Di Flores, Biara Menjamur: Tapi, Apa Dampaknya untuk Umat?

3
1741

tanda tanya

Oleh: GREGORIUS AFIOMA

Melihat banyaknya universitas yang didirikan dan dikelola oleh kongregasi religius di Filipina, dalam hati saya muncul pertanyaan demikian, “Bagaimanakah wajah negara ini jika tanpa kehadiran para misionaris dan kongregasi religius ini?”

Di negara bermayoritas Katolik ini, dunia pendidikan adalah salah satu perhatian terbesar dari biara-biara. Dari sekian banyak universitas, beberapa di antaranya yang terkenal adalah Universitas Santo Tomas yang dikelola oleh Dominikan, Universitas Anteneo De Manila dimiliki oleh Yesuit, Universitas De la Salle dimiliki para biarawan De la Salle. Sementara sekolah menengah pun tak kalah banyaknya. Semua itu tersebar dari utara sampai selatan Filipina.

Yang saya kenal cukup baik lingkungan kampusnya adalah Universitas Saint Louis, sebuah universitas yang terletak di utara Filipina. Dengan jumlah mahasiswa sekitar tiga puluh enam ribuan sekarang ini, universitas yang disebut “Light of the north” tergolong sebagai universitas terbesar di utara dan termasuk lima besar dalam urutan nasional.

Kehadirannya tak terlepas dari buah karya misionaris CICM yang berusaha membangun Sumber Daya Manusia (SDM) di bagian utara Filipina. Dulunya penduduk di sana dipandang sebagai suku-suku primitif lantaran kondisi pegunungan yang tak memungkinkan mereka dikatolikkan oleh Spanyol dan misionaris awal. Lalu sekitar seratus tahun lalu, para misionaris CICM berani bermisi di sana sekaligus membuka sekolah-sekolah.

Pujian “Light of the north” memang layak kepada universitas ini. Ketika merayakan seratus tahun kehadiran misionaris CICM beberapa tahun lalu di kota Baguio dimana kampus ini terletak, ada begitu banyak alumni dalam beragam profesi datang. Para dokter, insinyur, pengacara, pebisnis, dan bermacam profesi lainnya mengungkapkan rasa syukur bersama di kota yang sebesar kota-kota kabupaten di Flores.

Lebih mengesankan, mereka melihat dirinya sebagai perpanjangan tangan karya misi dari para misionaris CICM di kota-kota dan kampung-kampung lain di utara. Itu adalah hiburan bagi misionaris CICM di tengah fakta bahwa jumlah para misionaris semakin menurun dari tahun ke tahun.

Tentu saja komitmen biara-biara sejak awal kehadirannya untuk membuka pendidikan yang terbuka pada ilmu-ilmu profan demikian merupakan sesuatu yang patut diapresiasi sedalam-dalamnya. Bagi pemerintah Filipina, ini merupakan sumbangsih yang sangat signifikan bagi kemajuan negara tersebut.

Manakah Yang Diprioritaskan?

Sebaliknya bagi saya kenyataan demikian menjadi suatu cermin untuk berefleksi. Berasal dari Flores yang juga telah bermayoritas Katolik dan telah dihadiri banyak kongregasi religius, saya tidak bisa mengelak dari tendensi untuk membanding-bandingkan.

Sejauh manakah biara-biara di sana telah memprioritaskan kemajuan SDM dalam kesaksian iman di bidang pendidikan di Flores?

Bahwa pendidikan menjadi perhatian utama oleh kaum biarawan-biarawati, kita bisa melihat dari tersebarnya seminari-seminari dari Manggarai sampai Larantuka. Hampir di setiap kabupaten terdapat seminari menengah. Juga beberapa sekolah menengah didirikan oleh kongregasi religius tertentu, bahkan menyiapkan fasilitas asrama.

Tentu saja kita berbangga bahwa dari sekolah-sekolah yang biasanya dilengkapi asrama tersebut banyak yang telah berhasil dan menggeluti berbagai profesi dalam bidang kehidupan. Bahkan di level nasional, banyak wartawan, dosen, pendidik, dokter, politisi, dan menteri adalah lulusan dari sekolah-sekolah tersebut.

Akan tetapi terlepas dari jasa baik itu, fakta bahwa begitu mendominasinya seminari-seminari dan tak adanya universitas yang menyediakan bidang-bidang profan seperti kedokteran, teknik, hukum, dan lain sebagainya, ada sebuah kesangsian kecil yang timbul.

Apakah komitmen kongregasi religius terhadap kemajuan SDM melalui bidang pendidikan adalah prioritas utama atau tidak?

Sekurang-kurangnya dominasi seminari sudah memperlihatkan kesan wajah pendidikan berciri partiarkal. Hal itu seolah-olah merepresentasikan wajah hierarki gereja yang berciri partriarkal. Maka tak heran bila ada kesan bahwa pendidikan dibangun untuk “memenuhi” permintaan hierarki gereja yang patriarkal juga tak terelakan. Secara tidak langsung, hipotesa demikian disepakati oleh kenyataan banyaknya kaum religius berasal dari Flores.

Sementara kalau menengok perguruan tinggi, kita justru hanya akan menemukan beberapa sekolah tinggi ilmu pastoral dan sekolah tinggi filsafat dan teologi di Maumere dengan peminatnya yang begitu banyak. Untunglah, beberapa tahun terakhir, STKIP Ruteng, misalnya, telah membuka beberapa bidang pendidikan seperti Bahasa Inggris, matematika dan kesehatan meskipun untuk menyandang status universitas, masih menjadi urusan yang sulit.

Bertolak dari kenyataan tersebut, pendidikan sebagai jalan untuk menyentuh umat Allah seluruhnya sebagaimana di Filipina memang terkesan menjadi pilihan yang kedua, bukan utama. Pendidikan untuk mengarahkan kepada “panggilan” hierarki masih amat dominan.

Alasan demikianlah yang mengantar kita pada fakta bahwa di seminari-seminari terjadi kebijakan yang “mengarahkan” pilihan siswa. Bagi saya, aturan seminari menengah, seperti di Seminari Pius XII Kisol – tempat saya menempuh SMP-SMA – adalah salah satu contoh. Kalau seorang siswa tidak melamar ke seminari tinggi, ia disuruh mengundurkan diri sejak kelas dua SMA, sebuah pilihan yang tak mudah bagi anak usia belasan tahun.

Selain itu, dalam beberapa dekade terakhir, banyak kongregasi religius tersebar begitu banyak di beberapa kabupaten. Kesan memanen “panggilan” tak bisa ditutup-tutupi. Bahkan daripada percaya pada “penyelenggaraan ilahi” dan membangun usaha yang lebih humanis seperti melalui pendidikan, biara tertentu bisa memilih untuk berbisnis seperti membuka pangkalan bensin.

Pertanyaan Kecil

Di satu pihak kenyataan demikian patutlah kita syukuri dan banggakan. Kita berbangga bahwa di tengah merosot tajamnya jumlah kaum biarawan-biarawati dari benua Eropa, kita bisa berkontribusi untuk keberlangsungan gereja universal.

Di lain pihak, jumlah kaum religius yang melimpah di tengah isu-isu tak sedap di NTT seperti gizi buruk, korupsi, dan kemiskinan mendatangkan suatu pertanyaan tersendiri.

Bukankah sejak awal kita juga membutuhkan banyak dokter dan tenaga perawat berhadapan dengan persoalan gizi buruk dan tingginya angka kematian? Seharuskah kita mengundang para ilmuwan dari Bandung untuk meneliti krisis kekurangan air di Ruteng yang ramai dibicarakan baru-baru ini, seandainya ada sebuah universitas terkemuka di Flores yang membuka jurusan teknik? 

Syukurlah bahwa sejak lama peminat untuk merantau ke tanah Jawa demi menggeluti pendidikan seperti kedokteran, perawat, hukum, dan teknik tak kurang jumlahnya. Merekalah yang juga telah berjasa banyak bagi kemajuan di Flores sampai sekarang.

Betapapun demikian, sebuah pertanyaan yang menggema dalam batin, “Bagaimanakah wajah Flores kalau sejak awal pendidikan berprioritas menyapa umat Allah seutuhnya?”. Pertanyaan itu tentu saja bergema di antara rasa terima kasih dan sebuah penyesalan kecil.

[infobox style=”alert-success”]Gregorius Afioma adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Pemuda yang menempuh pendidikan menengah di SMP dan  SMA Seminari Pius XII Kisol-Manggarai Timur ini pernah studi di Filipina[/infobox]

Advertisement

3 Komentar

  1. pendidikan berbasis katolik di filipina di bawah naungan pemerintah katolik juga,
    sedangkan pendidikan berbasis katolik di indonesia ( berada di bawah naungan pemerintah non katolik ) ni harus di pahami, jng samakan filipina dng indonesia, akan tetapi ini juga menjadi masukan untuk pendiri pendidikan berbasis katolik,
    ini super sekali

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini