah sakit ruteng mungkin selama ini banyak yang diam,kraeng efrem coba jangan pkai croscek lagi lah terima aja kalau pihak rumah sakit ruteng sudah lalai..

  5. Untuk krqeng macan: kita juga mesti lihat secara obyektif,anda punya bukti apa soal kelalaian RS? Banyak kasus kebidanan dan kandungan yang ditafsir secara salah paham oleh masyarakat. Salah satu contoh,kasus IUFD (IntaUterine Fetal Death) atau kematian janin dalam rahim. Pasien (ibu yang sedang mengandung janin) dirujuk dari puskesmas karena denyut jantung janinnya tidak terdengar.tiba di UGD, psien ibu ini diperiksa lagi denyut jantung janinnya, dan memang benar sudah tidak ada, lalu dikonfirmasi dengan USG, dan ternya denyut jantungnya memang tidak ada,artinya isi IUFD. Kadang keluarga pasien yang mengalami ikatan emosi yang sangat dekat dengan pasien menyimpulkan ini kelalaian dokter atau prosedur, tapi nyatanya memang pasien dirujuk dalam keadaan jantung janinnya sudah tidak ada.apa masih tepat untuk menyalahkan dokter atau prosedur di RS?apakah ini kelalaian RS? Itu yang saya maksud mesti dicrosscheck dlu kraeng macan, agar kita sama2 tahu kasusnya seperti apa.jangan asal ngomong

  6. Kraeng efrem,mungkin miss komunikasi,kurang tahu info yg sebenarnya ttg fakta yg terjadi,tapi sayangnya krn tidak bisa ngobrol dgn leluasa krn sy ada di jawa barat,mudah2an juli bisa pulang.kalau karena efrem tidak keberatan inbox nomor hp.

  7. Kraeng efrem ralat,meninggal 21 desember,bukan 28 desember.ya sebenarnya tidak perlu diperdebatkan,hanya sangat diharapkan ke depannya utk tindakan yg cepat dan tepat shg zero complaint

  8. Kalau ada wktu sy bisa diskusi dgn karawang memgenai kronologis yg terjadi pada adik sy,malam sebelumnya detak jantungnya msh normal setelah diinduksi 2x pagi jam dinyatakan passed away.

  9. Bukan untuk diperdebatkan, perbaikan demi kepuasan bersama, baik pengguna jasa maupun pelayan rumah sakit apapun atributnya, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar karena manusia tidak ada yang sempurna, tapi perlu mendengar orang lain demi kesempurnaan, mari sempurnakan pelayanan kita masing – masing ditempat kita bekerja agar pihak yang merasakan pelayanan kita merasa nyaman dan puas dan bisa menjadi sehat karena layanan ( SENYUM ITU OBAT YANG PALING MANJUR)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini