Elit Politik Mabar Dikutuk di Media Sosial

0
631
Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat (Foto: blognyawido.files.wordpress.com)
Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat (Foto: blognyawido.files.wordpress.com)
Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat (Foto: blognyawido.files.wordpress.com)

Floresa.co – Rencana Pemda Manggarai Barat (Mabar) membagi Mabar menjadi 3 bagian mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai elemen masyarakat.

Sebelumnya, seperti yang diberitakan Floresa.co, elit politik di Mabar, misalnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Aleks Saryono mengatakan, Mabar tidak hanya ingin dimekar jadi dua kabupaten dengan membentuk Kabupaten Manggarai Barat Daya (MBD).

Bahkan Suryono mengklaim masyarakat mendukung rencana tersebut. Selain itu, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal NTT, Andre Garu, klaim Suryono, setuju dengan rencana itu, serta ikut dalam sosialisasi rencana pembentukan Kabupaten MBD.

Di media Sosila Facebook, rencana ini mendapat tanggapan yang dinilai tidak simpatik.

Berita dengan judul, “Pemda Mabar: Kita Ingin Bagi Mabar Menjadi 3 Kabupaten”, yang dibagikan oleh seorang facebooker dengan nama akun Arrio Jempau pada Senin, (15/12/14) ke salah satu grub facebook, “Suara Rakyat Manggarai Timur”, mendapat tanggapan yang semuanya mengutuk rencana elit politik Mabar tersebut.

Facebooker dengan nama akun Stanley misalnya, menanggapi dengan mengatakan bahwa Mabar belum dibangun dengan baik, maka tidak mendesak untuk dibagi menjadi 3 kabupaten. “Gilla, satu aja gak bisa urus, kapan majunya,……”, tulis Stanley.

Tanggapan lain datang dari akun dengan nama Morgan Maxy dan Telleno Muda. Mereka melihat ada motif busuk dari elit politik Mabar di balik usaha pemekaran Mabar menjadi tiga kabupaten ini.

“Tipu muslihat elit politik lokal untuk bagi2 kekuasaan dan atau mencari simpati menjelang pilkada tahun depan”, tulis Morgan.

Telleno Muda pun menyambung,“agar raja-raja kecil bermunculan”.

Selain itu, ada yang berkometar, entah karena alasan apa, tapi menunjukan kekesalah terhadap wacana ini.

Ata wedol”, tulis Mrzelj Flozela dan “asuuuuuuuu”, tulis Marcell Gunas.

Frasa “Ata wedol” adalah istilah dalam bahasa Manggarai, Flores, berarti orang gila. Sedangkan, kata “asu” juga dalam bahasa Manggarai yang artinya anjing.

Tidak berhenti di situ. Ada yang menganjurkan dengan nada sinis agar elit politik di Mabar tidak hanya membagi Mabar menjadi 3 wilayah, tetapi lebih banyak dari itu.

Sekalian aja bagi 10. Biar ada 10 bupati baru dan puluhan kepala dinas baru. Dan ratusan kepala bidang baru”, tulis Emanuel Porat.

Lalu, yang terakhir adalah komentar Yonci Adam Malik yang juga merasa kesal terhadap wacana ini.

“lebih bagu lg klo kepalanya dicincang-cincang jadinya banyak kepala”, tulis Malik.

Sebelumnya, Floresa.co juga memberitakan tanggapan Direktur Eksekutif Komite Pemantau Penyelenggara Otonomi Daerah (KPPOD), Robert Endi Jaweng terkait wacana pembentukan daerah otonomi baru di dalam Kab. Mabar. Endi  menegaskan bahwa membentuk kabupaten baru tidak bisa serta merta dianggap bakal memacu pembangunan sebuah daerah.

Endi mengacu pada hasil evaluasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 2012, di mana untuk Mabar yang merupakan pemekaran dari Manggarai pada 2003 rapornya masih merah. (ARJ/FLORESA).

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini