Diajak Ikut Jokowi yang Menolak Tunduk Buta Pada Atasan, Begini Cara Jawab Dulla

0
823
Bupati Mabar Agustinus Ch Dulla saat bertemu dengan para pemuda di Labuan Bajo, Selasa (16/12/2014) yang menolak privatisasi Pantai Pede. (Foto: Floresa.co)
Bupati Mabar Agustinus Ch Dulla saat bertemu dengan para pemuda di Labuan Bajo, Selasa (16/12/2014) yang menolak privatisasi Pantai Pede. (Foto: Floresa.co)
Bupati Mabar Agustinus Ch Dulla saat bertemu dengan para pemuda di Labuan Bajo, Selasa (16/12/2014) yang menolak privatisasi Pantai Pede. (Foto: Floresa.co)

Floresa.co – Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch. Dulla bisa belajar dari Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak taat buta terhadap Gubernur terkait rencana privatisasi Pantai Pede di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tahun 2011, ketika masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jokowi berselisih pendapat dengan Gubernur Jawa Tengah kala itu, Bibit Waluyo. Hubungan keduanya bahkan sampai memanas karena Jokowi menolak rencana pembangunan mall di atas lahan bangunan kuno bekas pabrik es Saripetojo.

Padahal, Gubernur Waluyo sudah memberi persetujuan pembangunan mall di lokasi tersebut.

Saat itu, Jokowi beralasan  pembangunan mall akan menggerus rezeki rakyat kecil yang sudah puluhan tahun berdagang di sekitar lokasi tersebut. Selain itu, bangunan bekas pabrik tersebut merupakan bangunan bersejarah yang layak dijadikan cagar budaya.

Sejumlah perwakilan komunitas muda di Labuan Bajo juga berharap agar Bupati Manggarai Barat bisa ikut teladan Jokowi terkait rencana Gubernur Frans Lebu Raya menyerahkan pengelolaan Pantai Pede ke investor swasta.

“Saya pikir kita punya contoh bagus dengan Jokowi di Solo. Berhadapan dengan Bibit Waluyo yang berencana privatisasi taman, dengan tegas dia mengatakan berada di barisan paling depan (menolak). Dan akhirnya dia berhasil,” kata Edward Angimoy dari komunitas Bolo Lobo kepada Bupati Dulla saat beraudiensi di kantornya pada Selasa lalu (16/12/2014).

Edward mengatakan, komunitas Bolo Lobo bersama komunitas orang muda lainnya di Labuan Bajo menolak keras rencana privatisasi Pantai Pede.

“Karena mau investasi macam apa saja, dilakukan oleh siapa saja kalau wataknya privatisasi maka itu akan mengorbankan kepentingan publik dan kepentingan kita semua,” ujar Edward.

Sayangnya, menjawab hal tersebut, respon Dulla di luar harapan kaum muda. “Mungkin beda ya, saya harus mengatakan bahwa Gubernur Frans Lebu Raya itu punya jasa besar terhadap Manggarai Barat ini. Tidak mungkin hanya karena Pede, saya harus mengeliminasi semua kebaikan dia terhadap Manggarai Barat ini, “ujar Bupati Dulla.

Dulla  pun merujuk acara Sail Komodo yang berpuncak di Labuan Bajo  tahun lalu sebagai salah satu contoh jasa besar Lebu Raya untuk Manggarai Barat.

Menurutnya, Sail Komodo memacu pembangunan infrastruktur di Manggaria Barat seperti pelabuhan udara, jalan-jalan aspal di dalam kota Labuan Bajo, pembanguan rumah sakit dan air bersih. Semuanya, itu kata, Dulla sebagai sesuatu yang luar biasa.

“Jadi jangan hanya karena Pede ini saya mendobrak. Bahwa perjuangan ini, kita sepakat berjuang untuk Pantai Pede, tapi tunjuk saya di depan untuk melawan gubernur, saya tidak mau mengelimir semua kebaikan yang sudah diberikan gubernur,” tandas Dulla. (PTD/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini