Dituding Pemicu Gagal Panen, Ini Penjelasan Kades Compang Wesang

0
713
Gambar ilustrasi gagal panen (Foto: Ist)
Gambar ilustrasi gagal panen (Foto: Ist)
Gambar ilustrasi gagal panen (Foto: Ist)

Floresa.co – Tudingan warga di Kampung Wesang, Desa Compang Wesang bahwa Kepala Desa Kornelis Mancung menjadi pemicu gagal panen di Lingko Geleng, salah satu area persawahan di Kampung Wesang mendapat respon dari Kornelis.

Sebelumnya warga mengatakan, padi mereka yang sedang berbunga akhirnya tidak bisa dipanen, karena secara sepihak Kornelis melakukan perbaikan bendungan, tanpa sebelumnya mengadakan sosialisasi. (Baca: Akibat Ulah Kepala Desa, Petani di Desa Compang Wesang Gagal Panen)

Ketika dikonfirmasi, Sabtu (20/12/2014), meski mengakui dampak buruk tindaknnya, Kornelis mengatakan, itu bukan satu-satunya pemicu.

Ia mengatakan, gagal panen juga terjadi karena musim kering yang melanda desa itu dan Manggarai pada umumnya beberapa bulan lalu.

Kata Kornelis, proyek irigasi bendungan Wae Lawar itu secara terpaksa dijalankan lantaran proses tender di pemerintahan kabupaten Manggarai Timur dilakukan pada Oktober lalu.

Apalagi, kata dia, lokasi proyek irigasi Wae Lawar rawan macet saluran air sehingga perbaikan tidak bisa tertunda lagi dan harus mengikuti waktu penetapan pengerjaan.

“Mau tolak lagi ini proyek kan tidak bagus to! Karena saya setengah mati mengusulkan proyek ini. Memang warga sempat mengusulkan dengan saya, tetapi kabupaten (Manggarai Timur) sudah keluar tendernya pada bulan Oktober,” kata Kades Kornelis kepada Floresa.co.

Ia mengakui, pengerjaan irigasi yang bersumber dari APBD Manggarai Timur itu hanya dilakukan tiga Minggu sehingga air tidak mengairi persawahan di Lingko Geleng selama pengerjaan saja.

Apalagi, klaim dia, banyak warga yang sudah rela gagal panen sehingga ia melanjutkan pengerjaan proyek irigasi Wae Lawar.

“Hanya sekarang, air tidak jalan karena longsor dan dananya terbatas,” katanya.

Sebagaimana dilapokan Floresa.co, warga di Wesang kecewa pada Kornelis, yang tidak melakukan sosialisasi terkait pengerjaan proyek tersebut.

“Sejak itu tidak ada air yang mengalir ke sawah kami. Padi yang sedang berbunga pun mati semua”, kata Hery Hasman, Ketua Kelompok Tani Lingko Geleng.

Lingko Geleng adalah salah satu area persawahan terbesar di Wesang dan banyak keluarga menggantungkan hidup ke lingko tersebut.

Petani lain dari Wesang yang minta namanya tidak disebutkan, mengatakan, kepala desa tampaknya acuh tak acuh dengan nasib mereka.

“Tiba-tiba saja proyek itu dibuat. Padahal, dia tahu, padi di Geleng sementara berbunga, akibatnya semua padi mati kekeringan,” katanya.

“Lebih mirisnya lagi, tidak ada usaha dari kepala desa untuk mengatasi persoalan ini. Kenapa proyek tidak dikerjakan setelah panen?”, lanjut petani ini.

Seharusnya, kata dia, kepala desa dan pimpinan proyek mengupayakan air tetap mengalir ke Lingko Geleng dengan pipa air atau saluran alternatif sehingga padi bisa tetap hidup.

Informasi yang dihimpun  Floresa.co,  warga Wesang mengeluhkan sikap Kades Mancung yang menurut mereka tidak pernah melibatkan warga Kampung dalam mengambil keputusan. (ADB/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini