Siloam Bangun Rumah Sakit, Bagaimana Nasib RSUD Labuan Bajo?

2
3676

 

RS SiloamLabuan Bajo, Floresa.co – PT Siloam International Hospitals Tbk tahun 2015 ini  mulai membangun rumah sakit di kota Labuan Bajo, Kabupaten Mangarai Barat-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Direncanakan 15 Januari nanti  peletakan batu pertama (ground breaking) proyek senilai kurang lebih Rp 200 miliar itu.

Rencana perusahaan milik Lippo Grup itu boleh jadi merupakan kabar gembira bagi sebagian masyarakat kota yang merupakan pintu gerbang memasuki Taman Nasional Komodo itu. Pasalnya, meski sudah sejak 2003 menjadi kabupaten definitif, Manggarai Barat belum juga memiliki rumah sakit.

Masyarakat yang sakit dan tidak bisa dilayani di Puskesmas, terpaksa harus dilarikan ke Ruteng atau bagi yang punya cukup uang harus ke Denpasar atau Jakarta. Sedangkan, bagi yang tak mampu, terpaksa harus pasrah pada kehendak Tuhan.

Tapi kehadiran korporasi swasta untuk membangun rumah sakit di kabupaten dengan mayoritas masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah ini sekaligus memunculkan pertanyaan. Apakah nanti rumah sakit Siloam bisa melayani masyarakat yang tak mampu?

Sebagai sebuah korporasi, apalagi sudah tercatat sebagai perusahaan publik (listed company), Siloam yang di Bursa Efek Indonesia sahamnya memiliki kode SILO, tentu 100 persen berorientasi mencari laba (profit oriented). Akankah masyarkat dari kampung-kampung di pelosok Manggarai Barat mempu membayar ketika dirawat di rumah sakit tersebut?

Untungnya, Direktur dan Sektretaris PT Siloam Internarnational Hospitals Tbk Sugianganto Budisuharto sedikit memberikan jawaban. Ketika dihubungi pada Selasa (6/2/2015), dia mengatakan nantinya RS Siloam di Labuan Bajo ini bisa melayani pasien yang menggunakan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). “Mayoritas untuk (pengguna) BPJS,” tandasnya.

Tapi, tetap itu bukanlah jaminan bahwa RS Siloam kelak akan bisa melayani semua lapisan masyarakat di Mabar. Karena itulah, Pemda Mabar harus tetap membangun rumah sakit sendiri.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Mabar, Flores, NTT, Aleks Saryono mengatakan, Pemda akan tetap membangun rumah sakit umum yang bisa melayani masyarakat dari lapisan bawah.

“Kalau Siloam ini kan swasta, yang akan membangun rumah sakit dengan kelas internasional. Pemda juga wajib melayani kepenting masyarkat umum. Nanti masyarkat yang mampu bisa masuk ke Siloam tapi bagi yang tidak mampu di rumah sakit pemerintah,” ujarnya saat dihubungi Kamis (8/2/2015).

Aleks mengatakan, anggaran untuk pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) itu sudah disiapkan di APBD 2015 yaitu sebesar Rp 11 miliar. Dia mengakui anggaran itu terbilang kecil.

“Pembangunannya bertahap,” ujarnya.

Pemda, kata Aleks akan mendesain ulang rencana pembangunan RSUD tersebut. Karena menurutnya desain yang sebelumnya pernah dibuat sudah tidak sesuai lagi. “Tempatnya tetap di Marombok,”ujarnya.

Untuk tahap awal, kata dia, akan dilakukan lelang untuk desain rumah sakitnya. Nantinya, dari desain itu, akan diketahui berapa total anggaran yang dibutuhkan untuk membangun rumah sakit tersebut. (PTD/Floresa)

Advertisement

2 Komentar

  1. Sebelum menulis berita ini, PTD/Floresa sepatutnya mempelajari dulu bahwa siapa saja penduduk Indonesia dapat menjadi pemegang kartu BPJS. Sehingga berita ini menjadi benar adanya. Artinya BPJS tidak memisah-misahkan lapisan penduduk. Bahkan penduduk miskin pun dapat memegang kartu BPJS. Oleh karena itu RS Siloam juga mengobati siapa saja pemegang kartu BPJS, tanpa memandang lapisannya. Saya sekeluarga pemegang kartu BPJS, demiukian pula keluarga-keluarga lainnya di seluruh Indonesia. Kami dan Mereka dapat berobat di RS Siloam ditempaytnya masing-masing kalau memang Puskesmas merujuk RS Siloam sebagai tempat pengobatannya.

  2. Apkah kmampuan unk msuk siloam it,bisa hanya dngan menganalisa gmbar sja sh66a bza lolos, apkh kemampuan yg trkait dn playan trhadap pzien tdk d btuhkn

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini