Obituari: Pastor Remi, Imam SVD Asal Manggarai Itu Meninggal di Jakarta

0
2414
Pastor Remigius Ismail Sene SVD
Pastor Remigius Ismail Sene SVD
Pastor Remigius Ismail Sene SVD

Floresa.co – Pastor Remigius Ismail Sene SVD yang berasal dari Ruteng, Kabupaten Manggarai-Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal Sabtu (20/12/2014) pukul 19.30 WIB karena serangan jantung.

Gembala kelahiran Ruteng, pada 10 Agustus 1959 ini yang terakhir bertugas sebagai Pastor Paroki St Yosef Matraman, Jakarta mengehembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta Pusat.

Sebagaimana dilansir soverdisurabaya.org, Pastor Remi menjalani novisiat SVD sejak 1 Agustus 1979 dan mengikrarkan kaul pertama di Ledalero, Maumere pada 1 Agustus 1981. Profesi kekalnya pada 1 Agustus 1986, juga di Ledalero, serta ditahbiskan jadi diakon pada 29 Januari 1987.

Pastor Remi ditahbiskan jadi imam pada 27 Juni 1987 di Ruteng dengan motto “Kepada-Nya Kami Menaruh Harapan”.

Sejak ditahbiskan, ia menjadi anggota SVD Provinsi Jawa. Dalam periode pelayanan, ia pernah bertugas sebagai Pastor Paroki Sorong – Papua (1987-1993), Praeses Soverdi Jogjakarta (1993-1995), Pastor Paroki Dolog Sanggul – Sumatera Utara (1995-2002), Pastor Paroki Gembala Yang Baik Surabaya (2002-2007), Pastor Paroki Pademangan, Jakarta Utara dan terakhir Pastor Paroki St Yosef Matraman.

Misa  requiem untuk Pastor Remi sudah berlangsung Minggu pagi tadi pukul 08.30 di Aula Marsudirini, Matraman yang dipimpin oleh Uskup Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo.

Sore ini, pukul 18.00 akan digela misa tutup peti, di mana umat asal Manggarai di Jakarta diundang hadir. Misa akan dibuat dalam nuansa inkulturasi, dengan kor dari buku lagu Manggarai Dere Serani dan kostum pakaian adat Manggarai.

Gerard Bibang, adik kelas Pastor Remi di Seminari Kisol dan saat kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, menulis eulogi tentang imam ini, yang ia lukiskan sebagai “biarawan SVD Manggarai yang selama hidupnya berwarta lantang bahwa hidup ini sejatinya adalah sebuah kegembiraan”.

“Dan bahwa Sabda Allah haruslah pertama-tama diwartakan sebagai sebuah Khabar Gembira untuk semua,” tulis Gerard.

Berikut tulisan Gerard yang rencananya akan dibacakan dalam Misa tutup peti, sore nanti.

BUAT SAJA

Keluarga Serikat Sabda Allah yang berduka, Umat Allah yang turut berduka dan Pater Remi yang terkasih.

Gagu dan lidah kelu. Begitulah perasaan saya ketika semalam mendapat khabar tentang kepergianmu. Setelah melihatmu terbaring kaku di ruang transit rumah duka St Carolus dan turut memandikanmu utk yang terakhir kali, dengan tetesan air mata yang mengguyur pipi hingga dagu, barulah saya sadar akan dua hal penting.

Pertama, engkau telah pergi tanpa arah kembali. Hidup dan mati telah engkau lewati bagai permainan akrobatik. 55 tahun usiamu telah engkau tuntaskan melalui kematian mulus, tanpa komplikasi dan hanya berlangsung kurang dari hitungan jam.

Kedua, saya kehilangan seorang biarawan SVD Manggarai yang selama hidupnya berwarta lantang bahwa hidup ini sejatinya adalah sebuah kegembiraan dan bahwa Sabda Allah haruslah pertama-tama diwartakan sebagai sebuah Khabar Gembira untuk semua.

Jangan Tanya

Saya mencatat dua peristiwa gembira dengan Pater Remi. Peristiwa gembira pertama: Bukit Ledalero medio 80-an. Berbeda dengan pengenalan saya waktu di Seminari Kisol, karena Remi dua tahun di atas saya, di Ledalero, Freter Remi dimasukkan dalam golongan orang yang disebut: jangan tanya benar atau salah. Artinya: kalau dia bercerita, tidak usah ditanya benar atau tidaknya cerita itu. Di mana dia ada, di sana ada ceria.

Selain itu, frater Remi dikenal karena komunikasi verbalnya yang piawai. Dengan menjadi biarawan Sabda Allah, di mana SABDA menjadi inti spiritualitasnya, Remi sadar betul bahwa KATA adalah kekuatan. Word is powerful! Tak heran, Remi fasih berbahasa Sikka, hampir sama fasih dengan bahasa ibunya: curup manggarai. Karena itu, kemampuan bertutur atau story telling-nya sangat menonjol, jauh sebelum dia mengikuti kuliah Katakese tentang metode2 pewartaan. Dengan kemampuan verbal inilah, Remi berwarta tentang kegembiraan.

Begitulah misalnya ketika dia mengajar agama katolik di SMP Koting, di salah satu hari Kamis, Frater Remi dengan lincah bercerita tentang perikop perjumpaan Yesus dengan Zakeus. Tapi ada yang lain saat itu. Semua siswa diam. Ternyata dalam awal ceritanya Frater Remi berkata:“Anak2, begitu Yesus masuk kota, dia lihat ada satu orang duduk di atas pohon. Yesus bilang: Hai Petrus..”. Semua anak diam. Kemudian satu anak tanya: “bukan Petrus, frater.” Langsung Frater Remi jawab: “Kau tunggu dulu ka. Belum selesai. Begini ceritanya: Yesus bentak: Hai Petrus…kau ini kenapa kau duduk di situ…itu kan tempat duduknya Zakeus. Turun cepat! Kau ini tidak tahu diri! Sudah tua begitu mau naek pohon lagi. Turun, turun!” Semua anak tertawa…! Ketika ditanya lagi “Zakeus di mana frater,” dia jawab: “Padahal Zakeus ada di dekat Yesus. Orangnya pendek. Yesus bilang begini: Oee Zakeus, kau pendek sekali ko. Banyak2 minum susu sapi e supaya cepat tinggi.”

Rupa-rupanya cerita Zakeus adalah perikop favorit frater Remi. Ini terjadi saat dia menjalankan praktek TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di  Kalimantan Timur: Tenggarong dan Tanjung Isuy. Ketika dia patroli ke pedalaman dan pelajaran agama diisi oleh pastor paroki, pastor bertanya:“anak-anak, sampai di mana minggu lalu?” Anak-anak ramai menjawab: “Zakeus pergi ke pasar membeli daging untuk menjamu Yesus di rumahnya.” “Oh begitu ka,” jawab pastor terheran-heran. “Zakeus beli daging apa. Ada yang tahu?,” tanya pastor.  Ramai-ramai anak menjawab: “Tidak tahu, pastor.” Akhirnya pelajaran dilanjutkan. Pastor paroki memaklumi saja karena begitulah Frater Remi punya gaya cerita yang kreatif (lihat: Imamat 25 Tahun & 60 Tahun: P.Remigius Sene SVD, P.Aloysius Luis Diaz, SVD: Jakarta, 2012: hlm 25)

Jujur Pater Remi, saya sendiri cekikian ketika menulis eulogi ini tadi. Neka rabo (=Maafkan!) Tapi saya yakin engkau sendiri ikut tertawa dari sebelah sana, dan pasti engkau bilang: “aeh kau ini, dasar muka suka ngarang.”

Buat Saja

Saya yakin lucu-lucu atau joak yang dilakukannya bukanlah lucu atau joak an sich. Dia men-joak bukan untuk joak itu sendiri. Humor adalah strategi pewartaan bahwa hidup ini adalah sebuah kegembiraan. Keyakinannya ini, menurut saya, dia bangun bukan karena dia membaca buku teologi atau mengikuti kuliah eksegese bersemester-semester tetapi karena lahir dari spiritualitas Manggarai yang disebut: Ta de pande kaut! Buat saja, Just do it. Mach mal was!. Darah Manggarai sudah mengalir ke dalam nadinya dan menjadi daging dalam tubuhnya.

Ta de pande kaut adalah spirit Manggarai di mana kesempurnaan bukanlah ideal seorang manusia tetapi sebuah determinasi tanpa pretensi, sebuah upaya terus-menerus untuk membuat yang lebih baik dan mencobakannya dalam praktek. Ta de pande kaut menegaskan agar dengan talenta yang ada, seorang manusia melakukan yang optimal bagi kemungkinan yang lebih baik, bagi dirinya dan terlebih bagi yang lain.

Dari segi ini, bagi Pater Remi, hidup adalah praksis. Pendidikan adalah praksis. Cinta kepada manusia adalah sebuah praksis. Berkhotbah dan berdoa adalah praksis. Dagang adalah praksis. Amarah dan tawa-ria adalah praksis. Meditasi, brevir, kunjungan lingkungan adalah praksis. Termasuk  buat Rosario, hobi beliau sejak di Kisol hingga Sabtu sore di Pastoran Santo Yosef Matraman menjelang kematiannya,  adalah praksis. Kalau pada satu saat Pater Remi berteori tentang khotbah, maka di sana ia hanya menguji sebuah praksis dengan sebuah praksis lainnya.

Berbagi

Perstiwa gembira kedua yaitu Pademangan tahun 2012. Saya lupa tanggalnya tapi peristiwanya saya ingat: pesta perak imamat Pater Remi.

Bukan misa, bukan banyaknya umat yang hadir. Tapi perjamuan massal di halaman gereja, sesudah misa. Sungguh suatu hal yang hanya dulu terjadi di Manggarai saat terjadi pesta adat, di mana orang sekampung duduk makan bersama di halaman atau di kebon. Tapi kali ini saya saksikan di ibukota metropolitan Jakarta. Sebuah kegembiraan massal pada perjamuan massal. Yang hadir pun lintas golongan dan agama.

Setelah saya interview beberapa umat, ternyata benang merah jawaban sama: Pater Remi sudah memberi banyak. Yah, pater Remi adalah orang yang berbagi. Tentang hal ini, bukti sudah terlalu banyak. Hidupnya bertahan selama 55 tahun hanya dengan cara berbagi.

Bagi saya, sebagai biarawan SVD Manggarai, hidup Pater Remi yang saling berbagi itu adalah praksis langsung dari spiritualitas kemanggaraian yaitu anggom agu rangko yang maknanya:intensif, inklusif, komprehensif, atau yang dalam istilah sekarang: berpikir holistik agar menjadi manusia yang merangkum semua dan berbuat baik serta berguna untuk semua.

Dengan spirit anggom agu rangko, Pater Remi menjadi seorang beriman yang memiliki kebebasan, yang mengembara ke mana-mana, berjumpa dengan siapa saja dari golongan mana saja dari berbagai kelas sosial demi pencarian bersama akan kebenaran dan demi realisasi bersama akan kebaikan. Di mana saja dia bekerja, di sana adalah saudaranya.

Inilah spiritualitas anggom agu rangko yang memandang dunia dengan gembira tanpa prasangka, tanpa kekangan dan kecurigaan dangkal,  yang memandang memandang hidup selalu mulia dan tidak pernah hina, yang memandang seni selalu indah, yang memandang kata adalah puisi indah bagi Tuhan.

Inilah spiritualitas anggom agu rangko, yang memandang manusia sebagai mahluk yang penuh bakat, yang menerabas segala utopia picik, demi menjadi manusia manggarai yang membumihingga tubuh fana ini dikembalikan ke rahim bumi.

Selamat jalan Pater Remi. Bergembiralah dalam SANG SABDA. Di sana tidak ada lagi joak dan lucu2. Yang ada hanyalah gembira, selama-lamanya.

LAKO DI’A-DIA GA*. SAMPAI JUMPA DI SURGA. (ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini