Tak Ada Jembatan Permanen, Warga di Lamba Leda Menyeberang Lewat Jembatan Bambu

4
812
Seorang warga menyeberang di Sungai Wae Laing lewat jembatan bambu (Foto: Ardy Abba/Floresa)
Seorang warga menyeberang di Sungai Wae Laing lewat jembatan bambu (Foto: Ardy Abba/Floresa)

Benteng Jawa, Floresa.co – Musim hujan kini sudah tiba, debit air di sejumlah sungai di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT) pun meningkat. Salah satunya Sungai Wae Laing di Kampung Lompong, Desa Golo Lembur, Kecamatan Lamba Leda.

Lantaran tidak dibangunnya jembatan Wae Laing oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Matim, warga setempat terpaksa membuat jembatan dari susunan beberapa bambu panjang, agar bisa melewati sungai itu saat musim hujan.

Sungai Wae Laing membelah ruas jalan utama penghubung Benteng Jawa menuju Lamba Leda Timur dan Kecamatan Sambi Rampas.

“Kalau banjir pak, terpaksa kami harus lewat di jembatan bambu ini. Jalannya pelan-pelan saja jangan sampai jatuh karena bambunya licin,” kata Rius Rampung seorang warga asal Lompong saat dijumpai Floresa.co di Wae Laing, Jumat (02/01/14).

Kata Rius, jembatan Wae Laing sangatlah penting sebab ada beberapa siswa  asal Lompong yang sekolah do SMP Satu Atap Lengko Tegol dan tiap hari melintasi Sungai Wae Laing. Anak-anak sekolah, jelasnya, berjalan kaki dari kampung itu dengan jarak dua kilo meter menuju sekolah itu.

“Kami terpaksa membuat jembatan bambu ini agar anak-anak sekolah bisa ke sekolah setiap musim hujan. Jika banjir, sungai Wae Laing sangat besar,” ungkap Rius.

Sebenarnya, pemerintah daerah sudah merintis pembangunan jembatan permanen. Ini terlihat dari adanya fondasi utama setinggi kurang lebih tujuh meter. Dua fundasi itu dibangun pada tahun 2007, saat Manggarai Timur belum dimekarkan dari kabupaten induk, Manggarai.

Namun, pantauan Floresa.co, dua fundasi itu sudah diselimuti lumut tebal dan sudah mulai keropos.

Beberapa warga yang enggan menyebutkan namanya mengaku, beberapa kali mereka mengusulkan agar pengerjaan jembatan itu kembali dilanjutkan, namun belum direspon pemerintah.

Daerah Lamba Leda Timur, sebut mereka, merupakan salah satu daerah penghasil komoditi terbesar di kecamatan itu.

Warga mengalami kesulitan melintas menjual hasil-hasil komoditi mereka saat musim hujan ke Benteng Jawa, sebab jembatan Wae Laing tak kunjung dibangun.

“Kami sangat mengharapkan agar pemerintah segera mengerjakan jembatan Wae Laing ini,” sebut mereka.

Hingga berita ini diturunkan pihak DPRD Matim dan pemerintah belum berhasil dihubungi untuk meminta tanggapan terkait keluhan dan harapan warga.(PTD/Floresa)

Advertisement

4 Komentar

  1. Coba uang 400 juta yang dipakai Pemda Matim untuk beli mobil Pajero Sport – yg kemudian diberikan kepada Polres Manggarai itu – dipakai untuk bangun jembatan ini

  2. Itu sudah, demi cari aman bupati tak hiraukan pembangunan spt jembatan wae laing

  3. sya setuju denga statemen dari Bapa PAUS dulu bahwa para koruptor seharusnya ditrbangkan di samudra luas lalu di buang disna, khususnya pemerintah matim yg koruptor yg notabene adalah pemerintah yg menganut agama katolik, jadi jangan di biarkan koruptor merajalela di kab matim.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini